Sabtu, 9 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Ada Orang yang Gampang Banget Tumbang Kena AC?

Liaa - Saturday, 09 May 2026 | 01:20 PM

Background
Kenapa Ada Orang yang Gampang Banget Tumbang Kena AC?

Kenapa Ada Orang yang Gampang Banget Tumbang Kena AC?

Bayangkan skenario ini: Kamu lagi duduk tenang di kubikel kantor, mencoba fokus menyelesaikan deadline yang tinggal hitungan jam. Tiba-tiba, teman di sebelahmu—si paling nggak bisa panas—ngambil remote AC dan memencet tombol suhu sampai ke angka 16 derajat Celsius. Baginya, itu adalah surga. Tapi buat kamu? Itu adalah awal dari bencana. Dalam waktu sepuluh menit, hidungmu mulai meler, kulit terasa ketarik, dan perut mulai menunjukkan tanda-tanda "masuk angin" yang legendaris itu.

Fenomena ini bukan hal baru. Di setiap ruang publik, mulai dari kantor, gerbong KRL, sampai bioskop, selalu ada "perang remote AC". Ada golongan manusia yang merasa suhu kutub adalah standar kenyamanan hidup, dan ada golongan "manusia tropis sejati" yang kalau kena AC sedikit saja badannya langsung terasa rontok. Pertanyaannya, kenapa sih badan kita bisa punya toleransi yang beda-beda banget soal suhu dingin ini? Apakah ini cuma masalah kebiasaan, atau memang ada yang "salah" di dalam sistem tubuh kita?

Bukan Manja, Ini Masalah Metabolisme

Seringkali, orang yang nggak tahan dingin dicap manja atau "kurang olahraga". Padahal, urusannya nggak sesederhana itu. Faktor utama yang menentukan kenapa seseorang lebih cepat menggigil adalah tingkat metabolisme basal atau Basal Metabolic Rate (BMR). Metabolisme itu ibarat mesin di dalam tubuh. Orang yang punya massa otot lebih banyak cenderung punya "mesin" yang lebih panas karena otot membakar energi lebih banyak daripada lemak, bahkan saat kita lagi diam doang.

Makanya, jangan heran kalau temanmu yang hobi ke gym biasanya lebih tahan suhu dingin daripada kamu yang hobinya cuma scrolling TikTok sambil rebahan. Cowok juga secara biologis seringkali punya massa otot lebih besar dibanding cewek, itulah kenapa di kantor-kantor sering terjadi perdebatan antara bapak-bapak yang kepanasan dan mbak-mbak yang sudah pakai jaket tiga lapis tapi tetap kedinginan. Ini bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi soal seberapa kencang kompor di dalam tubuh kita menyala.

Kulit Kering dan "Siksaan" Udara Tanpa Kelembapan

AC itu cara kerjanya bukan cuma mendinginkan udara, tapi juga menarik kelembapan dari ruangan. Hasilnya? Udara jadi kering kerontang. Nah, buat sebagian orang, udara kering ini adalah musuh utama. Saat udara nggak punya kelembapan, lapisan mukosa di hidung dan tenggorokan kita ikut mengering. Ini yang bikin hidung terasa perih, bersin-bersin nggak jelas, atau tenggorokan gatal setiap kali masuk ruangan ber-AC.



Selain itu, kulit juga jadi korban. Buat kamu yang punya tipe kulit sensitif atau kering, terpapar AC dalam waktu lama rasanya kayak perlahan-lahan berubah jadi kerupuk yang dibiarkan di udara terbuka: kaku dan gampang retak. Kondisi ini sering disebut sebagai dry skin syndrome akibat AC. Jadi, kalau kamu merasa badannya nggak enak tiap kena AC, bisa jadi itu bukan karena suhunya, tapi karena kelembapan kulitmu yang "disedot" habis oleh mesin pendingin tersebut.

Sindrom "Manusia Jompo" dan Raynaud

Ada lagi kondisi yang sedikit lebih medis, namanya Fenomena Raynaud. Kedengarannya keren, tapi aslinya cukup menyebalkan. Orang dengan kondisi ini punya pembuluh darah yang sangat sensitif terhadap suhu dingin. Begitu kena udara AC yang ekstrem, pembuluh darah di tangan atau kaki langsung menciut drastis (vasokonstriksi). Efeknya? Jari-jari bisa berubah warna jadi pucat atau biru, dibarengi rasa kesemutan yang luar biasa.

Bagi orang-orang ini, AC bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal rasa sakit fisik. Belum lagi kalau kita bicara soal "masuk angin" versi medis, yaitu otot yang tegang akibat kedinginan. Saat kedinginan, tubuh kita secara otomatis akan meringkuk untuk menjaga panas. Kalau posisi ini bertahan berjam-jam selama jam kerja, jangan kaget kalau pas pulang leher terasa kaku dan pinggang rasanya minta ganti baru. Di sinilah istilah "kaum jompo" di kalangan anak muda zaman sekarang menemukan relevansinya.

Kualitas Udara yang Sering Terlupakan

Kadang, masalahnya bukan di suhu atau di badan kamu, tapi di unit AC-nya itu sendiri. Banyak kantor atau tempat umum yang jarang banget servis atau cuci AC. Alhasil, filter AC jadi sarang debu, jamur, dan bakteri. Begitu AC dinyalakan, semua "kotoran" itu terbang bebas dan terhirup olehmu. Kalau kamu langsung merasa pusing atau mual setiap kali AC nyala, bisa jadi itu adalah gejala Sick Building Syndrome.

Tubuhmu sebenarnya lagi kasih sinyal peringatan bahwa udara yang kamu hirup itu nggak sehat. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri karena merasa lemah. Bisa jadi badanmu memang punya sistem alarm yang lebih canggih dalam mendeteksi kotoran di udara dibanding teman-temanmu yang lain.



Bertahan Hidup di Tengah Kepungan AC

Terus, gimana dong kalau kita harus tetap kerja di ruangan yang dinginnya kayak kulkas dua pintu? Mau protes ke bos juga nggak enak, mau matikan AC nanti malah diprotes sekantor. Solusinya ya memang harus dari diri sendiri. Menyiapkan "starter pack" manusia anti-AC itu wajib hukumnya. Jaket, scarf, atau bahkan kaos kaki cadangan harus selalu ada di laci meja kerja.

Selain itu, jangan lupa minum air putih yang banyak untuk melawan udara kering, dan sempatkan jalan kaki keluar ruangan setiap satu atau dua jam sekali biar sirkulasi darah lancar lagi. Anggap saja itu misi penyelamatan diri biar badan nggak cepat "expired" sebelum waktunya.

Pada akhirnya, sensitivitas terhadap AC itu adalah variasi normal dari tubuh manusia. Kita nggak perlu merasa aneh kalau harus pakai hoodie di saat orang lain santai pakai kaos oblong. Yang penting, kita tahu batasan tubuh masing-masing dan nggak memaksakan diri demi terlihat "tahan banting". Karena sejujurnya, nggak ada yang keren dari meriang di malam hari cuma gara-gara gengsi pakai jaket di kantor, kan?