Jumat, 29 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Healing Bukan Cuma Tren: Alasan Kamu Harus Kembali ke Alam

RAU - Wednesday, 27 May 2026 | 01:35 PM

Background
Healing Bukan Cuma Tren: Alasan Kamu Harus Kembali ke Alam

Healing Tipis-tipis: Kenapa Kita Mendadak Jadi Pemuja Alam Saat Quarter Life Crisis Menyerang?

Pernah nggak sih, kamu merasa kalau layar ponselmu itu kayak jendela penjara? Tiap kali scroll TikTok atau Instagram, isinya kalau nggak orang pamer kekayaan, ya berita politik yang bikin tensi naik. Di saat-saat jenuh begini, biasanya ada satu kata sakti yang keluar dari mulut anak muda zaman sekarang: "Healing". Dan kalau sudah ngomongin healing, destinasi paling favorit ya apalagi kalau bukan kembali ke alam. Entah itu naik gunung sampai kaki gempor, atau cuma sekadar duduk di pinggir sungai sambil bengong kayak orang kurang motivasi hidup.

Jujurly, fenomena mencintai alam ini jadi semacam tren yang meledak belakangan ini. Dulu, orang yang masuk hutan atau naik gunung itu identik sama aktivis lingkungan yang bajunya bau matahari atau Mapala yang mukanya sangar-sangar. Sekarang? Lihat saja di media sosial. Semua orang mendadak jadi "anak alam". Pakai outfit outdoor mahal-mahal dari merek ternama, sepatu hiking yang harganya setara cicilan motor, padahal cuma buat foto estetik di depan tenda yang disewa dari jasa porter. Tapi ya sudahlah, itu hak asasi masing-masing, kan?

Alam Sebagai Terapis Tanpa Biaya Sesi

Kenapa sih kita butuh banget sama yang namanya alam? Kalau dipikir-pikir pakai logika sehat, alam itu sebenarnya tempat yang nggak nyaman-nyaman amat. Ada nyamuk, ada pacet, kalau hujan jadi becek, dan nggak ada stopkontak buat ngecas HP. Tapi anehnya, justru di tempat-tempat "nggak nyaman" itulah, jiwa kita yang sudah lecet-lecet dihajar deadline kantor merasa sedikit terobati. Ada semacam magis yang nggak bisa dijelaskan lewat kata-kata saat kita menghirup bau tanah sehabis hujan yang sering disebut petrichor itu.

Duduk diam di bawah pohon besar itu rasanya kayak dapet pelukan dari kakek-nenek yang nggak banyak tanya kapan nikah. Alam itu pendengar yang baik. Kamu bisa curhat apa saja di depan air terjun tanpa perlu takut bakal dijadiin bahan gosip di grup WhatsApp kantor. Alam memberikan ruang kosong yang selama ini kita hilangkan karena terlalu sibuk sama kebisingan kota. Di sana, suara bising knalpot diganti sama simfoni jangkrik dan gesekan daun-daun yang tertiup angin. Simpel banget, tapi dampaknya ke kesehatan mental itu luar biasa nyata.

Kontradiksi Si Pemuja Alam di Era Digital

Ada satu hal yang lucu sekaligus ironis kalau kita bahas soal hubungan anak muda sekarang sama alam. Kita pergi ke hutan buat "disconnect" alias lepas dari ketergantungan teknologi. Tapi, hal pertama yang kita lakukan pas sampai di puncak bukit atau pinggir pantai adalah angkat HP tinggi-tinggi buat cari sinyal. Tujuannya? Update story dengan caption "Lost in the wild" atau "Back to nature". Rasanya kalau momen itu nggak dibagikan ke dunia maya, seolah-olah kita nggak beneran lagi di alam.



Padahal, esensi dari menikmati alam itu adalah soal kehadiran diri sepenuhnya di situ. Menikmati bagaimana dinginnya air sungai menyentuh kulit, atau bagaimana cahaya matahari pagi menembus celah-celah pohon. Kadang, kita terlalu sibuk nyari angle foto terbaik sampai lupa menikmati oksigen gratis yang berlimpah. Kita lebih peduli sama feed Instagram yang estetik daripada beneran ngerasain kedamaian yang ditawarkan. Tapi ya, namanya juga manusia modern, eksistensi digital seringkali dianggap sama pentingnya dengan kesehatan mental itu sendiri.

Alam Nggak Butuh Kita, Kita yang Butuh Dia

Mari kita bicara pahitnya. Seringkali kita merasa kalau kita ini pahlawan lingkungan cuma karena sudah bawa botol minum sendiri atau posting foto "Save the Earth". Padahal, alam itu sebenarnya nggak butuh-butuh amat sama eksistensi kita. Tanpa manusia, alam bakal tetap baik-baik saja, malah mungkin makin subur. Justru kitalah yang sangat bergantung sama alam. Kalau hutan habis, yang sesak napas ya kita. Kalau laut penuh sampah plastik, yang makan ikan beracun ya kita juga.

Observasi ringan saya sih, banyak orang yang ngaku cinta alam tapi kelakuannya masih kayak nggak punya etika. Masih banyak pendaki yang ninggalin sampah bungkus mie instan di puncak gunung, atau wisatawan yang ngerusak terumbu karang demi foto selfie yang kece. Ini yang namanya "toxic relationship" sama alam. Kita ambil semua manfaatnya, tapi kita kasih sampah sebagai balasannya. Sedih nggak sih?

Kembali ke Dasar: Menemukan Diri di Antara Pepohonan

Pada akhirnya, alam adalah cermin. Pas kita lagi di tengah hutan yang luas, kita bakal ngerasa kecil banget. Semua masalah hidup kita, cicilan yang menumpuk, atau patah hati karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, jadi terasa nggak ada apa-apanya dibanding luasnya jagat raya. Alam mengajarkan kita soal kesabaran. Pohon nggak tumbuh dalam semalam, bunga mekar ada waktunya sendiri. Kita nggak bisa maksa alam buat ngikutin ritme hidup kita yang serba instan ini.

Jadi, buat kamu yang ngerasa lagi "burnout" atau cuma sekadar capek sama drama kehidupan, coba deh sekali-kali jalan kaki ke taman kota, atau kalau ada waktu lebih, melipir ke gunung atau pantai terdekat. Nggak perlu bawa perlengkapan yang terlalu ribet kalau emang nggak niat camping. Yang penting, simpan HP-mu sebentar saja, duduk diam, dan dengerin apa yang alam mau bilang ke kamu. Mungkin dia cuma mau bilang, "Santai saja, dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu istirahat sebentar."



Menghargai alam nggak harus selalu dengan cara yang megah. Bisa mulai dari hal kecil, kayak nggak buang puntung rokok sembarangan atau belajar buat nggak maruk saat ambil sumber daya. Alam sudah terlalu baik sama kita, masa kita terus-terusan jadi tamu yang kurang ajar? Yuk, mulai sekarang kita jadikan alam sebagai tempat pulang yang beneran dijaga, bukan cuma dijadikan latar belakang konten biar kelihatan edgy di media sosial. Karena pada akhirnya, di sinilah satu-satunya tempat kita bisa beneran bernapas lega.