Di Balik Segarnya Sashimi: Risiko yang Perlu Diketahui Sebelum Sering Makan Tuna Mentah
Tata - Wednesday, 12 August 2026 | 07:30 PM


Dibalik Segarnya Sashimi: Kenapa Sering Makan Tuna Mentah Bisa Bikin Amsyong?
Siapa sih yang nggak tergoda sama potongan daging ikan tuna yang warnanya merah merona pas lagi nongkrong di restoran sushi favorit? Rasanya yang gurih, teksturnya yang lembut dan seolah lumer di mulut, apalagi kalau sudah dicocol ke perpaduan shoyu dan wasabi. Beuh, rasanya kayak lagi dapet hidayah kuliner! Tren makan ikan mentah alias sashimi memang lagi naik daun banget di Indonesia, terutama buat anak muda yang mengejar gaya hidup sehat sekaligus estetik buat konten Instagram Story.
Ikan tuna sering dianggap sebagai primadona. Selain rasanya yang premium, tuna juga dikenal kaya akan protein dan asam lemak omega-3 yang bagus buat otak. Tapi, di balik segala kemewahan rasa itu, ada pepatah kuno yang bilang kalau segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Nyatanya, sering makan ikan tuna dalam kondisi mentah nggak selamanya memberikan manfaat kesehatan. Ada beberapa risiko yang "bersembunyi" di balik kesegaran daging merah tersebut yang bisa bikin kesehatan kamu amsyong kalau nggak hati-hati.
Penumpang Gelap Bernama Parasit
Satu hal yang paling bikin merinding saat ngomongin ikan mentah adalah keberadaan parasit. Salah satu yang paling terkenal di dunia per-ikan-an adalah cacing Anisakis. Bayangkan, kamu lagi asyik menikmati maguro (tuna) yang segar, tapi tanpa sadar ada larva cacing kecil yang ikut meluncur ke dalam perut. Dalam dunia medis, ini disebut anisakiasis.
Gejalanya nggak main-main, lho. Kamu bisa ngerasain sakit perut yang luar biasa hebat, mual, sampai muntah-muntah nggak lama setelah makan. Kadang, orang mengira ini cuma salah makan biasa atau masuk angin, padahal ada "penumpang gelap" yang lagi mencoba bertahan hidup di dinding lambung kamu. Memang sih, restoran sushi kelas atas biasanya sudah melakukan proses flash-freezing alias pembekuan suhu ekstrem untuk membunuh parasit ini. Tapi, kalau kamu jajan di tempat yang kualitas kebersihannya meragukan, risiko ini bakal selalu mengintai.
Ancaman Merkuri yang Sembunyi-Sembunyi
Berbeda dengan parasit yang efeknya instan, ancaman yang satu ini sifatnya lebih "silent" tapi mematikan: Merkuri. Ikan tuna itu ibaratnya macan di lautan. Mereka adalah predator puncak yang hidupnya lama dan ukurannya besar. Karena mereka memakan ikan-ikan kecil, merkuri yang ada di tubuh ikan kecil itu terakumulasi di dalam daging tuna. Proses ini namanya bioakumulasi.
Nah, kalau kamu hobi banget makan tuna mentah hampir setiap hari, kadar merkuri dalam tubuh kamu bisa meningkat. Masalahnya, merkuri ini adalah racun saraf (neurotoksin). Efek jangka panjangnya bisa bikin kamu sering merasa pusing, tangan gemetar (tremor), gangguan penglihatan, sampai masalah pada memori alias jadi gampang lupa atau "lemot". Buat ibu hamil, ini jauh lebih bahaya karena merkuri bisa mengganggu perkembangan otak janin. Jadi, meskipun tuna itu sehat, mengonsumsinya secara bar-bar tetap ada risikonya.
Risiko Keracunan Histamin (Scombroid Poisoning)
Pernah nggak sih, habis makan ikan tuna tiba-tiba muka jadi merah, gatal-gatal, atau pusing kayak lagi alergi? Banyak orang mengira mereka alergi seafood, padahal bisa jadi itu adalah keracunan histamin atau Scombroid Food Poisoning. Ini sering terjadi pada ikan jenis tuna, tongkol, atau makarel yang tidak ditangani dengan suhu yang tepat setelah ditangkap.
Kalau ikan tuna mentah didiamkan di suhu ruangan terlalu lama sebelum disajikan, bakteri bakal mulai memecah protein dalam ikan dan mengubahnya jadi histamin. Celakanya, histamin ini nggak bakal hilang meski ikan dicuci bersih atau diberi perasan jeruk nipis. Makan tuna dengan kadar histamin tinggi rasanya kayak makan bom waktu bagi sistem imun kita. Rasanya mungkin agak sedikit "pedas" atau menyengat di lidah, itu sudah jadi sinyal kalau ikannya nggak benar-benar segar.
Bakteri Jahat yang Numpang Lewat
Selain parasit, ikan mentah adalah "taman bermain" yang asyik bagi bakteri seperti Salmonella dan Listeria. Ikan tuna yang ditangkap di laut mungkin bersih, tapi perjalanannya dari kapal, pasar, sampai ke meja makan kamu itu panjang. Di setiap titik distribusi itu, ada risiko kontaminasi silang.
Apalagi kalau di dapur restorannya, pisau yang dipakai buat potong sayuran sama dengan pisau buat potong ikan tanpa dicuci bersih dulu. Bakteri-bakteri ini bisa menyebabkan infeksi usus yang bikin kamu harus bolak-balik ke toilet. Buat kita yang punya sistem imun kuat, mungkin cuma diare sehari-dua hari. Tapi buat orang yang fisiknya lagi drop, ini bisa jadi urusan serius sampai harus opname di rumah sakit.
Terus, Apa Kita Harus Berhenti Makan Tuna Mentah?
Tenang, sobat kuliner, artikel ini bukan dibuat supaya kamu benci sama sushi atau sashimi. Penulis pun masih suka banget makan tuna mentah, kok! Kuncinya adalah moderasi dan ketelitian. Kamu nggak perlu parno berlebihan sampai anti makan tuna, tapi ada baiknya mulai lebih selektif.
Pertama, pilih tempat makan yang memang punya reputasi bagus dalam menjaga kesegaran ikan. Ikan untuk sashimi haruslah yang berlabel "Sashimi Grade", yang artinya sudah melalui proses pembekuan khusus untuk membunuh parasit. Kedua, jangan makan tuna mentah setiap hari. Selingi dengan protein lain seperti ayam, tempe, atau ikan yang dimasak matang untuk mengurangi risiko penumpukan merkuri.
Kesimpulannya, makan tuna mentah itu memang nikmat dan punya sisi positif buat kesehatan kalau dilakukan dengan benar. Tapi ingat, perut kita bukan laboratorium yang bisa nahan semua jenis serangan bakteri dan logam berat. Jadi, makanlah dengan bijak, nikmati setiap gigitannya, dan jangan lupa dengerin kode dari tubuh kamu sendiri. Karena pada akhirnya, kesehatan kita jauh lebih mahal harganya daripada sepiring sashimi paling mahal sekalipun.
Next News

