Ternyata Bukan Asli Nusantara, Ini Makanan Indonesia yang Dipengaruhi Belanda
Laila - Monday, 25 May 2026 | 05:20 PM


Akulturasi di Atas Piring: Jejak Kuliner Belanda dalam Makanan Khas Indonesia
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai asal-usul makanan yang sering disantap sehari-hari? Indonesia memang dikenal memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam. Namun, di balik kelezatan berbagai hidangan tersebut, terdapat pengaruh budaya asing yang turut membentuk cita rasanya, salah satunya dari Belanda.
Selama ratusan tahun masa kolonial, terjadi percampuran budaya yang tidak hanya terlihat dalam arsitektur dan sistem sosial, tetapi juga pada dunia kuliner. Dari proses tersebut lahirlah berbagai makanan hasil akulturasi antara budaya lokal dan Eropa, khususnya Belanda. Menariknya, makanan-makanan itu kini justru dianggap sangat khas Indonesia.
Perkedel, Adaptasi Frikadel ala Nusantara
Perkedel merupakan salah satu lauk pelengkap yang populer di Indonesia. Nama "perkedel" berasal dari kata Belanda frikadel, yaitu hidangan berbahan dasar daging cincang yang digoreng.
Dalam perkembangannya di Indonesia, penggunaan daging yang saat itu tergolong mahal digantikan atau dicampur dengan kentang. Perubahan tersebut melahirkan perkedel khas Indonesia yang memiliki tekstur lembut dan cita rasa gurih.
Semur, Perpaduan Rempah dan Teknik Memasak Eropa
Semur berasal dari kata Belanda smoor, yaitu teknik memasak dengan api kecil dalam waktu lama. Hidangan ini kemudian berkembang di Indonesia dengan tambahan berbagai rempah seperti pala, cengkeh, kayu manis, serta kecap manis.
Hasilnya, semur Indonesia memiliki rasa manis dan kaya rempah yang berbeda dari versi aslinya di Eropa.
Selat Solo, Steak dengan Sentuhan Jawa
Selat Solo merupakan contoh nyata perpaduan budaya Barat dan Jawa. Hidangan ini memadukan daging sapi, sayuran, telur, serta saus khas yang terinspirasi dari salad dan steak Eropa.
Makanan ini dahulu berkembang di lingkungan bangsawan Solo sebagai bentuk adaptasi terhadap selera orang Belanda, namun tetap mempertahankan unsur cita rasa lokal.
Kastengel dan Nastar, Kue Kering Warisan Eropa
Kastengel berasal dari kata kaas yang berarti keju dan stengels yang berarti batang. Sementara itu, nastar berasal dari kata ananas (nanas) dan taart (tart).
Kedua kue ini mengalami penyesuaian bahan dan rasa sesuai selera masyarakat Indonesia hingga akhirnya menjadi sajian khas yang identik dengan perayaan hari raya.
Lapis Legit, Simbol Kemewahan dan Kesabaran
Lapis legit atau spekkoek dikenal sebagai kue berlapis yang membutuhkan proses pembuatan cukup rumit. Kue ini menggunakan banyak telur, mentega, dan rempah-rempah khas.
Pada masa kolonial, lapis legit hanya disajikan untuk kalangan elite. Kini, kue tersebut menjadi salah satu warisan kuliner yang sangat digemari masyarakat Indonesia.
Kuliner sebagai Bukti Akulturasi Budaya
Berbagai makanan tersebut menunjukkan bahwa kuliner merupakan hasil dari proses budaya yang terus berkembang. Meski memiliki akar sejarah kolonial, masyarakat Indonesia berhasil mengolah dan menyesuaikannya menjadi hidangan dengan identitas baru yang khas Nusantara.
Akulturasi inilah yang menjadikan kuliner Indonesia begitu unik, kaya rasa, dan memiliki cerita sejarah di balik setiap hidangannya.
Next News

Mengapa Lansia Perlu Tetap Aktif? Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
8 hours ago

Ketika Kenangan Buruk Masih Terasa Berat: Memahami Respons Tubuh dan Pikiran
8 hours ago

Sarapan untuk Lansia: Mengapa Menu Pagi Perlu Diperhatikan?
8 hours ago

Makanan Favorit vs Kebutuhan Tubuh: Bagaimana Menemukan Keseimbangan?
8 hours ago

Kurangi Garam atau Gula? Mengenal Prinsip Pola Makan Sehat di Usia Lanjut
9 hours ago

Bahagia Ternyata Baik untuk Kesehatan: Apa Hubungan Keduanya?
9 hours ago

Setelah Mengalami Peristiwa Berat, Mengapa Perasaan Bisa Berubah?
9 hours ago

Berdamai dengan Pengalaman Tidak Menyenangkan, Mengapa Prosesnya Tidak Instan?
9 hours ago

Tekanan Darah Tinggi Tanpa Gejala, Mengapa Pemeriksaan Rutin Penting?
9 hours ago

Mengenal Penyakit yang Sering Muncul Seiring Bertambahnya Usia, Lansia Perlu Lebih Waspada
9 hours ago





