Dari Boba ke Beras Kencur: Ketika Jamu Berubah Jadi Lifestyle Anak Muda
Tata - Thursday, 12 March 2026 | 09:30 PM


Dari Boba ke Beras Kencur: Kenapa Jamu Mendadak Jadi Lifestyle Anak Senja (dan Kita Semua)?
Kalau kita tarik mundur sekitar lima atau sepuluh tahun yang lalu, membayangkan anak muda nongkrong di kafe sambil memesan segelas kunyit asam dingin mungkin terdengar agak ajaib. Dulu, jamu itu identik dengan aroma menyengat dari bakulan kayu yang digendong Mbok Jamu keliling kompleks, atau botol-botol kaca kusam yang isinya cairan pekat bin pahit. Singkatnya, jamu adalah "obat" yang diminum karena terpaksa, bukan karena gaya.
Tapi coba lihat sekarang. Peta perkopian duniawi mulai kedatangan rival berat yang aromanya lebih mirip dapur nenek daripada biji kopi panggang. Di Jakarta, Jogja, sampai Bali, muncul tempat-tempat yang melabeli diri mereka sebagai "Jamu Bar". Kemasannya pun nggak main-main; botol kaca estetik dengan desain minimalis yang kalau difoto sangat layak masuk feeds Instagram. Jamu bukan lagi soal pahit-pahitan, tapi soal gaya hidup sehat yang naik kelas.
Pandemi sebagai Game Changer
Jujur saja, titik balik popularitas minuman sehat ini nggak lepas dari hantaman pandemi beberapa tahun lalu. Ingat nggak waktu harga jahe merah, temulawak, dan sereh mendadak lebih mahal daripada harga saham perusahaan teknologi? Saat itu, semua orang mendadak jadi ahli herbal dadakan. Kita semua panik, mencari cara biar imun nggak jebol, dan jawabannya kembali ke akar—secara harfiah.
Fenomena ini menciptakan memori kolektif baru. Kita mulai terbiasa dengan rasa hangat di tenggorokan yang diberikan oleh jahe, atau segarnya beras kencur setelah seharian menatap layar laptop. Rasa yang dulu kita benci, tiba-tiba terasa seperti pelukan hangat yang menenangkan. Kepercayaan masyarakat terhadap kearifan lokal ini tumbuh subur kembali, menggeser dominasi minuman manis yang isinya cuma sirup dan gula tambahan.
Rebranding yang Jenius: Bukan Jamu Biasa
Kenapa sekarang jamu bisa diterima oleh Gen Z dan Millennial yang biasanya skeptis? Jawabannya ada pada rebranding. Para pelaku usaha jamu kekinian paham betul bahwa lidah anak zaman sekarang itu agak manja. Mereka mulai melakukan eksperimen gila-gilaan. Sekarang kita bisa nemu Turmeric Latte, Ginger Ale artisan, atau campuran teh bunga telang dengan perasan jeruk nipis yang warnanya berubah jadi ungu cantik.
Mereka nggak cuma jualan cairan di dalam botol, tapi jualan cerita. Ada narasi soal sustainable sourcing, soal petani lokal yang diberdayakan, hingga klaim tanpa bahan pengawet yang bikin kita merasa jadi orang baik saat meminumnya. Memang benar, kemasan itu penting. Ketika jamu ditaruh di gelas wine atau botol cold brew, stigma "minuman kuno" itu luntur seketika. Rasanya jadi lebih premium, padahal bahan dasarnya mungkin sama saja dengan yang dijual Mbok Jamu di pasar.
Melawan Budaya "Sugar Rush"
Ada pengamatan menarik soal pergeseran tren minuman ini. Selama bertahun-tahun, kita dibombardir oleh tren boba, kopi susu gula aren, dan berbagai minuman hits yang kadar gulanya bisa bikin dokter geleng-geleng kepala. Setelah sekian lama berada dalam siklus sugar rush dan sugar crash, orang-orang mulai merasa capek. Tubuh mulai protes dengan jerawat yang nggak hilang-hilang atau perut yang makin membuncit.
