Selasa, 8 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Hobi, Uang, dan Waktu: Tiga Hal yang Sedang Didefinisikan Ulang Generasi Modern

Laila - Tuesday, 08 September 2026 | 07:00 PM

Background
Hobi, Uang, dan Waktu: Tiga Hal yang Sedang Didefinisikan Ulang Generasi Modern

Hobi, Uang, dan Waktu: Tiga Hal yang Sedang Didefinisikan Ulang Generasi Modern

Pernahkah Anda duduk di sebuah kafe, menyesap kopi susu gula aren yang harganya setara dengan tiga porsi nasi rames, lalu tiba-tiba merasa bersalah karena tidak sedang melakukan sesuatu yang produktif? Kalau iya, selamat, Anda adalah bagian dari generasi yang sedang mengalami krisis identitas masal. Kita hidup di zaman di mana garis batas antara kesenangan, pekerjaan, dan istirahat sudah semakin kabur, seperti tulisan di kertas yang kena tumpahan air hujan.

Dulu, hidup itu simpel saja rumusnya. Sekolah yang rajin, cari kerja di perusahaan mapan, cicil rumah, hobi dilakukan saat akhir pekan, dan uang ditabung buat masa tua. Tapi sekarang? Definisi "normal" itu sudah lewat masa berlakunya. Generasi milenial akhir dan Gen Z punya cara pandang yang jauh berbeda—dan jujur saja, agak liar—mengenai hobi, uang, dan waktu. Mari kita bedah satu per satu kenapa tiga hal ini sedang mengalami proses instal ulang besar-besaran.

Hobi: Dari Pelarian Menjadi Cuan (dan Tekanan Baru)

Ingat tidak zaman dulu ketika hobi itu ya cuma sekadar hobi? Kalau hobi main bola, ya main saja sampai magrib. Kalau hobi gambar, ya gambar saja di buku tulis sampai penuh coretan. Tidak ada beban. Tapi sekarang, ada semacam tekanan sosial yang tidak tertulis: hobi kamu harus bisa menghasilkan uang. Kalau kamu suka masak, teman-temanmu bakal bilang, "Eh, kenapa nggak jualan aja?" Kalau kamu hobi fotografi, komentarnya adalah, "Sayang banget lho skill-nya, mending buka jasa pre-wedding."

Fenomena monetisasi hobi ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, enak memang kalau kesenangan bisa jadi sumber penghasilan. Tapi di sisi lain, hobi yang tadinya jadi tempat pelarian dari stres pekerjaan, sekarang malah jadi pekerjaan itu sendiri. Akhirnya, kita kehilangan ruang aman untuk menjadi "payah" dalam sesuatu. Kita merasa harus selalu kompeten, harus selalu estetik, dan harus selalu marketable. Hobi yang dulu fungsinya untuk healing, malah sering kali bikin feeling jadi makin pusing karena urusan algoritma media sosial.

Namun, belakangan mulai muncul gerakan balik. Banyak anak muda yang mulai memisahkan lagi mana hobi untuk cari makan dan mana hobi yang benar-benar untuk menjaga kewarasan. Hobi "nggak guna" mulai naik daun lagi, seperti sekadar jalan kaki tanpa tujuan atau menyusun lego tanpa perlu dipamerkan di Instagram Story. Definisi hobi sedang bergeser kembali ke khitahnya: aktivitas yang dilakukan karena kita menyukainya, titik.



Uang: Antara Self-Reward dan Realita Ekonomi yang Brutal

Bicara soal uang, generasi sekarang sering dituduh boros oleh generasi pendahulunya. "Gimana mau beli rumah kalau tiap hari beli kopi mahal dan langganan Netflix?" begitu kira-kira sindirannya. Padahal, kalau mau jujur-jujuran, harga rumah saat ini sudah melompat ke luar angkasa, sementara kenaikan gaji masih merangkak di permukaan tanah menggunakan gaya ulat bulu.

