Jangan Remehkan Pengeluaran Receh, Gaji Bisa Habis Tengah Bulan
Liaa - Friday, 08 May 2026 | 09:04 AM


Banyak orang cenderung memusatkan perhatian pada perencanaan keuangan berskala besar, seperti membeli kendaraan atau menyiapkan dana pendidikan. Namun, fokus berlebihan pada target besar sering kali membuat seseorang luput memerhatikan kebocoran dana dari kebiasaan jajan harian.
Perencana keuangan bersertifikat, Mike Rini, mengingatkan bahwa pengeluaran kecil yang dianggap sepele justru bisa menjadi sumber gangguan terbesar dalam anggaran rumah tangga.
"Kita terbiasa meremehkan yang kecil-kecil, maka kita tidak akan siap menghadapi yang besar-besar," ujarnya dalam acara halal bihalal bersama PT Kino Indonesia bertajuk "Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice" di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurut dia, pengeluaran kecil yang dilakukan tanpa perencanaan sering kali terakumulasi dan menggerus tabungan secara signifikan menjelang akhir bulan. Karena itu, penerapan konsumsi berkesadaran atau mindful consumption menjadi langkah penting agar setiap rupiah yang dikeluarkan dapat terpantau dengan baik.
Dampak Tersembunyi Pengeluaran Kecil
Mengeluarkan uang sebesar Rp10.000 untuk jajan mungkin terasa ringan. Namun, jika dilakukan setiap hari hingga waktu gajian berikutnya, jumlahnya bisa membengkak tanpa disadari.
Mike menegaskan bahwa setiap pengeluaran memiliki efek domino, tidak hanya terhadap kondisi finansial, tetapi juga psikologis seseorang. Kebiasaan meremehkan pengeluaran kecil dapat membentuk mentalitas yang menggampangkan uang, sehingga seseorang menjadi kurang cermat dalam menganalisis persoalan ekonomi secara rasional.
Tumpukan Barang, Cermin Keuangan yang Tidak Terkelola
Kondisi finansial yang kurang sehat kerap tercermin dari kebiasaan menumpuk barang yang tidak terpakai. Misalnya, pakaian yang jarang digunakan atau makanan yang terbuang karena tidak terkelola dengan baik.
Menurut Mike, prinsip mindful living dan mindful spending menekankan pentingnya arah, perencanaan, serta kendali dalam setiap keputusan finansial.
"Mindful living, mindful spending, itu sebenarnya mengenai terarah, terencana, dan terkendali," katanya.
Pemborosan dalam bentuk apa pun pada akhirnya bermuara pada kerugian finansial. Oleh sebab itu, memastikan setiap pembelian memiliki fungsi yang jelas dan esensial menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Kebutuhan atau Sekadar Gengsi?
Tantangan terbesar dalam pengelolaan keuangan harian adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Seseorang mungkin membutuhkan pakaian kerja yang layak, tetapi memilih merek mewah demi pengakuan sosial dapat menjadi bentuk pengeluaran yang tidak rasional.
Hal serupa berlaku ketika seseorang memilih tempat makan mahal demi citra tertentu, padahal ada alternatif yang lebih sesuai dengan kemampuan finansial.
"Kalau kita sebenarnya cukup dengan yang A sesuai kemampuan, tetapi karena ikut-ikutan kita memilih yang B demi validasi," ujar Mike.
Ia menekankan pentingnya memasukkan variabel kemampuan dan anggaran dalam setiap keputusan pembelian, selama fungsi dan manfaat produk tetap setara.
"Kita masukkan variabel kemampuan kita, budget kita berapa, dengan syarat bahwa semua fungsi dan manfaatnya sama," pungkasnya.
Next News

Manfaat Menulis dengan Tangan untuk Daya Ingat dan Kesehatan Mental
in 7 hours

Benarkah Lidah Merupakan Otot Terkuat dalam Tubuh Manusia? Ini Penjelasannya
in 7 hours

Mengapa Satu Hari Terdiri dari 24 Jam? Ini Sejarah dan Penjelasan Ilmiahnya
5 hours ago

Makna Lagu "About You" dari The 1975: Nostalgia, Kenangan, dan Luka Masa Lalu
in 6 hours

Perbedaan Dapur Kotor dan Dapur Bersih di Rumah!
in 6 hours

Mengenal Ginseng Jawa, Tanaman Herbal Lokal dengan Beragam Manfaat untuk Kesehatan
in 6 hours

Rahasia Tempe Orek: Penyelamat Dompet Tipis yang Selalu Dirindu
in 6 hours

Tips Penting Sebelum Pakai Panci Baru Biar Awet Bertahun-tahun
in 5 hours

Kenapa Bau Cat Rumah Baru Bisa Membuat Pusing?
in 6 hours

Jangan Anggap Remeh Bahaya Jamur Di Dinding Rumah
in 6 hours





