Rabu, 1 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kebiasaan Naik Tangga yang Baik untuk Kebugaran

Liaa - Wednesday, 01 July 2026 | 02:30 PM

Background
Kebiasaan Naik Tangga yang Baik untuk Kebugaran

Naik Tangga: Olahraga Gratis yang Sering Kita Khianati Demi Lift dan Eskalator

Pernah nggak sih, kamu berdiri di depan pintu lift kantor atau mal, nungguin angkanya turun dari lantai 20 ke lantai dasar dengan penuh harap, padahal tujuan kamu cuma ke lantai tiga? Pas liftnya terbuka, eh ternyata penuh sesak kayak sarden di dalam kaleng. Di saat itu, ada perasaan benci tapi rindu sama tangga darurat yang posisinya tersembunyi di balik pintu besi berat itu. Kita tahu naik tangga itu sehat, tapi rasa malas atau "mager" yang sudah mendarah daging sering kali menang telak.

Jujurly, kita ini generasi yang sering kali rela bayar mahal buat membership gym demi bisa lari-lari di atas treadmill atau pakai alat stairmaster yang harganya puluhan juta. Padahal, di kantor, di stasiun MRT, atau di jembatan penyeberangan orang (JPO), ada fasilitas gratis yang fungsinya sama persis. Naik tangga itu sebenarnya adalah "cheat code" buat kebugaran yang selama ini kita abaikan karena dianggap kurang estetik atau bikin keringetan sebelum meeting dimulai.

Bukan Sekadar Pindah Lantai, Ini Masalah Jantung dan Betis

Kalau kita bicara soal teknis, naik tangga itu masuk kategori latihan beban sekaligus kardio. Bayangkan, kamu mengangkat seluruh berat badanmu secara vertikal melawan gravitasi. Itu effort-nya jauh lebih gede daripada sekadar jalan kaki datar di trotoar yang penuh lubang. Secara sains tipis-tipis, naik tangga bisa membakar kalori lebih banyak per menit dibandingkan joging santai. Buat kamu yang pengen punya betis yang "on point" atau paha yang lebih kencang, tangga adalah sahabat terbaik.

Tapi ya gitu, masalahnya bukan di manfaatnya, tapi di niatnya. Sering kali kita merasa naik tangga itu menyiksa karena baru naik satu lantai aja napas sudah Senin-Kamis. Itu tanda kalau VO2 max atau kapasitas oksigen kita lagi di titik nadir. Justru karena ngos-ngosan itulah kita harus makin sering melakukannya. Anggap saja tangga itu sebagai parameter kebugaran harian. Kalau naik ke lantai dua saja sudah berasa mau pingsan, mungkin itu kode keras dari semesta supaya kamu mulai mengurangi gorengan dan mulai banyak bergerak.

Seni Naik Tangga yang Benar: Jangan Asal Genjot

Nah, supaya naik tangga nggak malah bikin lutut bunyi "kretek-kretek" atau bikin punggung pegal, ada seninya. Jangan cuma asal tancap gas kayak dikejar debt collector. Posisi tubuh itu kunci. Banyak orang kalau naik tangga badannya membungkuk ke depan. Memang sih rasanya lebih enteng, tapi itu sebenarnya bikin beban di pinggang bawah jadi makin berat. Usahakan dada tetap tegap, tapi tetap condong sedikit ke depan biar seimbang.



Terus, soal pijakan kaki. Jangan cuma ujung jempol doang yang nempel. Usahakan seluruh telapak kaki, atau setidaknya sebagian besar area depan sampai tengah kaki, menapak dengan mantap di anak tangga. Ini penting buat mendistribusikan beban supaya nggak cuma otot betis yang kerja rodi, tapi otot paha depan (quadriceps) dan bokong (glutes) juga ikutan pesta pora. Percayalah, kalau tekniknya benar, kamu bakal merasa lebih stabil dan nggak gampang capek.

  • Atur Napas: Jangan tahan napas pas lagi naik. Irama napas yang stabil bantu oksigen tetap mengalir ke otot.
  • Jangan Terburu-buru: Ini bukan lomba lari. Nikmati setiap anak tangganya. Kalau buru-buru, risiko terpeleset malah tinggi.
  • Gunakan Pegangan Kalau Perlu: Nggak usah gengsi pegang railing kalau memang merasa keseimbangan lagi goyah, tapi jangan jadikan pegangan buat narik seluruh badan ya.

Menghapus Stigma "Capek" dan "Keringetan"

Alasan klasik kenapa orang menghindari tangga adalah takut bau matahari atau keringetan sebelum ketemu klien. Well, sebenarnya kita bisa menyiasatinya. Jangan naik tangga dengan kecepatan penuh. Jalan santai saja. Tujuannya kan kebugaran jangka panjang, bukan mau ikutan kompetisi lari vertikal di Burj Khalifa. Kalau kamu naik tangga dengan ritme yang kalem, suhu tubuh nggak akan naik drastis yang bikin keringat bercucuran.

Ada juga observasi menarik: naik tangga itu sebenarnya adalah latihan mental. Di tengah dunia yang serba instan ini—mau makan tinggal klik, mau pindah lantai tinggal pencet—memilih tangga adalah bentuk perlawanan kecil terhadap kemalasan. Ada kepuasan tersendiri pas kita sampai di lantai tujuan dan melihat orang-orang yang tadi barengan nunggu lift baru saja keluar dengan muka suntuk karena liftnya mampir di tiap lantai. Kita sudah sampai duluan, dapat sehatnya pula.

Investasi Masa Tua yang Low Budget

Mungkin sekarang kita merasa masih muda, lutut masih kuat diajak loncat-loncat. Tapi pikirkan 20 atau 30 tahun ke depan. Kebiasaan naik tangga sejak dini itu investasi buat kepadatan tulang dan kekuatan sendi. Orang yang rajin naik tangga biasanya punya keseimbangan tubuh yang lebih baik di masa tua. Jadi, nggak gampang jatuh atau limbung.

Jadi, besok-besok pas kamu berdiri di depan lift, coba lirik sebentar ke arah pintu tangga. Tanya ke diri sendiri: "Gue beneran butuh lift buat naik dua lantai doang, atau gue cuma lagi males aja?" Kalau kondisinya nggak lagi bawa barang seberat dosa masa lalu atau nggak lagi pakai sepatu hak tinggi yang menyiksa, cobalah lewat tangga. Satu lantai per hari sebagai permulaan itu sudah keren banget daripada nggak sama sekali. Lagipula, di tangga kamu nggak perlu terlibat small talk canggung sama rekan kantor di dalam lift yang sempit, kan? Double win!



Mari kita mulai menghargai setiap anak tangga yang kita temui. Karena pada akhirnya, sehat itu nggak harus mahal dan nggak harus pakai baju olahraga branded. Cukup dengan keberanian untuk nggak menekan tombol lift dan mulai melangkah ke atas, satu demi satu.