Rabu, 1 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kebiasaan Bersyukur dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental

Liaa - Wednesday, 01 July 2026 | 02:45 PM

Background
Kebiasaan Bersyukur dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental

Seni Bersyukur di Tengah Gempuran Life is Hard: Kenapa "Terima Kasih" Bisa Bikin Mental Lebih Waras?

Pernah nggak sih kalian bangun pagi, niatnya mau produktif, tapi malah berakhir doomscrolling di TikTok atau Instagram selama satu jam? Terus, setelah lihat postingan teman yang lagi liburan di Iceland atau teman kantor yang baru aja pamer promotion, tiba-tiba dada rasanya sesak. Rasanya kayak, "Kok hidup gue gini-gini aja ya?" Perasaan kurang, merasa tertinggal, atau istilah kerennya FOMO, pelan-pelan mulai menggerogoti kesehatan mental kita.

Di dunia yang serba kompetitif dan penuh pamer ini, kita sering dipaksa untuk fokus pada apa yang belum kita miliki. Kita ngejar target yang nggak ada habisnya, sampai lupa kalau sebenarnya ada banyak hal kecil di sekitar kita yang layak dapet apresiasi. Nah, di sinilah kebiasaan bersyukur atau gratitude masuk sebagai "obat" yang sebenarnya simpel banget, tapi sering kita sepelekan karena dianggap terlalu cliché atau kayak nasihat motivator di seminar-seminar membosankan.

Bersyukur Bukan Berarti Naif

Mari kita luruskan dulu satu hal: bersyukur itu bukan berarti kita jadi orang yang menutup mata dari masalah. Bukan berarti pas lagi bokek atau lagi putus cinta, kita harus senyum-senyum sendiri sambil bilang, "Wah, makasih ya Tuhan aku lagi menderita." Bukan gitu konsepnya, Kawan. Itu namanya toxic positivity, dan jujur aja, itu malah bikin capek mental.

Bersyukur yang sehat itu adalah kemampuan untuk mengenali hal-hal baik yang ada di tengah-tengah kekacauan. Ini soal perspektif. Otak manusia itu secara alami punya "negativity bias". Kita lebih gampang ingat satu kritikan pedas daripada sepuluh pujian tulus. Nah, membiasakan diri bersyukur itu kayak lagi nge-gym buat otak. Kita melatih otot-otot di kepala kita supaya lebih peka melihat sisi terang, bukan cuma nungguin mendung datang.

Gimana Sih Pengaruhnya ke Otak Kita?

Secara saintifik nih, kebiasaan bersyukur itu punya pengaruh langsung ke kimiawi otak kita. Pas kita merasa bersyukur, otak bakal ngelepasin neurotransmitter yang namanya dopamin dan serotonin. Dua zat ini adalah "feel-good chemicals" yang bikin perasaan kita lebih tenang, bahagia, dan merasa puas. Kalau kita sering bersyukur, jalur syaraf di otak untuk emosi positif ini bakal makin kuat. Ibarat jalan setapak, kalau sering dilewati, jalannya bakal makin lebar dan gampang dilalui.



Banyak penelitian psikologi menunjukkan kalau orang yang rajin mempraktikkan rasa syukur cenderung punya tingkat stres yang lebih rendah. Mereka juga lebih jarang kena depresi atau kecemasan berlebih. Kenapa? Karena saat kita bersyukur, kadar hormon kortisol (hormon stres) di tubuh kita cenderung menurun. Jadi, kalau kalian merasa hidup lagi berat banget, mungkin yang kalian butuhin bukan cuma healing ke Bali, tapi latihan ngelihat apa yang udah ada di tangan sekarang.

Memulai dari Hal-Hal "Receh"

Masalahnya, banyak dari kita yang nunggu kejadian besar dulu baru mau bersyukur. Nunggu naik jabatan, nunggu beli iPhone terbaru, atau nunggu dapat jodoh yang kayak di drakor. Padahal, rahasia kesehatan mental yang stabil itu ada di hal-hal "receh".

