Kenapa Dokter Kandungan Banyak Laki-Laki? Ini Alasan dan Perkembangannya
Tata - Wednesday, 12 August 2026 | 07:45 PM


Dilema Ruang Tunggu: Kok Bisa Dokter Kandungan Malah Kebanyakan Bapak-Bapak?
Bayangkan kamu sedang duduk di kursi plastik rumah sakit yang dingin, menunggu antrean periksa kehamilan atau sekadar konsultasi masalah kewanitaan. Di layar monitor, nama-nama dokter berderet. Anehnya, dari sekian banyak nama Sp.OG yang muncul, mayoritas diawali dengan gelar 'dr.' yang ujung-ujungnya merujuk pada sosok laki-laki. Ada perasaan sedikit canggung yang hinggap, terutama buat kita yang baru pertama kali terjun ke dunia per-USG-an. "Lho, ini kan urusan 'bawah' ya, kok yang meriksa malah bapak-bapak?" Begitu kira-kira bisikan dalam hati yang sering muncul.
Fenomena ini sebenarnya unik kalau dipikir-pikir pakai logika tongkrongan. Ibaratnya, ini seperti montir bengkel yang nggak pernah punya motor, tapi jago banget bongkar pasang mesin. Dokter kandungan laki-laki mendalami organ yang mereka sendiri nggak punya. Tapi, kalau kita bedah lebih dalam, alasan kenapa posisi ini didominasi kaum Adam ternyata nggak sesederhana masalah gender doang. Ada sejarah panjang, tuntutan fisik yang bikin geleng-geleng kepala, sampai paradoks kenyamanan pasien yang sering kali di luar nalar.
Dulu, kalau kita tarik mundur ke zaman kakek-nenek kita masih muda, akses pendidikan kedokteran itu sangat eksklusif buat laki-laki. Sekolah kedokteran di masa lalu adalah 'boys club' yang kental banget. Spesialisasi Obgyn (Obstetrics and Gynecology) atau ilmu kebidanan dan kandungan punya reputasi sebagai bidang bedah yang berat. Karena stereotip kuno yang bilang laki-laki lebih kuat begadang dan punya fisik tangguh untuk operasi berjam-jam, akhirnya jalur ini lebih banyak diisi oleh mereka. Alhasil, dokter-dokter senior yang sekarang sudah punya jam terbang tinggi dan nama besar di rumah sakit kebanyakan adalah produk dari era tersebut.
Ngomongin soal fisik, profesi dokter kandungan itu sebenarnya nggak ada santainya sama sekali. Bayi itu nggak kenal jam kerja. Mereka bisa saja memutuskan untuk 'keluar' jam tiga pagi saat hujan badai, atau pas si dokter lagi enak-enaknya makan siang bareng keluarga. Nah, secara tradisional dan sosiologis (yang mungkin sekarang sudah mulai bergeser), laki-laki dianggap lebih fleksibel untuk meninggalkan rumah kapan saja tanpa harus mikirin urusan domestik yang ribet. Pola kerja 'on-call' 24 jam ini yang bikin banyak dokter laki-laki bertahan di jalur ini sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
Tapi, ada satu hal yang menarik banget kalau kita bicara soal preferensi pasien. Kamu mungkin mengira semua perempuan pasti lebih nyaman diperiksa dokter perempuan. Kenyataannya? Nggak selalu begitu, lho. Ada sebuah teori—atau mungkin lebih tepatnya curhatan kolektif—yang bilang kalau dokter kandungan laki-laki itu sering kali lebih lembut. Kenapa? Karena mereka nggak pernah merasakan sakitnya haid atau mulesnya kontraksi. Karena nggak ngerasain sendiri, mereka cenderung lebih 'extra careful' dan nggak gampang menyepelekan rasa sakit pasiennya.
Sebaliknya, ada stereotip (yang tentu saja nggak berlaku buat semua ya!) bahwa beberapa dokter perempuan terkadang sedikit lebih 'tegas' atau bahkan terkesan kurang empati karena mereka merasa, "Ah, saya juga perempuan, saya tahu rasanya dan itu biasa saja, nggak usah lebay." Fenomena psikologis ini bikin banyak ibu-ibu justru lebih sreg curhat ke dokter bapak-bapak yang dianggap lebih kalem dan penuh simpati. Ya, meski awalnya ada rasa risih bin canggung saat harus 'ngangkang' di depan lawan jenis, profesionalitas medis biasanya langsung menguapkan rasa malu itu dalam sekejap.
Selain itu, jangan lupakan faktor 'tangan dingin' dan teknis. Di mata pasien, terkadang reputasi seorang dokter nggak dilihat dari jenis kelaminnya, tapi dari seberapa rapi jahitannya pasca operasi caesar atau seberapa akurat predikasinya. Di Indonesia sendiri, banyak dokter kandungan laki-laki yang sudah jadi legenda di kalangan ibu-ibu karena pembawaannya yang tenang. Saat situasi darurat di ruang persalinan, ketenangan adalah kunci agar pasien nggak ikut panik. Dan entah kenapa, figur bapak-bapak sering kali memberikan rasa aman tersendiri, layaknya dilindungi oleh sosok ayah.
Namun, zaman sudah berubah. Kalau kamu perhatikan angkatan residen atau dokter muda yang lagi ambil spesialis di kampus-kampus sekarang, pemandangannya sudah beda total. Dokter perempuan mulai menyerbu bidang Obgyn. Kesadaran akan privasi dan kenyamanan pasien perempuan membuat permintaan akan dokter kandungan perempuan melonjak drastis. Kini, bukan hal aneh lagi melihat rumah sakit yang punya tim Obgyn full perempuan untuk mengakomodasi kebutuhan pasien yang ingin lebih 'aman' secara syariah maupun kenyamanan personal.
Jadi, kalau ditanya kenapa dokter kandungan kebanyakan laki-laki, jawabannya adalah campuran antara warisan sistem pendidikan masa lalu, tuntutan kerja yang brutal, dan dinamika psikologis antara dokter dan pasien. Tapi ingat, pada akhirnya, urusan melahirkan atau kesehatan reproduksi itu bukan soal siapa yang meriksa, tapi soal kompetensi. Laki-laki atau perempuan, yang penting mereka bisa memastikan ibu dan bayi selamat, atau masalah kesehatan kita tuntas tas tas.
Pada akhirnya, fenomena ini bakal terus bergeser. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi, artikel ini bakal jadi usang karena jumlah dokter kandungan perempuan sudah mendominasi. Tapi untuk sekarang, nggak perlu heran kalau kamu ketemu dokter kandungan bapak-bapak yang lebih paham siklus bulananmu daripada pacarmu sendiri. Namanya juga ilmu pengetahuan, dia nggak kenal gender, yang dia kenal cuma dedikasi dan jam terbang. Jadi, masih merasa canggung atau malah lebih nyaman sama dokter bapak-bapak? Pilihan ada di tanganmu, eh, maksudnya di kenyamananmu masing-masing.
Next News

