Kamis, 16 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Ekonomi

Harga Minyak Dunia Melonjak 8% Usai Ancaman Blokade Selat Hormuz oleh Trump

Nanda - Monday, 13 April 2026 | 11:24 AM

Background
Harga Minyak Dunia Melonjak 8% Usai Ancaman Blokade Selat Hormuz oleh Trump

Harga Minyak Meroket 8 Persen Pasca Ancaman Blokade Selat Hormuz

Dunia internasional kembali dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi setelah harga minyak mentah global dilaporkan melonjak tajam hingga 8 persen dalam sesi perdagangan terbaru. Kenaikan drastis ini dipicu oleh pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengancam akan melakukan blokade terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.

Pemicu Lonjakan Harga

Ketegangan yang kembali mendidih antara Washington dan Teheran mencapai puncaknya setelah upaya diplomasi dilaporkan menemui jalan buntu. Dalam pernyataan resminya, Presiden Trump menekankan bahwa AS siap mengambil langkah ekstrem untuk memutus jalur logistik jika kesepakatan mengenai program nuklir dan aktivitas militer Iran tidak segera tercapai.

Selat Hormuz sendiri merupakan titik nadi energi dunia, di mana hampir seperlima dari total konsumsi minyak bumi global melintas di perairan sempit tersebut setiap harinya. Ancaman blokade di wilayah ini secara otomatis memicu kepanikan pasar akan terjadinya kelangkaan pasokan.

Reaksi Pasar Global

Kenaikan harga sebesar 8 persen ini merupakan salah satu lompatan harian terbesar yang tercatat sepanjang tahun 2026. Dampaknya langsung terasa di berbagai sektor:

1. Harga Patokan Minyak: Minyak mentah jenis Brent dan WTI mengalami reli kenaikan yang signifikan, menjauhi angka stabil sebelumnya dan menciptakan tekanan inflasi baru bagi negara-negara pengimpor energi.



2. Sektor Transportasi: Maskapai penerbangan dan perusahaan logistik mulai mengantisipasi kenaikan biaya operasional akibat melambungnya harga bahan bakar jet dan solar.

3. Indeks Saham: Bursa saham di berbagai belahan dunia menunjukkan volatilitas tinggi, terutama pada emiten yang sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas.

Dampak Geopolitik dan Ekonomi

Para analis energi memperingatkan bahwa jika ancaman blokade ini benar-benar direalisasikan, dunia bisa menghadapi krisis energi yang lebih parah dibandingkan dekade sebelumnya. Selat Hormuz yang menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara tidak memiliki jalur alternatif yang sepadan secara kapasitas.

Langkah tegas dari Gedung Putih ini dipandang sebagai strategi tekanan maksimum untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan syarat yang lebih ketat. Namun, risiko dari strategi ini adalah "perang harga" yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global yang baru saja mulai stabil.

Lonjakan harga minyak sebesar 8 persen ini menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi internasional. Selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, pelaku pasar diperkirakan akan tetap dalam posisi waspada (wait and see), yang kemungkinan besar akan menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi dalam beberapa pekan ke depan.