Terlalu Sering Makan dan Minum Manis? Kenali Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Menguranginya
Tata - Thursday, 27 August 2026 | 09:35 AM


Dilema Si Manis: Antara Self-Reward dan Investasi Penyakit
Bayangkan skenario ini: hari sedang panas-panasnya, deadline kerjaan menumpuk di meja, dan mood kamu lagi terjun bebas. Tiba-tiba, ada teman yang nyeletuk, "Eh, pesan boba yuk?" atau "Eh, kopi susu gula aren yang di depan itu kayaknya seger banget deh." Tanpa pikir panjang, jempol kamu langsung menari di atas layar ponsel, memesan minuman dengan tingkat kemanisan normal—atau malah extra sugar biar makin nendang. Begitu sedotan pertama masuk, rasanya kayak ada kembang api yang meledak di kepala. Bahagia sesaat, beban hidup terasa terangkat barang lima menit.
Kebiasaan ini bukan cuma milik kamu sendirian. Di Indonesia, hubungan kita sama gula itu sudah sampai tahap "toxic relationship" yang susah diputusin. Makan nasi uduk pagi-pagi, minumnya teh manis hangat. Siang makan bakso pedas, penawarnya es teh manis gelas besar. Malam-malam pas lagi nugas atau lembur, martabak manis cokelat keju jadi pelarian paling masuk akal. Gula seolah-olah jadi bensin utama buat kita tetap waras menjalani hari yang capek ini.
Kenapa Sih Kita Doyan Banget Sama yang Manis?
Secara sains—tapi nggak usah dibawa serius banget—otak kita itu emang didesain buat suka sama gula. Zaman nenek moyang dulu, rasa manis itu penanda kalau buah tersebut matang dan punya energi tinggi. Masalahnya, kita sekarang nggak lagi berburu buah di hutan, tapi berburu promo di aplikasi ojek online. Gula memicu pelepasan dopamin di otak, zat kimia yang bikin kita merasa senang, rileks, dan puas. Efeknya mirip-mirip kayak dapat notifikasi dari gebetan atau menang war tiket konser: bikin nagih.
Istilah kerennya adalah sugar rush. Kamu merasa bertenaga banget setelah makan yang manis-manis. Tapi, ya itu tadi, yang naik dengan cepat bakal turun dengan cepat juga. Nggak lama setelah euforia itu lewat, kamu bakal ngerasain yang namanya sugar crash. Badan mendadak lemas, ngantuk yang nggak ketulungan (apalagi pas lagi rapat siang bolong), dan bawaannya pengen marah-marah nggak jelas alias cranky. Solusi paling gampang menurut otak kita? Ya makan manis lagi. Begitu terus sampai siklusnya jadi lingkaran setan yang nggak ada ujungnya.
Dampak yang Nggak Cuma Soal Angka di Timbangan
Kalau kita bicara soal bahaya gula, pikiran orang biasanya langsung lari ke diabetes atau badan yang makin "lebar". Memang benar, tapi dampaknya sebenarnya jauh lebih luas dan seringkali nggak kita sadari. Pernah nggak sih kamu ngerasa jerawatan parah padahal sudah pakai skincare mahal yang harganya jutaan? Bisa jadi itu bukan karena nggak cocok sama sabun mukanya, tapi karena boba yang kamu minum kemarin lusa. Gula berlebih dalam darah bisa memicu proses peradangan dan bikin kulit jadi lebih berminyak serta gampang jerawatan. Istilahnya, kamu ngasih makan bakteri di wajah lewat makanan manis.
Belum lagi soal penuaan dini. Gula punya hobi jahat bernama glikasi, di mana dia menempel pada kolagen di kulit kita. Hasilnya? Kolagen jadi kaku dan pecah, yang bikin kulit kehilangan elastisitasnya. Jadi, daripada cuma investasi di krim anti-aging, mungkin mending mulai investasi dengan ngurangin jajan es kopi susu setiap hari.
Di sisi kesehatan organ dalam, gula adalah musuh dalam selimut bagi jantung dan hati. Konsumsi gula berlebih, terutama fruktosa yang banyak ada di minuman kemasan, bakal diproses di hati dan diubah jadi lemak. Kalau lemak ini numpuk, kamu bisa kena fatty liver alias perlemakan hati, padahal kamu nggak minum alkohol sama sekali. Ngeri, kan? Belum lagi risiko hipertensi dan kolesterol yang diam-diam mengintai di balik manisnya sepotong cake estetik yang kamu foto buat masuk Story Instagram.
Gula Tersembunyi: Jebakan Batman di Mana-mana
Salah satu hal yang bikin kita susah lepas dari gula adalah fakta bahwa dia ada di mana-mana, bahkan di tempat yang nggak kita duga. Kamu mungkin mikir, "Gue kan nggak suka makan permen." Tapi, coba cek saus sambal di meja makan, kecap manis yang melimpah di nasi goreng, atau roti gandum yang katanya "sehat" itu. Hampir semua makanan olahan punya tambahan gula supaya rasanya lebih enak dan kita pengen beli lagi.
Bahkan jus buah kemasan yang labelnya "100% Sari Buah" seringkali sudah kehilangan seratnya dan cuma menyisakan air gula dengan aroma buah. Minum jus kemasan itu sebenarnya beda tipis sama minum soda kalau dilihat dari kadar gulanya. Kita merasa sehat, padahal organ dalam kita lagi kerja rodi buat memproses asupan gula yang masuk tiba-tiba dalam jumlah besar.
Mulai Berdamai: Gimana Cara Nguranginnya?
Nggak ada yang nyuruh kamu buat berhenti total makan manis hari ini juga. Itu mah namanya siksaan, bukan gaya hidup sehat. Lagipula, kalau langsung berhenti total (cold turkey), biasanya ujung-ujungnya malah bakal "balas dendam" dengan makan manis lebih banyak di kemudian hari. Kuncinya adalah moderasi dan kesadaran diri.
Langkah kecil yang bisa kamu coba adalah mulai minta less sugar tiap kali pesan minuman. Kalau biasanya normal, coba turunin ke 50 persen, terus pelan-pelan ke 25 persen. Awalnya emang bakal terasa hambar dan kayak ada yang kurang, tapi lidah itu organ yang adaptif banget. Lama-lama, kamu bakal ngerasa kalau minuman yang "normal sugar" itu ternyata kemanisan banget sampai bikin enek.
Coba juga buat ganti camilan sore dari gorengan atau kue-kue manis ke buah potong yang segar. Buah tetap punya gula (fruktosa), tapi dia datang satu paket sama serat. Serat inilah yang bakal ngerem penyerapan gula ke aliran darah, jadi nggak ada tuh cerita sugar rush yang bikin kaget badan. Plus, perbanyak minum air putih. Seringkali, rasa "pengen yang manis-manis" itu sebenarnya kode dari badan kalau kita lagi dehidrasi. Begitu minum air putih satu gelas besar, biasanya keinginan buat jajan langsung hilang.
Kesimpulan: Hidup Manis Tanpa Gula Berlebih
Pada akhirnya, menikmati hidup itu perlu, dan makanan manis adalah salah satu sumber kebahagiaan sederhana yang bisa kita akses dengan murah. Nggak ada salahnya kok makan martabak bareng temen-temen atau ngerayain ulang tahun pakai kue cokelat yang lumer di mulut. Yang jadi masalah adalah ketika hal itu jadi kebiasaan harian yang dilakukan tanpa kontrol.
Kita harus mulai sadar kalau badan kita ini bukan tempat sampah yang bisa dijejali apa saja hanya demi kesenangan lidah selama lima detik. Kesehatan itu aset jangka panjang. Jangan sampai nanti di masa tua, tabungan yang sudah susah payah dikumpulkan malah habis cuma buat biaya rumah sakit gara-gara kita nggak bisa ngerem keinginan minum es teh manis manis lima gelas sehari sekarang. Yuk, mulai dengerin badan sendiri. Sehat itu nggak harus menderita, kok. Cukup dikurangi pelan-pelan, sampai kamu sadar kalau hidup tanpa terlalu banyak gula itu ternyata jauh lebih berenergi dan menyenangkan.
Next News

