Minggu, 26 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Gawat? Pakar Sebut Gen Z Terancam Alami Penurunan IQ akibat Doomscrolling

Tata - Sunday, 26 April 2026 | 08:45 PM

Background
Gawat? Pakar Sebut Gen Z Terancam Alami Penurunan IQ akibat Doomscrolling

Gawat, Pakar Bilang Gen Z Terancam Kurang Cerdas Dibanding Milenial: Gara-Gara Kebanyakan Doomscrolling?

Pernah nggak sih kalian lagi asyik nongkrong di coffee shop, terus melihat adik-adik Gen Z di meja sebelah sibuk bikin konten TikTok atau sibuk geser-geser layar HP dengan kecepatan cahaya? Di sisi lain, ada kakak-kakak Milenial yang masih sibuk ngetik email kerjaan sambil curhat soal asam lambung. Nah, belakangan ini ada perdebatan yang lumayan bikin panas telinga, terutama buat yang lahir di rentang tahun 1997 sampai 2012. Kabarnya, para pakar mulai angkat bicara soal fenomena "kemunduran" kecerdasan alias IQ yang dialami Gen Z jika dibandingkan dengan generasi pendahulu mereka, para Milenial.

Selama puluhan tahun, dunia akademik mengenal istilah "Flynn Effect". Intinya, setiap generasi itu rata-rata bakal lebih cerdas dari generasi sebelumnya. Skor IQ manusia naik terus sejak awal abad ke-20 karena nutrisi makin oke, sekolah makin bener, dan lingkungan makin mendukung otak buat mikir. Tapi, ibarat plot twist di film thriller, tren ini kabarnya mulai patah. Pakar menyebut ada "Reverse Flynn Effect". Bukannya makin pinter, skor IQ rata-rata di beberapa negara maju malah mulai merosot, dan Gen Z disebut-sebut sebagai korban pertamanya.

Lho, kok bisa? Padahal kan Gen Z itu tech-savvy banget? Bisa edit video dalam 5 menit, paham AI, dan jago nyari info di internet. Masalahnya, pinter pake gadget ternyata beda sama kecerdasan kognitif yang mendalam. Para ahli melihat ada pergeseran gaya hidup yang cukup radikal. Salah satu tersangka utamanya adalah diet informasi yang makin hari makin instan.

Coba deh jujur, kapan terakhir kali kalian baca artikel panjang sampai habis tanpa kegoda buat pindah aplikasi? Gen Z tumbuh di era algoritma yang manjain mereka dengan durasi singkat. Video 15 detik, caption pendek, dan poin-poin yang udah dirangkumin. Hal ini bikin kemampuan konsentrasi atau attention span kita jadi sependek umur story Instagram. Padahal, kecerdasan itu butuh kemampuan buat fokus lama, membedah masalah yang kompleks, dan menghubungkan satu variabel ke variabel lain. Kalau otaknya biasa dikasih yang "mateng" dan cepet, kemampuan analisis kritisnya bisa jadi letoy.

Gini lho, bayangin otak itu kayak otot. Kalau Milenial dulu mungkin masih ngerasain ribetnya nyari tugas di perpustakaan atau baca koran yang bahasanya berat, otak mereka dipaksa buat kerja keras. Sementara itu, Gen Z tinggal tanya ChatGPT atau nonton rangkuman di YouTube. Bukannya nggak boleh pake teknologi, tapi kemudahan ini bikin "otot" logika kita jarang dilatih. Akibatnya, pas ketemu masalah di dunia nyata yang nggak ada tutorialnya di TikTok, banyak yang langsung kena mental atau bingung mau mulai dari mana.



Selain soal gadget, ada juga faktor lingkungan yang sering dibahas pakar. Masalah kualitas udara, polusi mikroplastik, sampai pola makan yang penuh makanan olahan alias ultra-processed food juga dituduh punya andil. Tapi ya, alasan yang paling "ngena" tetep soal pola komunikasi. Sekarang orang lebih suka pake emoji atau bahasa slang yang singkat-singkat. Gaya bahasa "ygy", "p", atau cuma kirim stiker bikin kosa kata kita menyusut. Padahal, bahasa itu cerminan dari cara kita berpikir. Kalau kosa kata kita dikit, cara kita memahami dunia juga jadi terbatas.

Tapi ya jangan sedih dulu, wahai Gen Z. Klaim "kurang cerdas" ini sebenarnya masih diperdebatkan. Beberapa ahli lain berpendapat kalau tes IQ konvensional itu udah kuno. Tes IQ jadul mungkin cuma ngukur kemampuan matematika, logika formal, dan spasial. Padahal di era sekarang, ada yang namanya kecerdasan digital, kecerdasan emosional yang lebih inklusif, dan kemampuan multitasking yang gila-gilaan. Bisa jadi, Gen Z bukan makin bodoh, tapi jenis kecerdasannya aja yang geser fokus.

Hanya saja, kita nggak boleh tutup mata soal peringatan para pakar ini. Kalau beneran konsentrasi kita makin hancur gara-gara kebanyakan doomscrolling, ya itu lampu kuning. Kita nggak mau dong jadi generasi yang cuma jago joget tapi bingung pas disuruh jelasin korelasi inflasi sama harga seblak yang makin mahal? Atau generasi yang cuma tau "kulitnya" aja tanpa tau "isinya".

Menurut observasi sotoy saya, solusinya bukan berarti kita harus balik ke zaman batu dan buang HP. Tapi mungkin kita perlu sesekali "detoks" dari kecepatan dunia digital. Coba baca buku fisik lagi, dengerin podcast yang durasinya sejam tanpa dicepetin 2x speed, atau belajar skill baru yang butuh waktu lama buat dikuasai—kayak main alat musik atau nulis jurnal. Intinya, jangan biarkan algoritma yang ngatur isi kepala kita.

Pada akhirnya, perdebatan soal siapa yang lebih pinter antara Milenial dan Gen Z ini bakal terus ada. Milenial mungkin ngerasa lebih unggul karena mereka "jembatan" antara analog dan digital. Tapi Gen Z punya kelebihan di sisi kreativitas dan kecepatan adaptasi. Yang jadi PR besar adalah gimana caranya supaya kecanggihan teknologi ini nggak malah bikin otak kita jadi males mikir. Jangan sampai kemudahan yang kita punya sekarang justru jadi jebakan Batman yang bikin generasi mendatang kehilangan daya kritisnya.



Jadi, gimana? Masih mau lanjut scroll konten receh sampai subuh, atau mau mulai baca artikel yang agak berbobot dikit biar skor IQ nggak makin terjun bebas? Pilihan ada di tangan—dan jempol—kalian masing-masing ya!