Tahuri, Terompet Kerang Khas Maluku yang Menjadi Simbol Tradisi dan Komunikasi Leluhur
RAU - Thursday, 21 May 2026 | 12:56 PM


Tahuri, Terompet Kerang Khas Maluku yang Sarat Nilai Budaya
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Salah satu warisan budaya unik dari wilayah timur Indonesia adalah tahuri, alat musik tradisional khas Maluku yang terbuat dari cangkang kerang laut. Dengan suara nyaring dan bentuk yang tidak biasa, tahuri menjadi simbol penting dalam kehidupan masyarakat pesisir Maluku.
Tidak hanya digunakan sebagai alat musik, tahuri juga memiliki nilai sejarah dan fungsi sosial yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat.
Sejarah Tahuri di Maluku
Tahuri telah lama dikenal oleh masyarakat pesisir Maluku sebagai alat komunikasi tradisional. Alat ini mulai berkembang dan digunakan secara luas sekitar akhir tahun 1950-an, terutama untuk mendukung kegiatan adat dan pertunjukan seni daerah.
Pada masa dahulu, suara tahuri dimanfaatkan untuk memanggil warga berkumpul di baileo atau balai pertemuan adat. Bahkan, jumlah tiupan yang dikeluarkan memiliki arti tertentu. Misalnya, satu kali tiupan menjadi pertanda adanya warga yang meninggal dunia atau adanya informasi penting yang harus segera diketahui masyarakat.
Karena fungsinya yang sangat vital, tahuri menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku.
Fungsi Tahuri dalam Kehidupan Masyarakat
Selain sebagai alat komunikasi tradisional, tahuri juga sering digunakan dalam berbagai pertunjukan budaya. Suara khas dari alat musik ini biasanya mengiringi tarian tradisional Maluku seperti Tari Cakalele.
Dalam pertunjukan seni, tahuri dimainkan bersama alat musik tradisional lain seperti tifa, gong, hingga ukulele. Kombinasi bunyi tersebut menciptakan nuansa musik khas Maluku yang meriah dan penuh semangat.
Menariknya, pemain tahuri umumnya terdiri dari anak-anak dan remaja yang tergabung dalam kelompok musik daerah. Hal ini menjadi salah satu cara masyarakat menjaga kelestarian budaya lokal agar tetap dikenal generasi muda.
Keunikan Tahuri yang Terbuat dari Kerang Laut
Hal paling mencolok dari tahuri tentu berasal dari bahan pembuatannya. Alat musik ini dibuat menggunakan cangkang kerang laut berukuran besar yang kemudian dilubangi pada bagian tertentu agar dapat ditiup seperti terompet.
Ukuran kerang ternyata mempengaruhi karakter suara yang dihasilkan. Kerang berukuran kecil biasanya menghasilkan suara lebih tinggi dan nyaring, sedangkan kerang besar menghasilkan nada lebih berat.
Pembuatan tahuri membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus. Setelah dilubangi, kerang akan diuji dengan cara ditiup berulang kali hingga menghasilkan nada yang sesuai. Nada tersebut kemudian diselaraskan dengan alat musik lain seperti suling maupun pianika agar harmonis saat dimainkan bersama.
Tahuri Tidak Hanya Ada di Maluku
Meski identik dengan budaya Maluku, tahuri juga ditemukan di beberapa daerah lain di Indonesia, terutama wilayah pesisir. Salah satunya adalah Kabupaten Biak di Papua.
Di daerah tersebut, tahuri juga dimanfaatkan sebagai alat komunikasi adat sekaligus pengiring tarian tradisional. Kehadiran tahuri di berbagai wilayah membuktikan bahwa alat musik ini memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat maritim Indonesia.
Upaya Melestarikan Warisan Budaya Tahuri
Sebagai salah satu alat musik tradisional yang unik, tahuri perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Pelestarian dapat dilakukan melalui pendidikan budaya, pertunjukan seni daerah, hingga promosi wisata budaya di Maluku dan wilayah Indonesia Timur lainnya.
Dengan mengenal tahuri, masyarakat tidak hanya mempelajari alat musik tradisional, tetapi juga memahami bagaimana leluhur Indonesia memanfaatkan alam sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Tahuri bukan sekadar alat musik dari cangkang kerang, melainkan simbol tradisi, komunikasi, dan kekayaan budaya masyarakat pesisir Indonesia. Keunikan bentuk serta nilai sejarah yang dimilikinya menjadikan tahuri sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang patut dijaga dan dilestarikan.
Jika berkesempatan mengunjungi Maluku, menyaksikan pertunjukan tahuri secara langsung tentu menjadi pengalaman budaya yang menarik dan berkesan.
Next News

Bener nggak sih manusia bisa menangkap suara sebanyak 400 bahkan lebih?
in an hour

Pasti sering kan keinjek atau tidak sengaja memegang kayu yang lapuk yang berisi telur rayap. Jika terkena tangan Apakah itu bahaya?
in an hour

Kenapa produk kw tetap bisa masuk ke negara-negara yang pengawasannya??
in an hour

Mengapa suara toa lebih dominan kerasnya dibandingkan speaker biasa yang dipakai di sound system padahal kan sama-sama untuk pengeras suara??
in an hour

Keseringan letakkan ponsel di bawah bantal ini bisa menyebabkan kanker otak?? Bener nggak sih?
in an hour

Kenapa Menelan Terasa Sakit? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
15 hours ago

Tekanan Darah Tinggi? Ini Daftar Makanan Sehat yang Wajib Dikonsumsi
15 hours ago

Saat Americano Terasa Lebih Pahit, Cek Kondisi Batinmu
4 hours ago

Mitos atau Fakta: Kenapa Orang Dewasa Masih Bisa Cacingan?
4 hours ago

Mengenal Sinusitis: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Membedakan Akut vs Kronis
5 hours ago





