TikTok sebagai Ruang Ekspresi Digital Generasi Z
RAU - Tuesday, 03 February 2026 | 01:20 AM


TikTok sebagai Ruang Ekspresi Digital Generasi Z
Bayangkan diri Anda duduk di sofa, telinga terjepit pada suara musik pop, lalu tiba-tiba layar ponsel Anda menyala dan menampilkan video singkat yang membuat Anda tertawa. Tidak jarang, yang membuat Anda terhuyung-huyung itu bukan lagi teman biasa, melainkan sekumpulan 15 detik kreativitas dari teman sebaya Anda di TikTok. Inilah satu contoh bagaimana platform ini menjadi lebih dari sekadar hiburan: ia menjadi panggung bagi generasi Z yang ingin mengekspresikan diri, berbagi ide, dan membangun komunitas yang lebih luas.
1. Dari Tik Tok ke "Tik Tok" Sejarah Singkat
TikTok, atau yang dikenal dengan Douyin di China, pertama kali muncul pada tahun 2016. Awalnya, ia bersaing dengan aplikasi sejenis seperti Vine. Namun, karena fitur editing yang mudah dipakai, musik bebas, dan algoritma rekomendasi yang cerdas, TikTok dengan cepat menjadi raksasa global. Pada tahun 2018, saat merger dengan aplikasi lip sync bernama Musical.ly, TikTok menggabungkan basis pengguna yang sudah besar di Amerika Serikat. Sejak saat itu, pertumbuhan pengguna TikTok tak henti-hentinya, terutama di kalangan remaja.
2. Generasi Z: Siapa Mereka?
Generasi Z adalah anak-anak yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2010-an. Mereka tumbuh bersama internet, smartphone, dan media sosial. Mereka sering disebut "digital natives" karena tidak pernah hidup tanpa gadget. Bagi mereka, media sosial bukan sekadar tempat berbagi status, tapi juga cara mengekspresikan identitas, berinteraksi, dan bahkan mencari pekerjaan.
3. TikTok: Panggung Miniatur bagi Kreativitas
Alasan pertama TikTok menarik bagi Z adalah kemampuannya menampilkan kreativitas secara cepat. Beberapa contoh yang sering kita jumpai:
- Dance challenge – Dalam beberapa hari, lagu baru bisa menjadi "viral" dengan ratusan ribu penarikan. Tidak jarang teman sekelas menjadi raja atau ratu dalam menari di depan kamera.
- DIY & hacks – Dari membuat kerajinan tangan dengan bahan bekas hingga trik belajar cepat, semua bisa dipresentasikan dalam 15-60 detik.
- Monolog & sketsa – Mereka yang tidak suka drama tradisional bisa mengekspresikan emosi lewat monolog singkat atau sketsa lucu.
Semua ini memungkinkan Z menunjukkan siapa diri mereka tanpa harus melalui proses panjang yang biasanya dibutuhkan di platform lain.
4. Algoritma: Penentu "Berbalik" atau "Bergeser"
Berbeda dengan Instagram atau TikTok sebelumnya, algoritma TikTok didesain untuk memaksimalkan retensi pengguna. Video yang muncul di "For You" dipilih berdasarkan interaksi sebelumnya, waktu menonton, dan kata kunci. Jadi, jika seorang pengguna sering menonton video "food", kemungkinan besar ia akan melihat lebih banyak konten tersebut. Hal ini memberi kesempatan bagi pembuat konten untuk "menyesuaikan" gaya mereka sesuai dengan preferensi audiens.
5. Menjadi "Influencer" Tak Perlu Pakaian Glamour
Salah satu mitos umum tentang influencer adalah bahwa mereka harus memiliki gaya hidup mewah. Di TikTok, banyak contoh yang mengubah gaya hidup sederhana menjadi karir. Contohnya, seorang pelajar yang membuat tutorial matematika dengan gaya yang ringan dapat mendapatkan ribuan pengikut, lalu dijadikan partner brand untuk produk edukasi. Ini menunjukkan bahwa otentisitas lebih berharga daripada gaya hidup flamboyan.
6. Kritik dan Tantangan
Seperti semua platform media sosial, TikTok tidak kebal kritik. Berikut beberapa isu yang sering dibicarakan:
- Privasi data – Perusahaan terus dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana data pengguna disimpan dan diproses.
- Konten negatif – Beberapa video bisa memicu perilaku negatif seperti cyberbullying atau penyebaran hoaks.
- Pengaruh budaya asing – Banyak kreator mengadopsi tren yang berasal dari luar negeri, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang erosi budaya lokal.
Namun, hal ini tidak menutup fakta bahwa TikTok tetap menjadi tempat bagi generasi Z untuk berekspresi.
7. Contoh Nyata: Cerita "Aria" – From Schoolroom to TikTok Fame
Aria lahir di Bandung, 2003. Saat masih SMA, ia mulai membuat video menari dan menggabungkannya dengan lagu-lagu indie. Dengan caption yang lucu dan gaya editing sederhana, video pertama Aria mulai mendapatkan komentar positif. Dari sana, ia membuat tantangan "#DanceWithAria" yang menyebar ke berbagai sekolah. Kini, ia memiliki lebih dari 500 ribu pengikut dan sering tampil di acara televisi. Bagi Aria, TikTok bukan sekadar hobi, tapi juga jalan untuk memunculkan potensi dirinya.
8. Kesimpulan: TikTok, Lebih Dari Sekadar Video 15 Detik
Tak dapat dipungkiri, TikTok telah memudahkan generasi Z mengekspresikan diri, belajar, dan berinteraksi. Platform ini menjadi ruang bagi mereka untuk menemukan identitas, mengasah bakat, dan menjalin hubungan sosial yang lebih luas. Meskipun masih ada tantangan, kreativitas yang ditayangkan di TikTok menandai transformasi digital yang signifikan. Jadi, saat Anda menatap layar ponsel, ingatlah: di balik video singkat itu, ada cerita yang lebih besar, berkat kekuatan media sosial yang memecahkan batasan tradisional.
Next News

Sosialisasi Beasiswa Garuda 2026 Dimulai 3 Februari, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
19 hours ago

Serbet Minyak? 5 Tips Cuci Mudah dengan Bahan Dapur Sehari
12 hours ago

Simpan Telur di Kulkas atau Luar? Fakta yang Harus Anda Tahu
13 hours ago

Lawan Semut Secara Alami: Cara Menjaga Rumah Bersih Tanpa Kimia
13 hours ago

Di Balik Lezatnya Rendang, Tersimpan Filosofi Hidup
a day ago

Lemang Cita Rasa Tradisi yang Dibakar dalam Bambu
14 hours ago

Pandan sebagai Pewangi Alami dan Tanaman Herbal
a day ago

Gula Merah, Si Manis Alami yang Jadi Rahasia Dapur Indonesia
a day ago

Musuh Bebuyutan Wajah Si Jerawat yang Bikin Emosi
a day ago

Bahasa Gaul yang Viral di Tahun 2025-2026 dari "6-7" Sampai Istilah Anak Muda Kekinian
17 hours ago





