Hubungan Stres dan Penyakit Autoimun: Benarkah Emosi Bisa Memengaruhi Tubuh?
Tata - Thursday, 13 August 2026 | 08:40 AM


Jangan Dipendam Terus, Nanti Sel Imunmu Ngamuk: Hubungan Antara Hati yang Luka dan Penyakit Autoimun
Pernah nggak sih kamu merasa badan pegal-pegal, lemas nggak ketulungan, atau mendadak sakit kepala padahal seharian cuma rebahan atau kerja di depan laptop? Kamu mungkin mikir, "Ah, paling cuma kecapekan biasa," atau "Kurang minum air putih kali, ya?" Tapi, coba deh tarik napas sebentar dan tanya ke diri sendiri: lagi ada beban pikiran yang lagi disimpan rapat-rapat nggak? Ternyata, pepatah lama yang bilang kalau penyakit itu datangnya dari pikiran bukan cuma isapan jempol atau sekadar motivasi receh di grup WhatsApp keluarga.
Di zaman yang serba cepat ini, kita sering banget dituntut buat jadi sosok yang "sok kuat". Ada masalah di kantor? Telan saja. Putus cinta yang bikin nyesek? Keep smiling dan posting foto estetik di Instagram. Kita diajarkan untuk memendam emosi dalam-dalam supaya nggak dianggap lemah atau drama. Padahal, emosi yang dipendam itu ibarat sampah yang ditumpuk di dalam kamar. Lama-lama bakal busuk, berbau, dan akhirnya merusak struktur "bangunan" tubuh kita sendiri. Salah satu dampak paling ngeri yang mulai banyak dibahas para ahli adalah hubungannya dengan penyakit autoimun.
Ketika Sel Imun Salah Sasaran Gara-Gara "Hati yang Ambyar"
Secara medis, autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh kita yang seharusnya jadi garda terdepan buat ngelawan virus atau bakteri, malah mendadak "linglung" dan nyerang sel-sel sehat di tubuh sendiri. Rasanya kayak punya bodyguard yang tiba-tiba kena panic attack terus malah mukulin majikannya sendiri. Pertanyaannya, kok bisa sistem imun kita jadi sebingung itu? Jawabannya seringkali bersembunyi di balik tumpukan emosi negatif yang nggak pernah kita rilis.
Para peneliti di bidang psikoneuroimunologi—iya, namanya memang ribet, tapi intinya ini ilmu yang mempelajari hubungan antara psikis, saraf, dan imun—menemukan kalau stres kronis akibat memendam emosi bisa bikin sistem imun kita korsleting. Saat kamu marah, sedih, atau kecewa tapi cuma bisa diam sambil nahan tangis, tubuh kamu sebenarnya lagi dalam mode "siaga satu". Hormon kortisol dan adrenalin bakal melonjak drastis. Kalau ini terjadi sekali dua kali sih nggak masalah. Tapi kalau kamu memendam perasaan bertahun-tahun? Itu namanya kamu lagi "menernak" bom waktu di dalam tubuh.
Budaya "Nggak Enakan" dan Toxic Positivity
Di Indonesia, kita punya budaya "nggak enakan" yang kental banget. Mau nolak permintaan teman tapi takut dia tersinggung, akhirnya diiyakan sambil ngedumel di hati. Mau protes ke atasan tapi takut karier mandek, akhirnya cuma bisa elus dada. Belum lagi gempuran toxic positivity yang selalu bilang "sabar ya, semua ada hikmahnya" tanpa kasih ruang buat kita buat bener-bener ngerasain sedih. Hal-hal kayak gini yang bikin kita makin jago memendam emosi.
Padahal, tubuh kita punya memori. Gabor Maté, seorang dokter yang banyak nulis soal hubungan stres dan penyakit, pernah bilang kalau kita nggak bisa bilang "tidak" secara verbal, maka tubuh kita yang bakal bilang "tidak" lewat penyakit. Ketika kamu menekan rasa marah atau rasa sakit hati secara terus-menerus, tubuh kamu bakal mengalami inflamasi atau peradangan kronis. Peradangan inilah yang kemudian memicu munculnya berbagai jenis penyakit autoimun, mulai dari Lupus, Rheumatoid Arthritis, sampai Psoriasis. Jadi, jangan heran kalau orang yang kelihatannya paling sabar dan nggak pernah marah, eh tiba-tiba divonis kena penyakit berat. Ya itu tadi, karena "perangnya" terjadi di dalam, bukan di luar.
Bukan Sekadar Sugesti, Ini Soal Kimia Tubuh
Mungkin ada yang mikir, "Masa sih cuma gara-gara sedih doang bisa kena autoimun? Lebay ah!" Eits, tunggu dulu. Ini bukan soal klenik atau sugesti semata. Secara biologis, emosi yang terpendam bakal mengganggu komunikasi antar sel. Saat kita stres, produksi sitokin (protein yang mengatur respon imun) jadi nggak beraturan. Imun kita jadi hiperaktif karena merasa ada ancaman terus-menerus, padahal ancamannya bukan virus, melainkan rasa sakit hati atau trauma masa lalu yang belum selesai.
Bayangin kalau kamu lagi main game perang, terus tombol kontrolnya rusak karena ketumpahan air. Karakter yang kamu mainin pasti bakal nembak ke segala arah, termasuk ke temen sendiri, kan? Nah, emosi yang dipendam itu kayak air yang tumpah ke sistem saraf kita. Semuanya jadi kacau balau. Sel imun yang harusnya patroli nyari kuman, malah fokus ngerusak sendi, kulit, atau organ dalam kita sendiri karena sinyal yang mereka terima udah terdistorsi sama stres emosional.
Belajar Rilis Emosi Sebelum "Meledak"
Terus, kita harus gimana? Apa harus marah-marah setiap saat biar nggak kena autoimun? Ya nggak gitu juga konsepnya. Intinya bukan jadi orang yang tempramental, tapi belajar untuk jujur sama perasaan sendiri. Kalau sedih, ya nangis aja. Kalau marah, cari cara sehat buat menyalurkannya, entah itu lewat olahraga, nulis jurnal (journaling lagi hits banget, lho!), atau curhat sama orang yang dipercaya. Kalau memang sudah terlalu berat, jangan malu buat pergi ke psikolog. Inget, pergi ke psikolog itu bukan berarti "gila", tapi itu bentuk self-care supaya fisik kamu nggak ikut ambruk.
Kita perlu paham kalau kesehatan itu satu paket. Kamu nggak bisa cuma jaga makan dan rajin olahraga, tapi hati kamu penuh dengan "sampah" emosi yang nggak pernah dibuang. Diet keto atau lari maraton tiap minggu nggak bakal banyak nolong kalau di dalam kepala kamu masih penuh dengan perang batin yang nggak kunjung usai. Mulailah dengerin apa kata badanmu. Kalau sering ngerasa sakit yang nggak jelas asalnya, mungkin itu cara tubuhmu buat bilang: "Tolong dong, gue capek pura-pura kuat terus."
Kesimpulannya, memendam emosi emang beneran bisa jadi pemicu atau setidaknya memperparah kondisi autoimun. Jadi, yuk mulai sekarang kurangi dosis "sok kuat"-nya. Berhenti jadi orang yang terlalu "baik" sampai lupa baik sama diri sendiri. Hidup ini sudah cukup berat, jangan ditambah lagi dengan beban emosi yang nggak perlu dibawa sampai tidur. Stay healthy, stay sane, dan yang paling penting: jangan lupa bahagia yang beneran bahagia, bukan cuma buat konten semata.
Next News