Waspada Tech Neck! Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Membuat Leher Cepat Mengalami Kerutan
in 6 hours

Siapa Penemu Mikroskop? Menelusuri Sejarah Alat yang Membuka Dunia Mikro
in 6 hours

Kebiasaan Minum Sejak Muda, Apa Dampaknya bagi Kesehatan di Masa Depan?
in 6 hours

Brondolan Sawit: Buah Kecil yang Ternyata Bernilai Ekonomi Besar
in 5 hours

Ayam Cemani, Si Ayam Serba Hitam Asal Indonesia yang Mendunia
in 5 hours

Kulit Singkong Jangan Langsung Dibuang! Ternyata Bisa Dimanfaatkan Jadi Camilan, Pakan, hingga Kompos
in 5 hours

Kangkung, Sayuran Murah yang Punya Banyak Fakta Unik: Benarkah Bisa Bikin Ngantuk?
in 5 hours

Kulit Kepala Terasa Panas dan Perih? Kenali Penyebabnya, Jangan Diabaikan
in 5 hours

Telinga Sering Berdenging Tanpa Sebab? Kenali Tinnitus dan Penyebabnya
in 5 hours

Paha Kaku dan Nyeri Setelah Olahraga? Kenali DOMS dan Cara Mengatasinya
in 5 hours





