Kamis, 16 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Gak Ada Matinya: Alasan Kenapa Motif Salur Selalu Punya Tempat di Lemari Kita

RAU - Thursday, 16 April 2026 | 09:35 AM

Background
Gak Ada Matinya: Alasan Kenapa Motif Salur Selalu Punya Tempat di Lemari Kita

Gak Ada Matinya: Alasan Kenapa Motif Salur Selalu Punya Tempat di Lemari Kita

Coba deh kamu buka lemari pakaian sekarang. Saya berani taruhan, setidaknya ada satu helai baju bermotif salur alias garis-garis yang nyelip di sana. Entah itu kaos hitam-putih ala maba, kemeja biru muda buat ngantor, atau kaos oversized yang udah agak belel tapi tetep enak dipake rebahan. Motif salur itu ibarat nasi goreng di daftar menu restoran: sesederhana apa pun pilihannya, dia nggak pernah salah dan selalu jadi penyelamat di saat kita bingung mau pakai baju apa.

Anehnya, meski tren fashion muter-muter dari zaman celana cutbray, era warna neon yang nabrak, sampe tren quiet luxury yang serba polos belakangan ini, motif salur nggak pernah bener-bener pergi. Dia nggak kayak motif "macan tutul" yang kadang dianggap norak atau motif bunga-bunga yang sering dibilang mirip daster ibu-ibu. Salur punya privilese untuk selalu dianggap keren. Tapi, pernah nggak sih kamu nanya, kok bisa sih garis-garis doang sebegitu berpengaruhnya?

Dulu Simbol Narapidana, Sekarang Simbol Gaya

Kalau kita tarik mundur sejarahnya, motif salur ini sebenarnya punya masa lalu yang agak kelam. Di Eropa zaman dulu, motif garis-garis itu identik dengan orang-orang buangan. Narapidana, badut, bahkan orang-orang yang dianggap "bermasalah" dipaksa pakai baju garis-garis supaya gampang dikenali dari jauh. Istilahnya, ini adalah "The Devil's Cloth" atau kain iblis. Bayangin, motif yang sekarang kita anggap estetik buat foto OOTD di cafe, dulunya adalah tanda kalau pemakainya itu orang yang harus dijauhi.

Transformasi "kasta" motif ini mulai berubah saat Angkatan Laut Prancis menetapkan kaos garis-garis (yang kemudian dikenal sebagai Breton stripes) sebagai seragam resmi mereka di tahun 1858. Fungsinya praktis: kalau ada pelaut yang jatuh ke laut, garis-garis itu bakal lebih kelihatan di tengah ombak dibanding warna polos. Terus, muncullah Coco Chanel. Legenda fashion ini terinspirasi dari para pelaut tersebut dan membawa motif salur ke ranah high fashion. Sejak saat itu, salur bukan lagi soal "buangan," melainkan soal gaya hidup pesisir yang elegan, santai, dan sangat Prancis.

Si Paling Fleksibel dan Anti-Gagal

Satu alasan kuat kenapa motif salur terus jadi tren adalah sifatnya yang "bunglon". Dia bisa diajak serius, bisa juga diajak santai. Kamu pakai kemeja salur vertikal buat ketemu klien? Kelihatan profesional dan rapi. Kamu pakai kaos salur horizontal buat nongkrong sore di Blok M? Kelihatan effortless dan asik. Jarang ada motif yang punya rentang fleksibilitas seluas ini.



Selain itu, motif salur itu "netral tapi nggak ngebosenin". Kalau kamu pakai baju polos terus, kadang rasanya ada yang kurang, kayak sayur tanpa garam. Tapi kalau pakai motif yang terlalu ramai, kadang kita merasa "keberatan" atau nggak pede. Nah, salur hadir di tengah-tengah sebagai penengah yang adil. Dia memberikan tekstur visual tanpa bikin mata orang yang melihat jadi pusing.

Ilusi Mata yang Menguntungkan

Bicara soal salur nggak lengkap tanpa bahas mitos atau fakta soal bentuk tubuh. Kita sering banget denger saran: "Pakai garis vertikal biar kelihatan kurus, jangan pakai horizontal nanti kelihatan lebar." Meskipun teori ini sering didebatkan oleh para ahli persepsi visual, sugesti ini terlanjur melekat kuat di kepala kita.

Motif salur vertikal memang punya kemampuan magis buat "memanjangkan" siluet tubuh. Garis-garis yang tegak lurus menipu mata untuk melihat dari atas ke bawah, memberikan kesan pemakainya lebih tinggi dan ramping. Sebaliknya, garis horizontal sering dianggap bikin badan lebih bervolume. Tapi hey, di era sekarang yang lebih merayakan body positivity, aturan-aturan lama ini mulai luntur. Banyak orang justru sengaja pakai salur horizontal lebar buat dapetin kesan boxy yang lagi tren di kalangan anak muda sekarang. Intinya, salur itu alat manipulasi visual paling murah dan mudah yang bisa kita punya.

Investasi Fashion Paling Aman

Kalau kamu penganut gaya hidup minimalis atau lagi mencoba membangun capsule wardrobe, motif salur adalah investasi wajib. Di saat tren fast fashion bikin kita beli baju yang cuma bertahan ngetren selama tiga bulan, baju salur bakal tetep relevan sampai bertahun-tahun ke depan. Kamu nggak bakal ngerasa salah kostum pakai baju salur yang kamu beli tahun 2018 di tahun 2024 ini.

Bahkan brand-brand besar kayak Uniqlo, Saint James, sampai Comme des Garçons selalu punya koleksi salur yang terus diproduksi ulang setiap musim. Kenapa? Karena pasarnya selalu ada. Mulai dari mahasiswa baru yang baru kenal dunia fashion, mas-mas kantoran SCBD, sampai kakek-kakek yang mau jalan pagi, semuanya cocok pakai salur. Ini adalah motif demokratis yang nggak memandang kasta, usia, maupun gender.



Penutup: Sederhana Itu Abadi

Pada akhirnya, kenapa motif salur terus jadi tren bukan cuma soal sejarah atau teori visual, tapi soal kenyamanan psikologis. Ada rasa aman saat kita mengenakan sesuatu yang sudah teruji oleh waktu. Salur nggak nuntut kita buat jadi terlalu menonjol, tapi dia juga nggak ngebiarin kita tenggelam dalam kebosanan.

Jadi, kalau besok pagi kamu berdiri di depan lemari dan bingung mau pakai apa, ambil aja kaos salur kesayanganmu itu. Padukan sama jeans atau celana bahan, pakai sepatu sneakers, dan voila, kamu sudah siap menghadapi dunia tanpa harus pusing mikirin tren apa yang lagi viral di TikTok. Karena pada dasarnya, garis-garis itu bukan cuma sekadar motif, tapi sebuah pernyataan bahwa kesederhanaan itu abadi.