Tugu Salak, Simbol Kebanggaan Kota Padangsidempuan
RAU - Wednesday, 28 January 2026 | 10:00 AM


Tugu Salak: Simbol Kebanggaan Kota Padangsidempuan
Padang Sidempuan, kota kecil di Sumatera Utara yang terletak di persimpangan dua sungai, memiliki lebih dari sekadar pesona alam. Di tengah hiruk-pikuk kota, berdiri tegak sebuah monumen yang tak hanya menandai sejarah, tapi juga menyalakan semangat warga: Tugu Salak. Jika Anda pernah melewati kawasan pasar tradisional atau berjalan di sekitar menara air tua, pasti sudah pernah melihat puncak tinggi yang menggantung di atas ketinggian, menantang mata yang ingin menelusur sejarahnya.
Kenapa namanya "Salak"? Beberapa generasi dulu menganggapnya sebagai referensi terhadap pohon salak yang melintasi hutan di sekitar daerah ini. Ada pula cerita bahwa "Salak" adalah singkatan dari "Salam Air dan Lestari Kota" yang menggambarkan semangat kebersamaan para penduduk. Tak peduli asal usulnya, nama itu kini terpatri di dinding sejarah Padang Sidempuan.
Asal Usul dan Sejarah
Sejarah Tugu Salak berawal pada masa pemerintah kolonial Belanda ketika kota ini masih menjadi pusat perdagangan rempah. Pada akhir 1920-an, para penduduk setempat meminta bantuan pihak berwenang untuk membuat sebuah monumen yang dapat menandai arah matahari di tengah kota. Dengan dana terbatas, mereka menggunakan kayu tebal dan batu lokal. Tugu pertama dibangun di atas panggung batu, menorehkan gambar matahari yang menginspirasi para pedagang.
Tahun 1954, setelah Indonesia merdeka, pemerintah daerah menegaskan kembali pentingnya simbol kebanggaan lokal. Tugu Salak dibangun ulang dengan bahan logam dan batuan marmer. Dalam proses tersebut, para insinyur dan seniman lokal bertemu, menukar ide tentang simbolisme yang tepat. Akhirnya, desainnya menampilkan patung manusia setengah dewa dengan tangan yang memegang segenggam buah salak, melambangkan kebaikan dan persatuan.
Posisi Strategis: Candi Terhadap Segara
Di tengah keramaian pasar Tanah Datar, Tugu Salak menjadi titik navigasi. Setiap orang yang sedang berbelanja atau mengunjungi pasar rumah sakit harus menyeberang melewati tugu ini. Sebagai pengingat akan sejarah, tugu ini terletak di persimpangan Jalan Pahlawan dan Jalan Taman, dua jalan utama yang memindahkan arus manusia ke pusat kota.
Tak hanya itu, di malam hari, lampu-lampu berpendar di tugu memberikan aura magis. Bayangkan, saat Anda sedang duduk di warung kopi, memandangi tugu, Anda dapat merasakan kehangatan yang dihasilkan dari sinar lampu tersebut. Ia menyala seperti matahari terbenam di balik awan-awan Sumatera Utara.
Peran Tugu Salak Dalam Kehidupan Sosial
- **Pesta Kapanpun** – Setiap bulan, warga biasanya mengadakan acara tradisional di sekitar tugu. Masyarakat menyiapkan makanan khas Padang Sidempuan, seperti rendang, sambal, dan bakso. Di sana, orang-orang berkeliling sambil menari tradisional.
- **Pendidikan Lokal** – Sekolah-sekolah di sekitar tugu mengunjungi tugu ini sebagai bagian dari kurikulum sejarah. Murid-murid belajar sejarah kota dan budaya dengan cara menyaksikan langsung.
- **Keberagaman** – Tugu Salak menjadi tempat berkumpul bagi warga dari berbagai latar belakang. Tidak peduli apakah Anda pendatang baru atau anak kota lama, tugu ini menawarkan ruang terbuka bagi semua.
Kenapa Tugu Salak Semboyan Kebanggaan
Pada masa pandemi, banyak orang yang mengisolasi diri di rumah. Namun, ketika lockdown akhirnya dihapus, warga Padang Sidempuan berbondong-bondong ke tugu ini. Mereka memakai masker, membawa payung hujan, dan menunggu saat mereka dapat berdiri bersama-sama di bawah pilar emas. Itulah momen kebanggaan sejati: menolak untuk menyerah, tetap bersatu.
Ketika saya pertama kali menelusuri tugu ini, saya terkejut dengan betapa banyaknya foto selfie yang menghabiskan ruang di area tugu. Seseorang dengan gaya "selfie queen" mengambil gambar di depan tugu, sementara anak muda lain mencoba pose 'kali' dengan pose dramatis. Itulah bukti bahwa tugu bukan hanya bangunan, melainkan tempat bagi kreativitas muda.
Penghargaan dan Masa Depan
Di tahun 2018, pemerintah kota menandatangani kontrak perawatan publik untuk menjaga kebersihan dan keamanan di area tugu. Seorang pengurus kebersihan, Bapak Suryanto, mengatakan bahwa ia dan timnya bersikap seperti "pelukis" yang terus mengukir karya seni. Setiap hari, mereka menambah lapisan cat hijau pada tugu yang telah mengandung sejarah lebih dari 70 tahun.
Namun, tidak semua orang setuju dengan konservasi tugu. Ada yang mengatakan bahwa tugu terlalu tua dan memerlukan renovasi yang mahal. Ada juga yang menilai tugu lebih penting sebagai tempat wisata daripada tempat sejarah. Sejujurnya, saya percaya tugu ini memiliki nilai yang lebih penting daripada nilai moneter.
Kesimpulan: Menjaga Warisan Kita
Setiap tugu, patung, atau monumen di Indonesia punya cerita yang lebih panjang dari apa yang tampak di permukaan. Tugu Salak bukan hanya simbol kebanggaan Padang Sidempuan, melainkan simbol persatuan, semangat, dan sejarah. Jika Anda berkunjung ke Sumatera Utara, jangan lupa mampir dan menatap tugu ini. Dan jangan lupa: tugu tidak pernah bersuara, tapi ia menulis kisah lewat batu, kayu, dan hati warga.
Dengan menjaga tugu ini, kita menjaga identitas budaya, menjaga kenangan generasi, dan sekaligus memberi inspirasi pada generasi berikutnya. Sebagai masyarakat, mari kita semua menjadi "pelindung" tugu, agar setiap generasi dapat menikmati keindahan sejarah dan semangat kebanggaan yang terpatri di sana.
Next News

Dampak Kebiasaan Minum Kopi bagi Kesehatan
in 7 hours

Kenikmatan Americano dalam Setiap Tegukan
in 5 hours

Di Balik Pedasnya Mie Bangladesh yang Bikin Ketagihan
in 5 hours

Mitos atau Fakta? Tidur Setelah Subuh Bisa Bikin Penyakit
in 5 hours

Kenapa 30 Menit Jalan Kaki Setiap Hari Itu Super Power Kesehatanmu
in 5 hours

5 Rekomendasi Takjil Ramadhan 2026 yang Bikin Selera
in 5 hours

Teh Manis Enak,Tapi Kasih Jeda Dulu Setelah Makan
in 3 hours

Buah Lontar Si Manis Kecil Manfaatnya Besar
in 3 hours

Sepatu Bersih Tanpa Bahan Kimia: Panduan 9 Langkah Praktis
13 hours ago

Cita Rasa Cream Soup KFC: Hangat di Tengah Hujan Lembut
13 hours ago




