4 Mei, Hari Anti Perundungan: Masalah Lama yang Masih Terjadi di Sekolah dan Dunia Digital
Liaa - Monday, 04 May 2026 | 11:42 AM


Perundungan bukan fenomena baru. Ia sudah ada sejak lama, sering dianggap "bagian dari proses tumbuh". Namun cara pandang itu perlahan berubah, seiring semakin jelasnya dampak jangka panjang yang ditimbulkan.
Hari Anti Perundungan Internasional setiap 4 Mei, menjadi pengingat bahwa masalah ini bukan hal sepele, melainkan isu serius yang memengaruhi kesehatan mental dan masa depan anak.
Sejak kapan perundungan mulai disorot secara global?
Perhatian serius terhadap bullying mulai berkembang sejak akhir abad ke-20, ketika penelitian menunjukkan dampak psikologis yang signifikan terhadap korban.
Organisasi seperti UNESCO dan UNICEF kemudian mendorong kampanye global untuk mengurangi kekerasan di sekolah.
Dalam beberapa tahun terakhir, fokus tidak hanya pada bullying fisik, tetapi juga cyberbullying yang berkembang seiring penggunaan media sosial.
Seberapa besar masalah ini?
Secara global:
sekitar 32% anak usia sekolah pernah mengalami bullying (data UNICEF).
Sekitar 1 dari 3 anak di dunia pernah mengalami perundungan.
Di Indonesia:
Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat bahwa kasus perundungan termasuk dalam laporan tertinggi terkait anak.
Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia juga menunjukkan bahwa bullying masih terjadi di berbagai jenjang pendidikan.
Artinya:
masalah ini bukan kasus terisolasi, tetapi sistemik
Bentuk perundungan yang sering terjadi
Perundungan tidak selalu terlihat secara fisik.
Beberapa bentuk yang umum:
•verbal (ejekan, hinaan)
•sosial (pengucilan)
•fisik (kekerasan)
•digital (cyberbullying)
Yang terakhir semakin meningkat seiring penggunaan internet di kalangan remaja.
Dampak yang sering diremehkan
Perundungan tidak berhenti pada kejadian itu sendiri.
Dampaknya bisa meluas:
•penurunan kepercayaan diri
•gangguan kecemasan
•depresi
•penurunan prestasi akademik
Dalam kasus tertentu, dampaknya bisa bertahan hingga dewasa.
Kenapa perundungan masih terjadi?
Beberapa faktor yang sering muncul:
•Budaya "anggap biasa"
•Perundungan sering dianggap candaan dan
bagian dari pergaulan.
Padahal dampaknya nyata.
•Kurangnya pengawasan dan edukasi
•Tidak semua sekolah memiliki sistem pencegahan yang kuat.
•Lingkungan digital tanpa batas
•Di media sosial,
banyak sekali akun anonim yang sulit dikontrol dengan
penyebaran yang cepat.
Perubahan yang mulai terjadi
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran mulai meningkat.
Upaya yang dilakukan:
•kampanye anti bullying
•program sekolah ramah anak
•edukasi kesehatan mental
Makna Hari Anti Perundungan
Hari ini bukan sekadar simbol.
Ia mengingatkan bahwa:
•setiap anak berhak merasa aman
•lingkungan pendidikan harus menjadi ruang tumbuh, bukan tekanan.
Bullying akan terus terjadi jika tetap dianggap hal yang biasa. Upaya pencegahan harus dilakukan secara serius, baik oleh sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Next News

Bersiul di Malam Hari Bisa Mengundang Makhluk Halus? Ini Fakta dan Penjelasan Sebenarnya
in 5 hours

Benarkah Berbaring Setelah Makan Bisa Menyebabkan Perut Buncit? Ini Faktanya
in 4 hours

Makan Sedikit Tapi Perut Buncit? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
in 4 hours

Apakah Pilates Bisa Menurunkan Berat Badan? Ini Fakta dan Manfaatnya
in 4 hours

Matcha Coffee: Tren Minuman Sehat atau Berisiko? Ini Manfaat dan Efek Sampingnya
in 4 hours

7 Manfaat Gym untuk Wanita: Bukan Cuma Turun Berat Badan, Tapi Juga Bikin Lebih Percaya Diri
in 4 hours

Jangan Buang Kulit Buah dan Sayur: 5 Cara Mengolahnya Jadi Makanan Sehat dan Ramah Lingkungan
in 3 hours

Nyeri Punggung Kronis Bukan Sekadar Faktor Usia: Kenali Penyebabnya
in 3 hours

Bulu Mata Palsu, Dari "Natural Look" Sampai Gaya "Anti-Badai"
in 2 hours

Apakah memang benar mencuci pakaian di mesin cuci bisa membersihkan kotoran-kotoran yang ada di pakaian atau malah sebaliknya??
in 9 minutes





