Rabu, 3 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Juara Rebahan? Ini Daftar 5 Negara dengan Aktivitas Jalan Kaki Terendah di Dunia

Laila - Wednesday, 03 June 2026 | 05:55 PM

Background
Juara Rebahan? Ini Daftar 5 Negara dengan Aktivitas Jalan Kaki Terendah di Dunia

Juara Dunia Bukan Cuma Bola, Tapi Juga Rebahan: Mengintip 5 Negara Paling Malas Gerak di Planet Bumi

Siapa sih yang nggak suka rebahan? Di tengah gempuran deadline yang mencekik dan polusi udara yang makin nggak ngotak, kasur adalah pelabuhan terakhir paling hakiki. Istilah "kaum rebahan" bahkan sudah jadi identitas kebanggaan tersendiri buat anak muda kita. Tapi, pernah nggak sih terpikir di benak kalian, apakah hobi mager ini cuma didominasi oleh warga lokal kita saja, atau jangan-jangan ini sudah jadi tren global?

Ternyata, sains punya jawabannya. Berdasarkan penelitian dari para ahli di Stanford University yang sempat bikin heboh beberapa tahun lalu, serta data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada beberapa negara yang penduduknya punya langkah kaki paling sedikit alias paling hobi "mengistirahatkan" raga. Mari kita bedah satu per satu negara mana saja yang penduduknya paling jago urusan mager, dan apakah Indonesia masuk di dalamnya? Spoiler: Siapkan mental kalian.

1. Indonesia: Sang Juara Bertahan dalam Urusan Mager

Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan pahit: Indonesia sering banget nangkring di urutan pertama sebagai negara paling malas jalan kaki di dunia. Menurut studi dari Stanford yang memantau pergerakan smartphone puluhan ribu orang, rata-rata orang Indonesia cuma jalan sekitar 3.513 langkah per hari. Angka ini jauh di bawah rata-rata global yang mencapai lima ribuan langkah.

Kenapa bisa begini? Jawabannya nggak sesederhana karena kita pemalas. Coba lihat kondisi trotoar kita. Di banyak kota besar, trotoar lebih sering berfungsi sebagai lahan parkir motor, tempat mangkal abang gorengan, atau malah nggak ada sama sekali. Belum lagi cuaca tropis yang bikin keringat bercucuran cuma dengan jalan kaki 50 meter ke minimarket. Akhirnya, ojek online jadi solusi ninja. Mau beli seblak yang jaraknya cuma dua blok aja, jempol langsung lincah buka aplikasi. Fenomena "mager" ini sudah jadi bagian dari struktur sosial kita yang lebih memilih kenyamanan AC motor daripada betis pegal.

2. Arab Saudi: Ketika Cuaca Jadi Alasan Sah buat Rebahan

Pindah ke Timur Tengah, kita bertemu dengan Arab Saudi. Di sini, tingkat aktivitas fisiknya juga tergolong rendah banget. Tapi ya jangan langsung di-judge dulu. Bayangkan kalau kalian hidup di wilayah yang suhu udaranya bisa mencapai 45 sampai 50 derajat Celcius saat siang hari. Jalan kaki di luar ruangan itu bukan lagi olahraga, tapi uji nyawa.



Gaya hidup di Saudi memang sangat bergantung pada kendaraan pribadi dan mall-mall besar yang dingin. Budaya makan besar di malam hari saat suhu mulai turun juga berpengaruh pada metabolisme dan keinginan buat gerak. Di sana, rebahan di dalam ruangan ber-AC adalah bentuk pertahanan diri yang logis. Jadi, kalau mereka malas gerak, itu benar-benar karena alam tidak mendukung mereka buat jadi atlet jalan cepat.

3. Kuwait: Negara Kecil yang Malas Gerak

Masih dari kawasan teluk, Kuwait juga sering masuk daftar negara dengan tingkat obesitas dan kemalasan gerak paling tinggi. Faktornya hampir mirip dengan Arab Saudi: cuaca ekstrem dan infrastruktur yang sangat pro-mobil. Namun, ada satu faktor tambahan, yaitu kemakmuran ekonomi yang bikin semuanya jadi serba instan.

Di Kuwait, layanan delivery itu sudah kayak oksigen. Penduduknya terbiasa dengan gaya hidup sedentari karena hampir semua kebutuhan bisa diantar sampai depan pintu. Padahal, kalau dilihat dari fasilitas gym, mereka punya banyak tempat keren. Tapi ya itu tadi, kalau bisa duduk manis sambil menikmati makanan enak, kenapa harus capek-capek lari di treadmill? Urusan rebahan di sini sudah level profesional.

4. Malaysia: Saudara Serumpun yang Juga Hobi Santuy

Nggak jauh-jauh dari kita, negara tetangga Malaysia ternyata juga punya kecenderungan yang mirip. Meskipun infrastruktur transportasi umum di Kuala Lumpur terbilang lebih rapi dibanding Jakarta, minat warganya untuk jalan kaki masih tergolong rendah. Banyak laporan kesehatan di sana menyebutkan bahwa tingkat obesitas di Malaysia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara.

Salah satu tersangka utamanya adalah budaya kuliner. Siapa sih yang bisa nolak nasi lemak atau teh tarik di mamak stall jam 11 malam? Setelah makan enak, biasanya mata langsung berat dan bawaannya pengen rebahan sambil scrolling TikTok. Budaya "lepak" atau nongkrong santai sambil duduk berjam-jam ini memang asik, tapi ya itu, bikin timbangan kanan-kiri makin nggak seimbang.



5. Brasil: Kejutan dari Negeri Samba

Banyak yang kaget kenapa Brasil masuk daftar ini. Padahal kan mereka terkenal dengan sepak bola, tarian samba yang enerjik, dan pantai-pantai yang penuh orang berolahraga? Ternyata, ada kesenjangan besar antara citra di televisi dengan realita sehari-hari warga di perkotaan besar seperti Sao Paulo atau Rio de Janeiro.

Tingkat ketimpangan sosial dan isu keamanan di beberapa wilayah membuat orang lebih memilih berdiam diri di rumah. Selain itu, perubahan gaya hidup dari masyarakat agraris ke masyarakat urban membuat banyak warga Brasil kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar komputer atau televisi. Fenomena ini membuktikan bahwa hobi rebahan itu nggak kenal batas negara, bahkan di tempat yang paling "berotot" sekalipun.

Kenapa Kita Harus Mulai "Sadar Diri"?

Melihat daftar di atas, rasanya kita perlu sedikit refleksi diri. Rebahan itu memang surga dunia, apalagi pas hujan turun dan ada kopi hangat di samping. Tapi kalau keterusan, tubuh kita bakal protes. Masalah kesehatan seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas itu bukan mitos belaka, apalagi buat kita yang di Indonesia sering banget makan gorengan tapi malas jalan kaki.

Kita nggak perlu langsung lari maraton kok. Mulai aja dengan hal kecil, misalnya jalan kaki ke warung depan daripada naik motor, atau naik tangga manual kalau cuma beda satu lantai di kantor. Jangan sampai gelar "juara dunia rebahan" ini malah jadi bumerang buat kesehatan kita di masa depan. Yuk, mulai kurangi durasi mager, biar otot nggak kaku dan masa tua nggak layu. Lagipula, kasur itu bakal terasa jauh lebih nikmat kalau kita sudah lelah setelah produktif, bukan?