Senin, 23 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dubai: Antara Kemewahan yang Absurd dan Sensasi Digeprek Matahari

Tata - Monday, 23 March 2026 | 07:40 PM

Background
Dubai: Antara Kemewahan yang Absurd dan Sensasi Digeprek Matahari

Dubai: Antara Kemewahan yang Absurd dan Sensasi Digeprek Matahari

Kalau kita bicara soal Dubai, bayangan yang muncul di kepala biasanya nggak jauh-jauh dari mobil sport berlapis emas, gedung-gedung pencakar langit yang tingginya nggak masuk akal, atau para sultan yang hobi melihara macan di jok depan mobilnya. Dubai itu ibarat taman bermain buat orang-orang yang bingung mau menghabiskan uangnya ke mana lagi. Tapi, buat kita-kita yang kalau mau checkout keranjang Shopee saja harus nunggu tanggal kembar atau promo gratis ongkir, apakah Dubai cuma jadi mimpi di siang bolong? Ternyata nggak juga, sih.

Kota yang Bangun dari "Sulap"

Ada satu hal yang perlu disadari saat menginjakkan kaki di Dubai: kota ini adalah hasil ambisi manusia yang sangat keras kepala. Bayangkan, beberapa puluh tahun lalu tempat ini cuma gurun pasir kering yang isinya paling banter cuma onta dan pohon kurma. Sekarang? Kamu bisa menemukan Burj Khalifa, gedung yang saking tingginya, orang di lantai bawah dan lantai atas bisa punya waktu buka puasa yang beda beberapa menit. Absurd banget, kan?

Jalan-jalan di Dubai itu rasanya kayak masuk ke set film fiksi ilmiah. Semuanya serba canggih, bersih, dan teratur. Tapi ya itu, jangan kaget kalau kamu merasa jadi manusia paling mungil di sana. Di sini, kalau kamu bilang mau ke mall, itu bukan sekadar belanja baju atau cari makan di food court. Dubai Mall, misalnya, ukurannya lebih luas dari total kesabaran kamu nungguin balasan chat dari gebetan. Ada akuarium raksasa, air terjun di dalam ruangan, sampai arena ski es. Padahal di luar sana, suhu udara bisa bikin telur matang tanpa perlu kompor.

Old Dubai: Sisi Humanis di Balik Kilau Kaca

Kalau kamu sudah bosan sama pemandangan gedung kaca yang bikin silau, mending geser sedikit ke kawasan Al Fahidi atau daerah Deira. Ini adalah sisi Dubai yang lebih "manusiawi". Di sini, nggak ada lagi bau parfum mahal yang menyengat di lobby hotel bintang lima. Yang ada adalah aroma rempah-rempah yang tajam dari Spice Souk dan kilauan kuning yang agak berlebihan di Gold Souk.

Menyeberangi Dubai Creek pakai perahu kayu tradisional yang namanya Abra itu wajib hukumnya. Harganya? Cuma 1 Dirham alias sekitar empat ribuan rupiah. Murah banget, kan? Vibes-nya beda jauh sama Dubai yang modern. Di sini kamu bakal melihat para pekerja dari berbagai belahan dunia, mendengar tawar-menawar yang sengit, dan merasakan hembusan angin laut yang—jujur saja—tetap terasa agak panas tapi setidaknya autentik. Di sinilah kamu bakal sadar kalau Dubai itu bukan cuma soal pamer kekayaan, tapi juga soal sejarah perdagangan yang panjang.



Bertahan Hidup di Bawah Matahari yang Galak

Satu tips penting: jangan pernah sombong merasa kuat panas-panasan di Dubai. Panasnya Dubai itu beda sama panasnya Jakarta atau Surabaya. Kalau di Indonesia kita merasa gerah karena lembap, di Dubai rasanya kayak ada orang yang berdiri di depan muka kamu sambil bawa hairdryer yang disetel ke suhu paling maksimal. Serius, kalau kamu datang di bulan Juli atau Agustus, keluar ruangan selama lima menit saja sudah cukup buat bikin kamu merasa kayak ayam yang lagi diproses di dalam air fryer.

Makanya, kehidupan di sana baru benar-benar "hidup" saat matahari mulai tenggelam. Malam hari di Dubai adalah waktu terbaik buat bengong melihat air mancur menari di bawah kaki Burj Khalifa. Meskipun kelihatannya cuma air yang lompat-lompat diiringi musik, tapi entah kenapa ada rasa kepuasan tersendiri melihat betapa niatnya mereka bikin pertunjukan kayak gitu setiap malam.

Makan Mewah atau Makan Shawarma di Pinggir Jalan?

Soal makanan, Dubai itu melting pot yang luar biasa. Karena penduduknya mayoritas ekspatriat, kamu bisa menemukan makanan dari mana saja. Mau makan fine dining ala koki selebriti dunia? Ada, tapi siap-siap saja limit kartu kredit kamu nangis darah. Tapi kalau mau hemat, Dubai punya banyak "hidden gem" makanan India, Pakistan, dan Lebanon yang rasanya juara dunia.

Shawarma di Dubai itu standar emas. Potongan daging yang gurih, saus bawang putih yang nendang, dibungkus roti yang lembut. Makan satu saja sudah bikin kenyang dan hati senang tanpa perlu takut dompet mendadak kosong. Ini adalah cara terbaik buat tetap menikmati Dubai tanpa harus merasa jadi kaum proletar yang terintimidasi kemewahan.

Opini Jujur: Layak Nggak Sih Dikunjungi?

Menurut saya pribadi, Dubai itu destinasi yang unik. Dia nggak punya keindahan alam hijau kayak Bali atau sejarah kuno yang kental banget kayak Roma. Dubai adalah bukti nyata kalau uang dan teknologi bisa menciptakan keajaiban buatan manusia. Kamu mungkin bakal merasa kota ini sedikit "palsu" atau terlalu dipaksakan jadi mewah, tapi itulah daya tariknya.



Liburan ke Dubai itu soal melihat sejauh mana imajinasi manusia bisa diwujudkan. Entah itu bikin pulau berbentuk pohon palem atau bikin taman bunga raksasa (Miracle Garden) di tengah padang pasir yang kering kerontang. Dubai bikin kita mikir, "Oh, ternyata kalau punya duit segunung, hal gila kayak gini bisa kejadian ya."

Jadi, kalau kamu punya kesempatan ke sana, ambil saja. Nggak perlu harus jadi sultan dulu kok buat menikmati Dubai. Cukup dengan perencanaan yang matang, tahu kapan harus naik transportasi umum, dan tahu tempat makan murah, kamu sudah bisa merasakan sensasi hidup di kota masa depan ini. Ya, minimal sekali seumur hidup, rasakanlah gimana rasanya berdiri di samping gedung paling tinggi di dunia sambil mikir, "Ini yang bangun nggak takut ketinggian apa ya?"