In This Economy, Cara Menghindari Kebiasaan Membeli Barang karena FOMO
Laila - Thursday, 05 November 2026 | 06:29 PM


In This Economy, Cara Menghindari Kebiasaan Membeli Barang karena FOMO
Di era media sosial, berbagai tren dapat menyebar dengan sangat cepat. Mulai dari pakaian, produk kecantikan, perangkat elektronik, hingga makanan dan minuman kekinian, semuanya bisa menjadi populer hanya dalam waktu singkat.
Ketika melihat banyak orang menggunakan atau merekomendasikan suatu produk, seseorang terkadang merasa harus memilikinya juga. Perasaan takut tertinggal dari tren atau tidak ingin ketinggalan pengalaman orang lain dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).
Kondisi ini dapat memengaruhi kebiasaan berbelanja, terutama ketika seseorang membeli barang bukan karena membutuhkan, melainkan karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman.
Padahal, dalam kondisi ekonomi yang menuntut pengelolaan keuangan lebih cermat, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dikurangi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar tidak mudah tergoda membeli barang hanya karena sedang viral.
1. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan Sebelum Membeli
Langkah pertama untuk menghindari FOMO adalah memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan merupakan sesuatu yang memang diperlukan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Sementara itu, keinginan lebih sering muncul karena ketertarikan, rasa penasaran, atau pengaruh lingkungan.
Sebagai contoh, membeli ponsel baru karena perangkat lama sudah rusak merupakan keputusan berdasarkan kebutuhan. Namun, membeli ponsel terbaru hanya karena banyak teman menggunakannya termasuk keputusan yang lebih dipengaruhi keinginan.
Sebelum melakukan transaksi, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya ingin dimiliki karena sedang populer.
2. Jangan Langsung Membeli Produk yang Sedang Viral
Produk yang sedang ramai dibicarakan sering kali membuat seseorang tertarik untuk segera membelinya. Apalagi jika tersedia penawaran terbatas atau promosi dengan batas waktu tertentu.
Untuk menghindari keputusan impulsif, cobalah menerapkan aturan menunda pembelian selama 24 hingga 72 jam.
Gunakan waktu tersebut untuk mempertimbangkan manfaat, harga, kualitas, dan kegunaan produk. Jika setelah beberapa hari keinginan membeli sudah berkurang, kemungkinan barang tersebut memang bukan kebutuhan penting.
Cara sederhana ini dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih tenang.
3. Kurangi Melihat Konten yang Memicu Keinginan Belanja
Media sosial menjadi salah satu sumber munculnya perilaku FOMO. Konten rekomendasi produk, unboxing, ulasan barang, dan gaya hidup mewah dapat membuat seseorang merasa perlu memiliki hal serupa.
Jika merasa mudah tergoda setelah melihat konten belanja, cobalah mengurangi paparan terhadap unggahan semacam itu.
Kamu bisa berhenti mengikuti akun yang terlalu sering menampilkan promosi produk atau membatasi waktu menjelajahi aplikasi belanja.
Bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya, tetapi lebih selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi setiap hari.
4. Buat Anggaran Belanja Bulanan
Mengatur anggaran merupakan salah satu cara penting untuk menjaga kondisi keuangan.
Sebelum menggunakan uang, pisahkan terlebih dahulu dana untuk kebutuhan pokok, transportasi, tagihan, tabungan, dan keperluan lainnya.
Setelah itu, tentukan batas pengeluaran untuk membeli barang tambahan atau memenuhi keinginan pribadi.
Dengan memiliki anggaran yang jelas, seseorang dapat mengetahui kemampuan finansialnya dan tidak mudah menghabiskan uang hanya karena mengikuti tren.
Jika dana untuk belanja tambahan sudah habis, sebaiknya tunda pembelian hingga periode anggaran berikutnya.
5. Jangan Membandingkan Gaya Hidup dengan Orang Lain
Melihat teman atau orang lain memiliki barang baru terkadang menimbulkan keinginan untuk membeli produk serupa.
Perasaan tersebut bisa semakin kuat ketika melihat unggahan media sosial yang menampilkan gaya hidup mewah, liburan, atau koleksi barang mahal.
Namun, penting untuk diingat bahwa kondisi keuangan setiap orang berbeda. Barang yang mampu dibeli orang lain belum tentu sesuai dengan kemampuan finansial kita.
Daripada membandingkan kehidupan dengan orang lain, lebih baik fokus pada kebutuhan, kemampuan, dan tujuan keuangan pribadi.
