Rabu, 25 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Ibu Sering Marah? Bukan Galak, Bisa Jadi Karena Lelah Fisik dan Mental

Tata - Monday, 23 March 2026 | 07:35 PM

Background
Kenapa Ibu Sering Marah? Bukan Galak, Bisa Jadi Karena Lelah Fisik dan Mental

Kenapa Sih Ibu-Ibu Sering Berubah Jadi Naga? Bukan Galak, Mungkin Cuma Lelah Lahir Batin

Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya scrolling TikTok, terus tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara melengking yang getarannya sampai ke ubun-ubun? "SIAPA YANG NARUH HANDUK BASAH DI ATAS KASUR?!" Padahal, kalau dipikir-pikir, itu cuma handuk. Bukan bom waktu atau tumpahan merkuri. Tapi bagi seorang ibu, handuk basah di atas kasur adalah pemicu perang dunia ketiga.

Fenomena ibu-ibu yang gampang "meledak" atau sering marah-marah ini sebenarnya sudah jadi rahasia umum. Bahkan di media sosial, banyak konten parodi soal transformasi ibu dari sosok yang lembut saat pagi hari menjadi "naga" di sore hari. Tapi, pernah nggak sih kita benar-benar duduk diam dan mikir, kenapa sih ibu-ibu kita—atau mungkin kamu yang sekarang sudah jadi ibu—kok hobi banget marah? Apakah memang sudah bawaan orok, atau ada sesuatu yang lebih kompleks di baliknya?

Mental Load: Beban yang Nggak Kelihatan tapi Bikin Pundak Mau Copot

Jujur saja, masyarakat kita seringkali punya ekspektasi yang nggak masuk akal sama sosok ibu. Ibu harus sabar, harus bisa masak, harus bisa ngurus anak, harus tetap cantik, dan kalau bisa punya penghasilan sendiri. Ekspektasi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai mental load atau beban mental yang luar biasa berat.

Bayangin deh, seorang ibu itu kepalanya kayak browser Chrome yang buka 50 tab sekaligus. Tab pertama mikirin menu makan siang, tab kedua mikirin cicilan rumah, tab ketiga soal cucian yang belum kering, tab keempat soal tugas sekolah anak, dan tab-tab lainnya yang nggak habis-habis. Ketika salah satu tab itu "error"—misalnya anak numpahin susu atau suami lupa naruh kunci—maka sistemnya langsung crash. Nah, marahnya itu adalah cara sistem tersebut mengeluarkan uap panas supaya nggak meledak total.

Jadi, saat ibu marah karena hal sepele, biasanya itu bukan soal hal sepelenya. Itu adalah akumulasi dari rasa lelah yang sudah menumpuk berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tanpa ada waktu buat log out sejenak dari rutinitas.



Burnout Itu Nyata, Bukan Cuma Buat Pekerja Kantoran

Kita sering dengar istilah burnout di lingkungan kantor. Tapi tahu nggak? Parenting burnout itu jauh lebih ngeri. Kalau kerja di kantor, kita punya jam pulang, punya hari libur, dan ada tanggal merah. Tapi jadi ibu? Itu kerjaan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa cuti tahunan.

Kurang tidur adalah salah satu faktor utama kenapa ibu-ibu jadi "sumbu pendek". Coba aja kamu nggak tidur semalaman terus besoknya disuruh ngerjain kalkulus sambil digelayutin anak kecil yang lagi tantrum. Pasti pengen marah, kan? Ibu-ibu seringkali mengalami deprivasi tidur selama bertahun-tahun sejak anak lahir. Otak yang kurang istirahat bakal lebih sulit mengelola emosi. Walhasil, amarah jadi respon paling cepat yang keluar saat ada pemicu sekecil apapun.

Apalagi kalau lingkungan sekitarnya kurang suportif. Masih banyak yang menganggap kalau urusan rumah tangga itu murni tanggung jawab istri. "Kan cuma di rumah doang, masa capek?" Kalimat ini adalah trigger paling ampuh buat bikin tensi darah naik seketika. Kurangnya apresiasi bikin ibu merasa kesepian dalam perjuangannya, dan rasa kesepian itu seringkali bermetamorfosis jadi amarah.

Dampak "Mode Naga" ke Anak, Nggak Main-main Lho

Meskipun kita paham kalau ibu itu capek, kita juga nggak boleh tutup mata sama dampaknya ke anak. Sering dimarahi dengan nada tinggi apalagi kalau pakai kata-kata yang menyakitkan bisa bikin anak tumbuh jadi pribadi yang rendah diri atau malah jadi pemberontak. Anak itu peniru yang ulung. Kalau mereka sering lihat ibunya menyelesaikan masalah dengan marah-marah, mereka bakal mikir kalau emosi negatif adalah satu-satunya cara buat berkomunikasi.

Anak-anak yang sering kena semprot biasanya bakal punya defense mechanism yang unik. Ada yang jadi pendiam banget karena takut salah, ada juga yang malah jadi "kebal" sama omelan. Yang paling sedih, hubungan antara ibu dan anak bisa jadi renggang. Padahal, rumah seharusnya jadi tempat paling aman, bukan tempat yang bikin jantung deg-degan setiap kali dengar suara pintu terbuka.



Breaking the Cycle: Berhenti Jadi Sempurna

Buat para ibu di luar sana, please, dengerin ini: Kamu nggak perlu jadi ibu yang sempurna. Dunia nggak bakal kiamat kalau cucian numpuk sehari atau kalau anak makan mi instan sesekali. Seringkali, amarah muncul karena kita terlalu keras pada diri sendiri, pengen semuanya terlihat aesthetic kayak di Instagram, padahal realitanya ya berantakan.

Menurunkan standar dan belajar buat minta tolong itu krusial banget. Jangan merasa jadi "ibu gagal" kalau kamu butuh waktu buat me-time. Entah itu cuma sekadar ngopi sendirian di teras selama 15 menit atau pergi ke salon sebulan sekali. Ibu yang bahagia dan waras jauh lebih dibutuhkan oleh anak-anak daripada rumah yang kinclong tapi isinya teriakan setiap hari.

Buat para suami atau anggota keluarga lainnya, peka dikit lah. Jangan nunggu disuruh baru bantu. Ambil alih jemuran, cuci piring tanpa diminta, atau ajak anak main keluar supaya istri bisa tidur siang sebentar. Dukungan sekecil itu bisa menurunkan suhu emosi di rumah secara signifikan.

Marah itu manusiawi, kok. Tapi kalau marah sudah jadi menu harian, mungkin itu alarm kalau ada yang salah dengan manajemen stres atau pembagian peran di rumah. Yuk, mulai pelan-pelan buat lebih gentle ke diri sendiri. Karena pada akhirnya, yang anak-anak butuhkan bukan ibu yang tanpa cela, tapi ibu yang hadir dengan pelukan hangat dan senyuman yang tulus.