Rabu, 4 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Gula Merah, Si Manis Alami yang Jadi Rahasia Dapur Indonesia

RAU - Tuesday, 03 February 2026 | 01:25 AM

Background
Gula Merah, Si Manis Alami yang Jadi Rahasia Dapur Indonesia

Gula Merah, Si Manis Alami yang Jadi Rahasia Dapur Indonesia

Berada di setiap sudut dapur Indonesia, gula merah sudah lama menjadi sahabat setia bumbu. Tidak hanya memberi rasa manis, ia menambah aroma hangat yang menggetarkan lidah, seakan mengingatkan kita pada pagi di kampung yang masih bersemayam asap petasan dari petang. Mungkin di kota, kita lebih sering terpanggil oleh gula putih yang bersih dan mudah diserap, tapi di balik kemewahan kemasan berwarna putih, gula merah menyimpan rahasia rasa yang tak tertandingi.

Berawal dari tebu, proses pembuatannya mengandung sentuhan tradisi yang masih terjaga. Tanpa peralatan modern, petani tebu memeras sari dengan tangan, lalu mengolahnya menjadi tembik atau cairan pekat yang disebut tepung. Tembik kemudian dipanaskan di atas api rendah hingga berkurang menjadi gula, yang diwarnai hijau kecoklatan karena kandungan kekerabatan dengan serat tanaman. Di sisi lain, gula putih, yang melalui proses pemurnian, menyisakan semua unsur alami, hanya menyisakan gula sederhana. Tapi bila ingin menghidupkan rasa, si gula merah ini lebih fleksibel, lebih "bercahaya" karena masih memegang sebagian rasa buah tebu asli.

Sejarah dan Kenapa Gula Merah Jadi Favorit

  • Racikan Tradisi: Di pulau-pulau seperti Jawa, Bali, dan Sumatera, gula merah sering menjadi bahan dasar sup, sayur, atau bahkan daging. Ia menambah kedalaman rasa, seperti menaruh sentuhan "sudut" pada cerita. Misalnya, rendang Padang yang manis dan pedas tidak lengkap tanpa sedikit gula merah.
  • Efek Kesehatan: Gula merah mengandung zat besi, kalium, magnesium, serta beberapa antioksidan yang tidak ada di gula putih. Namun, bagi yang patuh diet, tetap perlu ditegakkan dosis. Di sela-sela keceriaan, sejumput gula merah lebih baik dibandingkan seporsi gula putih.
  • Berbagai Bentuk: Tembik, tembik giling, tepung, bahkan kue kering. Dari satu biji tebu, bisa muncul beragam bentuk gula yang memberi nuansa berbeda dalam resep. Kalau kamu pernah makan kue lapis, rasakan betapa manisnya lapisan gula merah yang menempel pada lapisan cokelat.

Gula Merah di Makanan Sehari‑hari

Saat pagi, di warung di pinggiran jalan, biasanya ada aroma manis dari teh manis yang disajikan dengan gula merah. "Gula merah bikin teh lebih terasa hangat," kata Pak Dadi, pemilik warung yang telah menjajakan teh selama 30 tahun. Ia menambahkan gula merah sedikit demi sedikit, sehingga rasa teh tak hanya manis, tapi juga seimbang dengan pahitnya cengkeh dan kayu manis.

Di rumah, saya sering mendengar ibu mengingatkan bahwa "jika gula merah tidak ada, seolah masakan tidak lengkap." Dan itu benar, karena gula merah memberi "kekayaan" rasa. Misalnya, sayur asem di rumah ibuku biasanya dimasak dengan sedikit gula merah, sehingga asamnya tidak terlalu tajam dan terasa lebih lembut.

Masalahnya, di era sekarang, gula merah kadang dianggap "keren" tapi belum begitu populer di kalangan remaja. Mungkin karena ada tren diet yang menolak semua jenis gula. Namun, penting untuk mengingat bahwa gula merah, bila dikonsumsi dalam batas wajar, masih lebih baik karena masih mengandung nutrisi alami.

Resep Cepat: Kue Cokelat Gula Merah

Berikut ini contoh resep sederhana yang menggabungkan dua bahan favorit: cokelat dan gula merah. Bahan:

  • 100 gram cokelat batang, dipotong kecil-kecil
  • 50 gram gula merah, digiling halus
  • 1 butir telur
  • 50 gram tepung terigu serbaguna
  • 1 sdt baking powder
  • 1/4 sdt garam
  • 30 gram mentega, cairkan

Caranya: Campur semua bahan kering, tambahkan telur, mentega, lalu aduk rata. Tuang ke loyang mini, panggang 12-15 menit pada suhu 160°C. Nikmati hangat, rasakan manisnya gula merah yang menambah kelezatan cokelat.

Gula Merah: Rasa yang Tidak Pernah Usang

Berhenti sejenak, bayangkan bagaimana rasanya saat menanam tebu di ladang, mencium aroma buah yang sudah matang, dan kemudian memeras sari dengan tangan. Setiap tetes sari, setiap butir tebu, membawa kisah. Gula merah adalah terjemahan cerita itu menjadi manis yang bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

Berbicara tentang "tradisi" di dapur, banyak resep turun-temurun yang masih memanfaatkan gula merah. Di daerah Nusa Tenggara, misalnya, gula merah sering diolah menjadi betel – minuman tradisional yang dihidangkan dalam upacara adat. Ia bukan hanya menambah rasa manis, tetapi juga memberi warna, aroma, dan makna sejarah yang mendalam.

Di sisi lain, dunia modern memperkenalkan berbagai alternatif gula. Namun, jika diinginkan rasa autentik dan nuansa tradisional, gula merah tetap menjadi pilihan utama. Ia adalah jantung rasa, satu bahan yang mampu mengubah hidangan biasa menjadi kenangan manis.

Jadi, ketika kita menyalakan kompor, atau bahkan menyalakan microwave, mari kita beri ruang bagi gula merah. Sederhana, tapi berkesan. Sebuah peringatan bagi kita semua: "Tidak semua manis datang dari gula putih. Kadang, rasa paling otentik datang dari gula merah yang menanti di dapur."

Tags