Mengenal Telur Omega-3: Nutrisi, Manfaat, dan Perbedaannya dengan Telur Biasa
in 7 hours

Kenapa Daging Wagyu Begitu Empuk dan Lezat? Ini Rahasia Marbling, Genetik, dan Cara Pemeliharaannya
in 7 hours

Kenapa Salmon Jarang Digoreng Deep-Fry? Ternyata Ada Alasan di Balik Tekstur dan Rasanya
in 7 hours

Kurang Tidur Bisa Memengaruhi Nafsu Makan: Benarkah Begadang Bikin Berat Badan Bertambah?
in 7 hours

Kenapa Kopi Banyak Ditanam di Dataran Tinggi? Ternyata Suhu Berpengaruh pada Cita Rasanya
in 7 hours

7 Kuliner Ekstrem Dunia yang Bikin Geleng Kepala: Dari Balut hingga Keju Fermentasi dengan Larva
in 6 hours

Kenapa Lalat Selalu Bikin Kesal? Ternyata Ada Alasan Biologis dan Kesehatan di Baliknya
in 6 hours

Nyeri Haid Berlebihan dan Menstruasi Banyak? Kenali Gejala Miom Rahim
in 6 hours

Menelusuri Asal-Usul Red Velvet: Dari Kue Klasik hingga Jadi Minuman Kekinian
in 6 hours

Mager Berlebihan Bisa Memengaruhi Fungsi Otak, Saatnya Kurangi Budaya Rebahan
in 6 hours





