7 Ciri Anak dengan EQ Rendah yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Sejak Dini
RAU - Thursday, 17 September 2026 | 05:23 PM


Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri maupun orang lain. Pada anak, kemampuan ini masih terus berkembang sehingga membutuhkan bimbingan dari orang tua.
Meski begitu, ada sejumlah perilaku yang bisa menunjukkan kemampuan emosional anak belum berkembang dengan baik. Jika tidak diperhatikan, kondisi tersebut dapat memengaruhi hubungan sosial dan kemampuan anak menghadapi berbagai situasi.
Berikut beberapa ciri yang perlu diperhatikan:
1. Sulit memahami perasaan orang lain
Anak mungkin terlihat kurang peka ketika temannya sedih, kecewa, atau membutuhkan perhatian. Mereka juga bisa melakukan sesuatu yang menyakiti perasaan orang lain tanpa menyadarinya.
2. Enggan berbagi
Tidak mau berbagi makanan atau mainan secara terus-menerus dapat menunjukkan bahwa anak masih kesulitan memahami kebutuhan dan kepentingan orang lain. Kemampuan berbagi perlu dilatih secara bertahap melalui contoh dan pembiasaan.
3. Sulit mengendalikan emosi
Anak dapat mudah marah, berteriak, menangis berlebihan, atau melempar barang ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi masih perlu dilatih.
4. Sering menyalahkan orang lain
Ketika mengalami masalah atau melakukan kesalahan, anak mungkin langsung mencari pihak lain untuk disalahkan. Orang tua dapat membantu dengan mengajak anak memahami bagian yang masih bisa dikendalikan dan diperbaiki.
5. Kesulitan mengenali perasaannya sendiri
Anak yang belum memiliki cukup kosakata emosi biasanya kesulitan menjawab ketika ditanya mengenai perasaannya. Orang tua bisa mengenalkan berbagai istilah seperti sedih, kecewa, marah, takut, senang, atau cemas melalui percakapan dan permainan.
6. Kesulitan menjalin pertemanan
Kemampuan berteman membutuhkan keterampilan mendengarkan, bergiliran berbicara, memahami situasi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik. Anak yang kesulitan dalam hal tersebut mungkin membutuhkan latihan melalui permainan peran di rumah.
7. Sulit meminta maaf dengan tulus
Anak mungkin hanya mengatakan maaf karena dipaksa, tanpa memahami kesalahan yang dilakukan. Orang tua dapat memberi contoh dengan meminta maaf secara tulus ketika melakukan kesalahan agar anak memahami bahwa mengakui kesalahan merupakan bagian dari hubungan yang sehat.
Berbagai perilaku tersebut tidak berarti anak memiliki sifat yang akan menetap hingga dewasa. Kemampuan emosional masih dapat berkembang melalui pola asuh yang tepat, teladan dari orang tua, komunikasi, dan latihan yang dilakukan secara konsisten.
Next News

5 Tanda Orang Lain Tertarik Padamu
in 5 hours

5 Cara Mengurangi Asupan Gula Tambahan Setiap Hari
in 5 hours

Kerja Terus tapi Karier Terasa Jalan di Tempat? Kenali 5 Tanda Career Plateau
in 5 hours

Rumah Selalu Berantakan? 5 Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Bikin Lebih Rapi
in 5 hours

Sulit Mencapai Target? 5 Manfaat Mindfulness yang Bisa Bikin Mental Lebih Tangguh
in 5 hours

Punya Teman yang Selalu Merasa Paling Benar? Ini 5 Cara Menghadapinya
in 5 hours

Duduk Berjam-jam Bikin Punggung Pegal? Ini 5 Cara Sederhana Mengatasinya
in 5 hours

Kenapa Kamar Mandi Hotel Jarang Sediakan Gayung? Ini Alasan di Baliknya
in 5 hours

Minum Teh Sore Sambil Bersantai, Dari Kebiasaan Biasa hingga Momen Me Time
9 hours ago

Sering Menguap Padahal Baru Bangun, Tubuh Sedang Memberi Sinyal Apa?
9 hours ago