Kenapa Sebagian Orang Barat Lebih Sering Pakai Tisu di Toilet? Ini Alasan di Balik Perbedaan Budaya
in 5 hours

Mengenal 6 Serangga Pengisap Darah: Si Kecil yang Bikin Gatal dan Perlu Diwaspadai
in 5 hours

Jangan Anggap Sepele! 6 Tanda yang Perlu Diwaspadai pada Kanker Tenggorokan
in 5 hours

Mangga Memang Juara, tapi 5 Golongan Ini Perlu Lebih Bijak Mengonsumsinya
in 5 hours

Manis, Hangat, dan Menenangkan: Benarkah Teh Serai Punya Banyak Manfaat untuk Tubuh?
in 5 hours

Sobat Laut Paling Ramah: Benarkah Lumba-Lumba Suka Menolong Manusia?
in 5 hours

Di Balik Segarnya Sashimi: Risiko yang Perlu Diketahui Sebelum Sering Makan Tuna Mentah
in 5 hours

4 Kebiasaan Malam Hari yang Bisa Meningkatkan Risiko Stroke di Usia Muda
in 5 hours

Almond: Kacang Elegan yang Jadi Favorit Pecinta Camilan Sehat
in 5 hours

Perut Kembung: Masalah Sepele yang Bisa Bikin Mood Berantakan Seharian
in 5 hours