Karena merasa mimpi membeli properti atau aset besar lainnya semakin tidak masuk akal, banyak anak muda yang mendefinisikan ulang fungsi uang. Uang tidak lagi hanya dilihat sebagai alat tumpukan aset untuk masa depan yang tidak pasti, tapi sebagai tiket untuk "pengalaman" saat ini. Istilah doom spending muncul karena perasaan pesimis terhadap ekonomi masa depan. Akhirnya, daripada uangnya habis dimakan inflasi yang tidak sebanding dengan tabungan, lebih baik dipakai untuk nonton konser artis idola atau traveling ke tempat yang selama ini cuma dilihat di wallpaper laptop.

Pandangan terhadap uang sekarang lebih ke arah well-being. Uang dicari untuk membeli kenyamanan mental. Kita rela membayar lebih untuk jasa kurir makanan agar tidak perlu terjebak macet, atau membayar langganan aplikasi meditasi agar bisa tidur nyenyak. Bagi generasi modern, uang adalah alat untuk membeli waktu dan ketenangan, bukan sekadar angka di buku tabungan yang bikin pusing tujuh keliling kalau dilihat di akhir bulan.

Waktu: Mata Uang Paling Mahal yang Tak Bisa Di-refund

Terakhir, dan yang paling krusial, adalah waktu. Dulu, orang bangga kalau pulang kantor paling terakhir atau kalau bisa kerja lembur sampai tipes. Sekarang? Hal itu dianggap "nggak banget". Generasi modern mulai sadar bahwa waktu adalah aset yang paling terbatas. Kita tidak mau lagi menukar seluruh waktu hidup kita hanya untuk kepentingan perusahaan yang kalau kita meninggal besok pun, lowongan kerjanya sudah tayang di LinkedIn lusa pagi.

Konsep work-life balance pun mulai bergeser menjadi work-life integration atau bahkan quiet quitting. Intinya satu: perlindungan terhadap waktu pribadi. Kita lebih menghargai waktu untuk tidur siang, waktu untuk tidak membalas chat kantor setelah jam 6 sore, dan waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa sibuk bukan berarti produktif, dan diam bukan berarti malas.



Fleksibilitas waktu menjadi harga mati. Inilah alasan kenapa banyak anak muda lebih memilih jadi freelancer atau mencari pekerjaan yang sistemnya WFA (Work From Anywhere). Bisa bekerja sambil menunggu jemputan anak, atau sambil nongkrong di perpustakaan kota, adalah kemewahan baru. Definisi sukses tidak lagi soal punya ruangan kantor di lantai paling atas, tapi soal siapa yang punya kendali penuh atas jam dindingnya sendiri.

Kesimpulan: Mencari Harmoni di Tengah Kekacauan

Pada akhirnya, pendefinisian ulang hobi, uang, dan waktu ini adalah bentuk adaptasi. Kita hidup di dunia yang berisik, cepat, dan sering kali tidak masuk akal. Menyamakan standar hidup kita dengan standar hidup orang tua kita di tahun 80-an itu ibarat mencoba menjalankan aplikasi game berat di handphone jadul: nggak bakal nyambung dan bikin panas mesin.

Mungkin memang saat ini kita terlihat santai, sering mengeluh di Twitter, atau hobi beli barang-barang lucu yang dianggap tidak penting. Tapi di balik itu semua, ada upaya besar untuk mencari kebahagiaan yang lebih autentik. Kita sedang belajar bahwa hobi tidak harus cuan, uang tidak harus selalu jadi rumah, dan waktu tidak harus selalu jadi kerja keras. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi seberapa "hidup" kita saat menjalaninya.

Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kalau hari ini hobi kamu cuma rebahan, uang kamu cuma cukup buat beli seblak, dan waktu kamu habis buat nonton video kucing, ya tidak apa-apa. Selama itu bikin kamu merasa manusiawi, kamu sudah melakukan hal yang benar di dunia yang sedang gila ini.

Tags