Senin, 5 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Stres dan Berat Badan Bisa Saling Berkaitan, Begini Hubungannya

Tata - Sunday, 27 September 2026 | 03:11 PM

Background
Stres dan Berat Badan Bisa Saling Berkaitan, Begini Hubungannya

Stres merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi tekanan atau situasi yang dianggap menantang. Dalam jangka pendek, respons stres membantu seseorang menjadi lebih waspada dan siap menghadapi keadaan tertentu. Namun, ketika stres berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai kebiasaan yang berkaitan dengan berat badan.

Hubungan antara stres dan berat badan tidak selalu berjalan dalam satu arah. Pada sebagian orang, stres dapat membuat nafsu makan meningkat sehingga asupan makanan bertambah. Sementara itu, orang lain justru kehilangan selera makan ketika sedang menghadapi tekanan. Karena itu, perubahan berat badan akibat stres dapat berbeda-beda.

Salah satu mekanisme yang berperan adalah perubahan hormon ketika tubuh menghadapi stres. Saat mengalami tekanan, tubuh mengaktifkan respons stres yang melibatkan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Respons ini merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh untuk menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Jika stres berlangsung lama, perubahan pada sistem respons stres dapat berinteraksi dengan pola tidur, nafsu makan, dan perilaku sehari-hari. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tertentu, terutama makanan yang tinggi kalori, gula, atau lemak.

Makanan juga dapat menjadi cara seseorang mencari rasa nyaman ketika sedang tertekan. Kebiasaan ini sering disebut emotional eating, yaitu makan bukan semata-mata karena lapar secara fisik, tetapi karena dorongan emosi seperti stres, bosan, sedih, atau cemas.



Jika kebiasaan tersebut berlangsung berulang dan jumlah makanan yang dikonsumsi melebihi kebutuhan tubuh, berat badan dapat mengalami peningkatan. Namun, tidak semua orang yang mengalami stres akan mengalami hal yang sama. Faktor genetik, kebiasaan makan, kondisi lingkungan, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan juga ikut menentukan perubahan berat badan.

Stres juga dapat memengaruhi berat badan secara tidak langsung melalui tidur. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tidur dapat menjadi lebih sulit atau tidak berkualitas. Kurang tidur kemudian dapat memengaruhi rasa lapar, pilihan makanan, energi untuk beraktivitas, serta kemampuan tubuh mengatur pola makan.

Seseorang yang kurang tidur mungkin merasa lebih lelah pada siang hari sehingga aktivitas fisiknya berkurang. Ketika tubuh terasa tidak bertenaga, keinginan untuk berolahraga atau melakukan aktivitas fisik juga dapat menurun. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, pengeluaran energi harian dapat ikut berubah.

Di sisi lain, stres berat pada sebagian orang justru dapat menyebabkan nafsu makan menurun. Ketika pikiran terlalu terbebani, seseorang mungkin tidak tertarik untuk makan atau mengalami gangguan pencernaan. Jika asupan makanan terus berkurang, berat badan dapat mengalami penurunan.

Karena itu, perubahan berat badan yang terjadi ketika seseorang sedang stres tidak selalu berarti peningkatan berat badan. Ada orang yang menjadi lebih sering makan, sementara yang lain justru sulit makan. Respons tubuh dan perilaku terhadap stres memang dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.



Stres juga dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari. Orang yang sedang mengalami tekanan mungkin lebih sering melewatkan waktu makan, mengonsumsi makanan secara tidak teratur, mengandalkan makanan cepat saji, atau mengurangi aktivitas fisik. Perubahan kecil yang berlangsung dalam waktu lama dapat memberikan pengaruh terhadap berat badan.

Mengelola stres karena itu menjadi bagian penting dalam menjaga pola hidup secara keseluruhan. Aktivitas fisik ringan hingga sedang, tidur yang cukup, menjaga jadwal makan, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta memiliki waktu untuk beristirahat dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih baik.

Saat merasa ingin makan karena stres, seseorang juga dapat mencoba mengenali apakah tubuh benar-benar lapar atau sedang mencari pelampiasan emosional. Bukan berarti makanan tertentu harus sepenuhnya dihindari, tetapi kesadaran terhadap pola makan dapat membantu mencegah kebiasaan makan berlebihan yang terjadi berulang.

Jika stres sudah berlangsung lama dan mulai mengganggu tidur, pola makan, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat. Konsultasi dengan dokter, psikolog, atau tenaga kesehatan lain dapat membantu mencari penyebab dan strategi penanganan yang sesuai.

Begitu pula jika terjadi perubahan berat badan yang cukup besar tanpa perubahan pola makan atau aktivitas yang jelas. Kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap hanya disebabkan oleh stres karena perubahan berat badan juga dapat berkaitan dengan berbagai faktor kesehatan lainnya.



Pada akhirnya, stres dan berat badan memang dapat saling berkaitan melalui berbagai jalur, mulai dari hormon, nafsu makan, pola tidur hingga aktivitas fisik. Namun, hubungan tersebut bersifat kompleks dan tidak sama pada setiap orang. Menjaga pola hidup yang teratur sekaligus memperhatikan kondisi psikologis dapat membantu menjaga kesehatan secara menyeluruh.