Di sinilah jamu dan minuman sehat masuk sebagai "penyelamat". Minum jamu memberikan semacam kepuasan psikologis. Ada perasaan bahwa kita sudah melakukan hal yang benar untuk tubuh kita hari itu. Istilahnya, ini adalah bentuk self-care yang paling mendasar. Kita mulai sadar bahwa "healing" nggak harus selalu soal liburan ke Bali, tapi bisa dimulai dari apa yang masuk ke tenggorokan kita setiap pagi.
Jamu sebagai Simbol Identitas Baru
Lucunya, mengonsumsi jamu sekarang juga menjadi simbol identitas. Ada semacam kebanggaan tersendiri saat seseorang bisa menikmati rasa pahit atau getir yang autentik. Ini mirip dengan para pecinta kopi hitam yang memandang sebelah mata mereka yang masih minum kopi instan sasetan. Bisa dibilang, jamu adalah "level lanjut" dari tren hidup sehat.
Kita sering melihat di media sosial, para influencer kesehatan memamerkan rutinitas pagi mereka dengan segelas empon-empon hangat. Hal ini menciptakan gelombang baru di mana sehat itu dianggap keren. Kalau dulu orang pamer gelas kopi dengan logo hijau terkenal, sekarang orang pamer botol jamu lokal dengan caption soal detox atau anti-inflamasi. Pergeseran nilai ini sangat positif karena secara tidak langsung juga menghidupkan kembali industri pertanian rempah di Indonesia.
Apakah Ini Hanya Tren Sesaat?
Banyak yang bertanya, apakah popularitas jamu ini cuma tren musiman yang bakal hilang begitu ada minuman baru yang lebih viral? Sepertinya tidak. Jamu punya akar yang terlalu kuat di budaya kita untuk sekadar hilang begitu saja. Yang terjadi sekarang bukanlah penemuan sesuatu yang baru, melainkan proses "pulang ke rumah".
Kita hanya sedang memoles kembali warisan leluhur agar sesuai dengan kecepatan zaman sekarang. Selama orang masih peduli dengan kesehatan jangka panjang, minuman herbal akan selalu punya tempat. Mungkin bentuknya akan terus berevolusi—mungkin nanti ada jamu dalam bentuk tablet effervescent yang praktis, atau bahkan es krim rasa jamu yang sehat—tapi esensinya akan tetap sama.
Pada akhirnya, kembalinya jamu ke tengah panggung gaya hidup modern adalah pengingat bahwa yang lama nggak selalu usang. Kadang, solusi untuk masalah kesehatan kita di masa depan justru ada pada resep-resep yang sudah dicatat ratusan tahun lalu di daun lontar atau serat kuno. Jadi, sudahkah kamu minum kunyit asam hari ini? Kalau belum, mungkin ini saatnya mampir ke Jamu Bar terdekat, pesan satu gelas, dan nikmati rasa "lokal" yang mendunia itu.
Next News

Kiat Hidup Cerdas di Era Digital
13 hours ago

Mengurangi Makanan Instan: Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan di Tengah Hidup Serba Cepat
an hour ago

Tren Buku Self-Improvement: Benar-Benar Ingin Berubah atau Sekadar Ikut Tren?
an hour ago

Tren Jus dan Smoothie Sehat: Gaya Hidup Baru atau Sekadar Ikut FOMO?
an hour ago

Seni Menikmati Hidup Tanpa Terburu-buru: Ketika Hidup Sederhana Justru Terasa Mewah
an hour ago

Di Balik Kata "Sibuk": Kenapa Kita Selalu Merasa Kekurangan Waktu?
an hour ago

Di Balik Mager dan Jajan Sembarangan: Kenapa Kebersihan Bukan Sekadar Soal Penampilan
an hour ago

Dapur Tanpa Sampah: Cara Mudah Mengurangi Limbah Rumah Tangga
13 hours ago

12 Maret, Hari Tidur Siang Sedunia
13 hours ago

Rahasia Panjang Umur dari 'Blue Zones': Pola Hidup 100 Tahun dengan Kearifan Lokal
13 hours ago





