Kamis, 15 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kebiasaan Menggigit Kuku, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Tata - Thursday, 15 October 2026 | 10:17 PM

Background
Kebiasaan Menggigit Kuku, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Menggigit kuku merupakan kebiasaan yang cukup umum dan sering terjadi secara spontan tanpa disadari. Sebagian orang melakukannya ketika merasa gugup, cemas, bosan, atau sedang memikirkan sesuatu. Ada pula yang menggigit kuku saat menonton televisi, membaca, maupun bekerja.

Dalam istilah medis, kebiasaan menggigit kuku dikenal sebagai onikofagia. Perilaku ini dapat berlangsung sesekali atau menjadi kebiasaan berulang yang sulit dihentikan. Walaupun sering dianggap tidak berbahaya, menggigit kuku secara terus-menerus dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, terutama jika sampai melukai jaringan di sekitar kuku.

1. Meningkatkan risiko masuknya kuman ke dalam tubuh

Tangan merupakan bagian tubuh yang sering bersentuhan dengan berbagai permukaan, seperti ponsel, gagang pintu, meja, dan benda lainnya. Jika kebersihan tangan tidak terjaga, kuman dapat menempel pada jari dan bagian bawah kuku.

Ketika seseorang menggigit kuku, mikroorganisme yang menempel pada tangan berpeluang berpindah ke mulut. Perpindahan tersebut dapat meningkatkan risiko paparan kuman, meskipun tidak berarti setiap orang yang menggigit kuku pasti akan mengalami infeksi.



Selain itu, kebiasaan ini dapat menyebabkan seseorang menelan serpihan kuku atau kotoran yang menempel di bawahnya. Karena itu, menjaga kebersihan tangan dan menghindari kebiasaan memasukkan kuku ke mulut merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko tersebut.

2. Menyebabkan kerusakan pada kuku dan kulit sekitarnya

Menggigit kuku berulang kali dapat membuat ujung kuku menjadi tidak rata, rapuh, dan mudah patah. Tekanan dari gigi juga dapat merusak jaringan di sekitar kuku, terutama apabila seseorang menggigit terlalu dalam atau menarik bagian kulit yang mengelupas.

Luka kecil yang muncul di sekitar kuku dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri. Akibatnya, kulit di sekitar kuku berisiko mengalami peradangan atau infeksi yang dikenal sebagai paronikia.

Gejalanya dapat berupa kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri, dan terkadang muncul nanah. Jika kondisi tersebut terjadi, sebaiknya hindari memencet bagian yang bengkak dan periksakan diri ke tenaga medis, terutama apabila rasa sakit bertambah atau kemerahan menyebar.



3. Dapat mengganggu kesehatan gigi dan mulut

Kebiasaan menggigit kuku tidak hanya memengaruhi jari, tetapi juga dapat memberikan tekanan berulang pada gigi. Jika dilakukan terus-menerus, tekanan tersebut berpotensi menyebabkan gigi mengalami keausan, kerusakan kecil, atau meningkatkan risiko retak, terutama pada orang yang menggigit kuku dengan kuat.

Gerakan menggigit yang berulang juga dapat membebani jaringan di sekitar rahang. Pada sebagian orang, kebiasaan ini dapat memperburuk ketidaknyamanan pada rahang, khususnya jika sudah memiliki masalah pada sendi rahang.

Oleh karena itu, menghentikan kebiasaan menggigit kuku dapat membantu mengurangi tekanan yang tidak diperlukan pada gigi dan mulut. Jika gigi terasa nyeri, sensitif, atau mengalami kerusakan, pemeriksaan oleh dokter gigi dapat membantu mengetahui penyebabnya.

4. Berpotensi memperburuk luka pada jari



Sebagian orang tidak hanya menggigit bagian kuku, tetapi juga kulit kecil yang mengelupas di sekitarnya. Kebiasaan ini dapat membuat luka semakin lebar dan memperlambat pemulihan kulit.

Ketika luka terus-menerus terkena air liur dan mengalami gesekan, jaringan di sekitarnya dapat menjadi semakin iritasi. Kondisi tersebut juga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi apabila lapisan pelindung kulit rusak.

Jika terdapat kulit yang terkelupas di sekitar kuku, sebaiknya potong bagian yang mengganggu menggunakan alat yang bersih, bukan menariknya dengan gigi. Luka kecil dapat dibersihkan dan dilindungi agar tidak mengalami iritasi berulang.

5. Berkaitan dengan stres dan kebiasaan berulang

Menggigit kuku terkadang menjadi respons terhadap perasaan cemas, tegang, atau bosan. Sebagian orang merasa perilaku tersebut memberikan rasa lega untuk sementara waktu. Namun, kebiasaan ini tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang memiliki gangguan kecemasan atau masalah psikologis tertentu.



Jika menggigit kuku terjadi berulang kali hingga sulit dikendalikan, menyebabkan luka, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, perilaku tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan ini termasuk perilaku berulang yang berfokus pada tubuh atau body-focused repetitive behavior.

Mengenali situasi yang memicu kebiasaan tersebut merupakan langkah awal untuk menguranginya. Misalnya, seseorang dapat memperhatikan apakah kebiasaan menggigit kuku muncul saat menghadapi pekerjaan yang menumpuk, merasa gugup, atau tidak melakukan aktivitas tertentu.

Cara menghentikan kebiasaan menggigit kuku

Menghentikan kebiasaan menggigit kuku membutuhkan kesadaran dan latihan secara bertahap. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjaga kuku tetap pendek dan rapi sehingga lebih sulit digigit. Menjaga kebersihan kuku juga membantu mengurangi kotoran yang menempel di sekitarnya.

Ketika muncul keinginan menggigit kuku, alihkan perhatian dengan memegang benda kecil, meremas bola antistres, atau melakukan aktivitas lain yang membuat tangan tetap sibuk. Cara ini dapat membantu mengganti kebiasaan lama dengan perilaku yang lebih aman.



Mengenali pemicu juga penting. Jika kebiasaan tersebut muncul ketika merasa cemas, cobalah beristirahat sejenak, mengatur napas secara perlahan, atau menyelesaikan pekerjaan secara bertahap. Catatan sederhana mengenai waktu dan situasi munculnya kebiasaan dapat membantu seseorang memahami pola perilakunya.

Sebagian orang juga terbantu dengan penggunaan produk khusus berasa pahit yang dirancang untuk mengurangi kebiasaan menggigit kuku. Pastikan produk digunakan sesuai petunjuk dan aman bagi kulit. Jika kebiasaan tetap sulit dikendalikan hingga menyebabkan luka berulang, bantuan psikolog atau tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan.

Kapan kebiasaan menggigit kuku perlu diperhatikan secara serius?

Kebiasaan menggigit kuku perlu mendapat perhatian apabila menyebabkan luka berulang, infeksi di sekitar kuku, kerusakan gigi, atau kesulitan menghentikan perilaku tersebut meskipun sudah berusaha. Pemeriksaan medis diperlukan jika jari mengalami pembengkakan, nyeri berat, keluar nanah, atau kemerahan yang meluas.

Jika kebiasaan ini disertai kecemasan yang mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental juga dapat membantu menemukan cara mengelolanya.



Pada akhirnya, menggigit kuku bukan sekadar kebiasaan kecil yang berkaitan dengan penampilan. Jika dilakukan terus-menerus, perilaku ini dapat berdampak pada kesehatan kuku, kulit, gigi, dan mulut. Dengan mengenali pemicu, menjaga kebersihan tangan, serta mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas yang lebih sehat, risiko masalah dapat dikurangi secara bertahap.