Kenapa Sebagian Orang Barat Lebih Sering Pakai Tisu di Toilet? Ini Alasan di Balik Perbedaan Budaya
in 6 hours

Mengenal 6 Serangga Pengisap Darah: Si Kecil yang Bikin Gatal dan Perlu Diwaspadai
in 5 hours

Jangan Anggap Sepele! 6 Tanda yang Perlu Diwaspadai pada Kanker Tenggorokan
in 5 hours

Kenapa Dokter Kandungan Banyak Laki-Laki? Ini Alasan dan Perkembangannya
in 5 hours

Mangga Memang Juara, tapi 5 Golongan Ini Perlu Lebih Bijak Mengonsumsinya
in 5 hours

Manis, Hangat, dan Menenangkan: Benarkah Teh Serai Punya Banyak Manfaat untuk Tubuh?
in 5 hours

Sobat Laut Paling Ramah: Benarkah Lumba-Lumba Suka Menolong Manusia?
in 5 hours

4 Kebiasaan Malam Hari yang Bisa Meningkatkan Risiko Stroke di Usia Muda
in 5 hours

Almond: Kacang Elegan yang Jadi Favorit Pecinta Camilan Sehat
in 5 hours

Perut Kembung: Masalah Sepele yang Bisa Bikin Mood Berantakan Seharian
in 5 hours