  • Bisa bangun tidur tanpa rasa pegal di punggung? Itu anugerah.
  • Ketemu lampu hijau pas lagi buru-buru berangkat kerja? Itu keberuntungan yang layak disyukuri.
  • Kopi yang kalian minum rasanya pas, nggak kemanisan dan nggak kepahitan? Itu momen kecil yang berharga.
  • Dapet chat dari teman lama yang sekadar nanya kabar? Itu bukti kalau kalian masih diingat.

Hal-hal kecil kayak gini kalau dikumpulin bakal jadi tabungan kebahagiaan yang luar biasa. Coba deh, mulai sekarang, setiap malam sebelum tidur, sebutin tiga hal yang bikin kalian bersyukur hari itu. Nggak harus hal besar. Bisa aja sesederhana, "Tadi tukang parkirnya ramah banget" atau "Akhirnya bisa makan mi instan pake telur setelah seharian sibuk."

Gratitude Journaling: Biar Nggak Cuma Lewat di Pikiran

Ada satu tren yang sebenarnya bagus banget buat diterusin: gratitude journaling. Kadang kalau cuma dipikirin, rasa syukur itu gampang terbang nguap gitu aja. Tapi kalau ditulis, dia jadi konkret. Menulis itu kayak mendokumentasikan kemenangan-kemenangan kecil dalam hidup kita.

Nggak perlu pakai buku jurnal yang estetik dan mahal. Pake aplikasi notes di HP juga boleh. Intinya adalah konsistensi. Pas kalian lagi merasa down atau ngerasa dunia lagi jahat banget sama kalian, kalian bisa baca lagi catatan itu. Kalian bakal sadar kalau ternyata hidup nggak seburuk yang pikiran kalian katakan. Ini adalah tameng paling ampuh buat ngelawan suara-suara negatif di kepala yang suka bilang kita "nggak berguna".



Bersyukur Bikin Hubungan Lebih Adem

Nggak cuma buat diri sendiri, kebiasaan bersyukur juga pengaruh banget ke hubungan sosial. Bayangin kalau kalian punya teman atau pasangan yang dikit-dikit ngeluh, banding-bandingin kita sama orang lain, dan nggak pernah puas. Capek kan? Sebaliknya, orang yang tahu cara berterima kasih biasanya lebih enak diajak ngobrol. Mereka lebih apresiatif terhadap bantuan orang lain.

Mengucapkan "terima kasih" secara tulus ke orang lain—entah itu ke abang ojek online, kasir minimarket, atau rekan kerja—itu ngasih efek domino yang positif. Kita jadi merasa lebih terkoneksi dengan lingkungan sekitar. Rasa kesepian, yang sering jadi pemicu masalah kesehatan mental, perlahan bakal berkurang karena kita ngerasa jadi bagian dari dunia yang (sebenarnya) saling mendukung.

Penutup: Ini Bukan Maraton, Ini Gaya Hidup

Jadi, apakah bersyukur bakal ngilangin semua masalah hidup? Ya jelas nggak lah. Masalah bakal tetap ada. Cicilan tetap harus dibayar, revisi dari bos tetap bakal datang, dan drama kehidupan nggak bakal berhenti. Tapi, dengan bersyukur, kapasitas kita buat menghadapi semua itu jadi lebih besar. Kita jadi punya "cadangan energi" mental buat nggak gampang tumbang.

Jangan paksa diri kalian untuk langsung jadi orang paling positif sedunia. Mulai aja pelan-pelan. Kalau hari ini lagi berat banget sampai kalian ngerasa nggak ada yang bisa disyukuri, syukuri aja kalau hari ini akhirnya berakhir dan kalian masih bisa rebahan. Itu pun udah cukup banget. Ingat, kesehatan mental itu investasi jangka panjang, dan bersyukur adalah salah satu aset paling murah tapi paling menguntungkan yang bisa kita punya.

Jadi, apa satu hal yang bikin kalian merasa beruntung hari ini? Coba diingat-ingat, terus senyum dikit. You're doing great, really.



Tags