Kamis, 8 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Evolusi Thrifting: Mengapa Baju Bekas Tak Lagi Jadi Bahan Ejekan

Laila - Wednesday, 02 September 2026 | 12:00 PM

Background
Evolusi Thrifting: Mengapa Baju Bekas Tak Lagi Jadi Bahan Ejekan

Dari Awul-Awul Jadi Lifestyle: Kenapa Thrifting Sekarang Jadi "Agama" Baru Anak Muda

Coba ingat-ingat lagi sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Kalau ada teman sekolah atau kuliah yang ketahuan beli baju bekas di pasar loak, mungkin reaksinya bakal beragam. Ada yang kasihan, ada yang mengernyitkan dahi sambil membayangkan kuman-kuman yang menempel, atau paling banter cuma dianggap "lagi bokek". Dulu, belanja pakaian bekas atau yang akrab disebut awul-awul adalah solusi terakhir bagi mereka yang dompetnya sedang sekarat tapi butuh ganti kulit.

Tapi coba lihat sekarang. Dunia sudah berputar 180 derajat. Thrifting bukan lagi pelarian kaum marginal, melainkan sebuah gaya hidup yang dianggap sangat keren, estetik, dan bahkan dianggap sebagai tindakan menyelamatkan bumi. Sekarang, anak muda nggak malu lagi pamer hasil buruan mereka di TikTok dengan tagar #ThriftHaul atau #OutfitOfTheDay. Kenapa sih tren ini bisa meledak sedemikian rupa? Apakah ini murni soal gaya, atau ada alasan yang lebih mendalam di baliknya?

Sensasi Berburu Harta Karun yang Bikin Nagih

Salah satu alasan terkuat kenapa thrifting begitu digandrungi adalah adrenalin yang muncul saat proses "berburu". Berbeda dengan masuk ke mall yang semua ukurannya tersedia dan warnanya seragam, masuk ke pasar barang bekas atau scrolling di akun thrift shop Instagram itu rasanya kayak masuk ke medan perang yang penuh kejutan. Kamu nggak pernah tahu apa yang bakal kamu temukan di balik tumpukan jaket flanel atau kaos-kaos vintage.

Ada kepuasan batin yang nggak ternilai harganya saat kamu berhasil menemukan jaket Carhartt original atau kaos band langka dengan harga cuma lima puluh ribu perak, padahal kalau beli baru atau di reseller gede harganya bisa jutaan. Istilahnya, ini adalah seni menemukan "harta karun" di antara tumpukan jerami. Sensasi menang banyak inilah yang bikin orang ketagihan. Setiap barang cuma ada satu, nggak ada kembarannya di tongkrongan, dan itu memberikan rasa eksklusivitas yang nggak bisa didapat dari brand fast fashion macam H&M atau Zara.

Muak dengan Fast Fashion dan Keinginan Menjadi Hijau

Generasi Z dan Millennial sekarang sudah makin melek isu lingkungan. Kita semua tahu kalau industri fashion adalah salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Tren fast fashion yang berganti setiap minggu memaksa orang untuk terus belanja, lalu membuang baju yang baru dipakai beberapa kali karena kualitasnya yang emang nggak didesain buat tahan lama. Akhirnya? Gunung sampah tekstil makin tinggi.



Thrifting hadir sebagai antitesis dari kegilaan itu. Dengan membeli baju bekas, kita secara nggak langsung memperpanjang usia pakai sebuah pakaian. Daripada berakhir di tempat pembuangan akhir, baju itu dipakai lagi oleh orang baru. Ada semacam kebanggaan moral saat kita bilang, "Ini baju secondhand, kok." Rasanya seperti berkontribusi kecil untuk bumi tanpa harus kehilangan selera fashion. Meskipun ya, jujur saja, banyak juga yang pakai alasan "sustainable" ini cuma buat menutupi hasrat belanja yang sebenarnya tetep aja tinggi.

Digitalisasi dan Kurasi yang Ciamik

Dulu, kalau mau thrifting kita harus rela berkeringat-keringat di Pasar Senen, Pasar Baru, atau Gedebage. Harus jeli melihat noda, harus pintar menawar, dan harus tahan dengan bau karung yang khas. Sekarang? Semua itu sudah dimudahkan oleh teknologi. Munculnya ribuan akun thrift shop di Instagram dan TikTok mengubah wajah belanja baju bekas jadi lebih "berkelas".

Para owner thrift shop ini melakukan kurasi yang luar biasa. Mereka yang berangkat ke pasar, mereka yang memilah, mencuci sampai wangi, menyetrika, lalu memotretnya dengan model dan pencahayaan yang estetik. Kita sebagai pembeli tinggal duduk manis, pantau jam "drop" koleksi terbaru, lalu adu cepat di kolom komentar. Memang harganya jadi lebih mahal dibanding beli langsung di pasar, tapi kenyamanan dan jaminan barang bersih itulah yang dibayar oleh anak muda zaman sekarang yang nggak mau ribet tapi tetap ingin terlihat vintage.

Ekspresi Diri Melalui Gaya Vintage yang Unik

Kita hidup di era di mana semua orang ingin terlihat unik tapi ironisnya banyak yang berakhir terlihat seragam karena belanja di toko yang sama. Thrifting menawarkan jalan keluar untuk masalah ini. Pakaian-pakaian dari era 80-an atau 90-an punya potongan dan detail yang jarang ditemukan di desain baju modern. Jaket parasut warna-warni, celana corduroy lebar, sampai kemeja motif abstrak yang dulu dianggap norak, sekarang justru jadi incaran utama.

Gaya vintage ini memberikan ruang bagi siapa saja untuk bereksperimen tanpa takut dibilang "salah kostum". Justru makin aneh dan makin langka barang yang dipakai, makin tinggi pula apresiasi dari sesama pencinta fashion. Thrifting memungkinkan kita untuk membangun identitas diri yang otentik. Kamu nggak bakal ketemu orang pakai baju yang persis sama saat lagi nongkrong di coffee shop, dan bagi anak muda sekarang, orisinalitas adalah segalanya.



Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tren Sesaat

Jadi, apakah thrifting cuma tren musiman? Sepertinya nggak juga. Selama harga baju baru makin mahal dan kesadaran akan lingkungan terus meningkat, thrifting bakal tetap punya tempat di hati banyak orang. Ini adalah perpaduan sempurna antara kebutuhan ekonomi, hobi koleksi, dan kepedulian sosial.

Thrifting mengajarkan kita bahwa sesuatu yang "bekas" bukan berarti "sampah". Dengan sedikit kreativitas dan kesabaran, barang-barang yang hampir terlupakan bisa kembali bersinar dan punya cerita baru. Jadi, buat kamu yang belum pernah mencoba, mungkin akhir pekan ini waktunya buat main ke pasar loak terdekat atau sekadar mampir ke akun kurasi favoritmu. Siapa tahu, ada "harta karun" yang sudah menunggu untuk kamu bawa pulang.

Tags