6. Hindari Terjebak Diskon dan Promo yang Tidak Diperlukan
Diskon, cashback, gratis ongkir, dan promosi waktu terbatas sering membuat seseorang merasa harus segera berbelanja.
Padahal, harga murah tidak selalu berarti menguntungkan apabila barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan.
Misalnya, membeli tiga produk sekaligus hanya karena ada promo potongan harga dapat membuat pengeluaran lebih besar daripada membeli satu produk yang memang diperlukan.
Sebelum memanfaatkan promosi, periksa kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan apakah harga akhirnya sesuai dengan anggaran.
7. Tentukan Tujuan Keuangan Jangka Panjang
Memiliki tujuan keuangan dapat membantu seseorang lebih berhati-hati dalam menggunakan uang.
Contohnya, menabung untuk membeli kendaraan, melanjutkan pendidikan, membangun dana darurat, atau mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Ketika memiliki tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah mempertimbangkan apakah membeli barang karena tren sepadan dengan pengorbanan terhadap rencana keuangan tersebut.
Setiap kali muncul keinginan belanja impulsif, ingat kembali tujuan yang ingin dicapai.
8. Cari Alternatif Sebelum Membeli Barang Baru
Tidak semua kebutuhan harus dipenuhi dengan membeli produk terbaru. Terkadang, barang yang sudah dimiliki masih dapat digunakan atau diperbaiki.
Jika ingin mencoba sesuatu yang sedang populer, pertimbangkan untuk meminjam, menyewa, atau mencari alternatif dengan harga lebih terjangkau.
Misalnya, daripada langsung membeli perangkat elektronik terbaru, periksa terlebih dahulu apakah perangkat lama masih berfungsi dengan baik.
Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi pemborosan sekaligus membuat penggunaan barang menjadi lebih maksimal.
Mengapa FOMO Bisa Membuat Seseorang Lebih Konsumtif?
FOMO berkaitan dengan perasaan takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau tren yang sedang diikuti orang lain.
Dalam kebiasaan berbelanja, perasaan tersebut dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru. Ketika melihat produk tertentu digunakan banyak orang, muncul anggapan bahwa barang tersebut harus segera dimiliki agar tidak merasa ketinggalan.
Selain itu, promosi yang terus muncul di media sosial dapat memperkuat dorongan untuk membeli. Apalagi ketika sebuah produk dikaitkan dengan popularitas, gaya hidup, atau penerimaan dalam lingkungan pertemanan.
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih mengutamakan keinginan sesaat daripada kebutuhan yang sebenarnya.
In This Economy, Belanja Bijak Lebih Penting daripada Mengikuti Tren
Mengikuti perkembangan tren bukanlah sesuatu yang salah. Seseorang tetap boleh membeli barang yang sedang populer selama sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.
Namun, penting untuk tidak menjadikan popularitas sebagai alasan utama dalam setiap keputusan belanja.
Dalam kondisi ekonomi yang menuntut pengeluaran lebih terencana, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi semakin penting.
Tidak harus memiliki semua barang yang sedang viral untuk menikmati kehidupan. Justru, kemampuan mengendalikan diri, mengatur anggaran, dan menentukan prioritas merupakan kebiasaan yang dapat membantu menjaga keuangan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, tidak ketinggalan tren bukan berarti harus selalu membeli sesuatu yang baru. Lebih baik memiliki barang yang benar-benar bermanfaat daripada menghabiskan uang hanya demi mengikuti sesuatu yang mungkin segera terlupakan.
Next News

Memasak dengan Mengukus dan Merebus, Mana yang Lebih Baik untuk Mempertahankan Nutrisi?
in 5 hours

Prebiotik dan Probiotik, Dua Komponen yang Berperan dalam Kesehatan Pencernaan
in 5 hours

Kandungan Omega-3 pada Ikan Kembung yang Baik untuk Menunjang Fungsi Otak
in 5 hours

Manfaat Madu untuk Kesehatan dan Cara Mengonsumsinya
in 5 hours

Keunikan Buah Markisa yang Memiliki Banyak Biji
in 5 hours

In This Economy, Strategi Menghadapi Kenaikan Harga Kebutuhan Sehari-hari
in 5 hours

Daripada Membeli Minuman Mahal, Sebaiknya Buat Minuman Sehat di Rumah
in 5 hours

Daripada Menghabiskan Waktu untuk Scroll Media Sosial, Sebaiknya Lakukan Hal Produktif
in 5 hours

Daripada Membeli Barang karena Tren, Sebaiknya Pertimbangkan Kebutuhannya
in 5 hours

Bikin Banyak Orang Ikut Terbawa Suasana, Ini Alasan Stop The Wedding! Menjadi Lagu Viral
in 5 hours





