Minggu, 1 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Hati-Hati, Konsumsi Gula Berlebih Bisa Jadi "Musuh Manis" yang Merusak Kesehatan Diam-Diam

Tata - Sunday, 01 March 2026 | 09:00 AM

Background
Hati-Hati, Konsumsi Gula Berlebih Bisa Jadi "Musuh Manis" yang Merusak Kesehatan Diam-Diam

Hati-hati, Manisnya Gula Bisa Jadi Mantan yang Paling Toxic dalam Hidupmu

Coba ingat-ingat lagi, dalam satu jam terakhir, berapa banyak asupan manis yang masuk ke tenggorokanmu? Mungkin tadi pagi kamu memulai hari dengan segelas es kopi susu gula aren yang "double shot" biar semangat. Pas makan siang, rasanya nggak lengkap kalau nggak ditutup dengan es teh manis jumbo yang gulanya sampai mengendap di dasar gelas. Sore-sore, pas lagi pusing dikejar deadline, kamu pesan boba atau martabak manis lewat aplikasi ojek online buat "self-reward". Rasanya surga banget, kan?

Tapi jujur saja, hubungan kita sama yang namanya gula itu sebenarnya mirip banget sama hubungan toxic. Awalnya manis, bikin baper, dan bikin kita merasa dunia indah banget. Tapi lama-lama, dia diam-diam merusak dari dalam, bikin kita ketergantungan, sampai akhirnya kita sadar kalau kita sudah terjebak dalam lingkaran setan yang susah diputus. Masalahnya, di Indonesia, gula sudah jadi bagian dari budaya. Nggak manis, nggak afdol. Padahal, kalau kita nggak mulai rem sekarang, masa depan kesehatan kita taruhannya.

Gula: Si "Hidden Gem" yang Muncul di Mana-mana

Satu hal yang sering kita lupakan adalah gula nggak cuma ada di sendok yang kita masukkan ke dalam teh. Gula itu cerdik, dia punya banyak nama samaran dan sering sembunyi di balik label makanan yang kelihatannya sehat. Kamu pikir dengan makan sereal atau granola bar setiap pagi sudah hidup sehat? Coba cek lagi labelnya. Terkadang kandungan pemanis tambahannya bisa bikin geleng-geleng kepala. Belum lagi saus sambal, kecap manis, sampai roti tawar yang kita makan setiap hari.

Kita sering terjebak dalam pola pikir kalau "yang penting nggak makan permen". Padahal, nasi putih yang kita konsumsi dalam porsi kuli itu juga bakal berubah jadi glukosa di dalam tubuh. Istilahnya, kita dikepung dari segala penjuru. Kalau di media sosial ada istilah "hidden gem" buat tempat-tempat asyik yang belum diketahui orang, nah gula ini adalah "hidden gem" yang bikin timbangan naik dan gula darah melonjak tanpa kita sadari. Rasanya enak, tapi efeknya ke badan itu lho, yang nggak main-main.

Efek Domino: Dari Jerawat Sampai Lemas yang Nggak Berujung

Pernah nggak sih kamu merasa ngantuk banget setelah makan siang yang berat dan manis? Itu namanya sugar crash. Saat kita mengonsumsi gula berlebih, tubuh kita memproduksi insulin secara besar-besaran buat menyeimbangkan kadar gula darah. Setelah kadar gulanya turun drastis, energi kita ikut terjun bebas. Akhirnya, kita malah jadi lemas, nggak fokus, dan bawaannya pengen ngemil yang manis-manis lagi buat "mancing" energi. Benar-benar siklus yang nggak ada habisnya.



Buat kamu yang lagi rajin skincare-an tapi jerawat nggak kunjung hilang, mungkin masalahnya bukan di krim malam kamu, tapi di es kopi yang kamu minum setiap sore. Gula punya sifat pro-inflamasi alias memicu peradangan. Selain itu, ada proses yang namanya glikasi, di mana gula merusak kolagen dan elastin di kulit. Hasilnya? Kulit jadi gampang kusam, muncul garis halus lebih cepat, dan jerawat jadi hobi mampir. Jadi, percuma beli serum harga jutaan kalau asupan gula harian masih setara satu pabrik permen.

Bukan Berarti Harus Jadi "Anti-Gula" Garis Keras

Mari bicara jujur: hidup tanpa gula itu membosankan banget. Bayangkan kondangan tanpa es buah atau ulang tahun tanpa kue. Sedih, kan? Kita nggak perlu jadi orang yang ekstrem sampai nggak mau sentuh gula sama sekali. Kuncinya adalah sadar diri dan tahu batasan. Kita perlu melakukan negosiasi ulang dengan lidah kita sendiri. Lidah kita itu sebenarnya bisa dilatih, lho. Kalau biasanya kamu pesan minuman dengan gula normal, coba deh sesekali minta "less sugar" atau bahkan "no sugar". Awalnya mungkin hambar, tapi lama-lama kamu bakal bisa merasakan rasa asli dari kopi atau teh yang kamu minum.

Selain itu, mulailah jadi orang yang skeptis sama label makanan. Jangan langsung percaya sama tulisan "Low Fat" atau "Healthy Option". Seringkali, makanan yang rendah lemak justru ditambah gula yang banyak supaya rasanya tetap enak. Jadi, mendingan kita makan makanan utuh (whole foods) daripada makanan olahan yang bungkusnya penuh janji manis tapi isinya cuma karbohidrat kosong.

Memulai Langkah Kecil Sebelum Terlambat

Kurangi gula itu nggak harus dimulai dengan revolusi besar-besaran dalam semalam. Mulailah dari hal-hal kecil yang nggak menyiksa batin. Misalnya, ganti camilan sore dari gorengan atau donat dengan buah-buahan segar. Buah juga mengandung gula (fruktosa), tapi mereka punya serat yang bikin penyerapan gulanya nggak langsung bikin tubuh kaget. Atau, kalau lagi nongkrong di kafe, tantang diri sendiri buat pesan minuman yang nggak pakai sirup-sirupan aneh.

Ingat, diabetes itu bukan cuma penyakit orang tua. Sekarang, banyak anak muda di usia 20-an atau 30-an yang sudah harus rutin minum obat karena gaya hidup yang "kebablasan". Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari cuma karena kita nggak bisa menahan diri buat nggak minum minuman manis setiap jam. Sehat itu investasi, dan mengurangi gula adalah salah satu instrumen investasi terbaik yang bisa kamu lakukan buat dirimu di masa depan.



Jadi, gimana? Siap buat putus pelan-pelan sama "mantan toxic" yang namanya gula berlebih ini? Nggak usah buru-buru, yang penting konsisten. Karena pada akhirnya, manisnya hidup yang sesungguhnya itu datang dari badan yang bugar dan pikiran yang jernih, bukan dari sesendok gula tambahan di dalam gelasmu. Yuk, mulai kurangi dari sekarang!