Minggu, 21 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sipirok, Kopi, dan Kenikmatan Sepotong Panggelong yang Melegenda

RAU - Sunday, 21 June 2026 | 03:35 PM

Background
Sipirok, Kopi, dan Kenikmatan Sepotong Panggelong yang Melegenda

Sipirok, Kopi, dan Kenikmatan Sepotong Panggelong yang Melegenda

Kalau kita bicara soal Tapanuli Selatan, pikiran orang biasanya langsung tertuju pada indahnya panorama Tor Sibohi atau segarnya udara di Sipirok yang sering dijuluki sebagai Swiss-nya Sumatera Utara. Tapi, buat para pemburu kuliner atau mereka yang besar di tanah Batak Angkola, Sipirok bukan cuma soal pemandangan. Sipirok adalah soal rasa yang tertinggal di lidah, terutama lewat sepotong kudapan manis bernama kue panggelong.

Panggelong ini sebenarnya punya profil yang unik. Secara visual, dia mungkin terlihat seperti saudara jauhnya gemblong yang ada di Jawa. Tapi jangan salah, sekali gigit, ada karakter kuat yang membedakannya. Kue ini adalah definisi "donat kampung" yang naik kelas tanpa perlu banyak gaya. Teksturnya kenyal di dalam, tapi punya "casing" gula merah yang mengeras dan memberikan sensasi kriuk yang nagih banget.

Jejak Sejarah dalam Setiap Gigitan

Menelusuri sejarah panggelong itu seperti mencoba merangkai potongan memori para tetua di pasar tradisional Sipirok. Tidak ada catatan administratif pasti kapan pertama kali tepung ketan dan gula merah ini "menikah" dan diberi nama panggelong. Namun, masyarakat lokal percaya bahwa kue ini sudah ada sejak zaman kolonial sebagai camilan pengganjal perut para pedagang yang menempuh perjalanan jauh ke pasar-pasar tradisional (onan).

Sipirok, sebagai titik temu perdagangan di masa lalu, membutuhkan makanan yang tahan lama tapi padat energi. Panggelong memenuhi kriteria itu. Berkat lapisan gula merahnya yang tebal, kue ini tidak mudah basi dalam sehari dua hari. Lapisan gula itu bertindak sebagai pengawet alami, sekaligus pemberi energi instan bagi siapa saja yang memakannya di tengah udara dingin Sipirok yang menusuk tulang.

Nama "panggelong" sendiri bagi telinga lokal terdengar sangat deskriptif. Ada unsur kata yang merujuk pada proses memulung atau membentuk adonan menjadi lonjong dengan tangan. Di sinilah letak nilai estetikanya; setiap butir panggelong tidak akan pernah punya bentuk yang identik seratus persen, karena semuanya dibuat secara manual dengan sentuhan tangan pengrajinnya.



Rahasia di Balik Dapur: Bukan Sekadar Tepung Ketan

Mungkin kalian berpikir, "Ah, paling cuma tepung ketan." Eits, tunggu dulu. Bikin panggelong yang pas itu butuh jam terbang. Bahan dasarnya memang tepung ketan, tapi harus dicampur dengan kelapa parut yang pas usianya—nggak boleh terlalu tua karena bakal berminyak, dan nggak boleh terlalu muda karena bakal bikin adonan lembek.

Adonan ini kemudian digoreng sampai kecokelatan. Nah, tahap krusialnya ada di proses "manggulo" atau pelapisan gula. Gula merah (biasanya gula aren asli Tapanuli yang aromanya khas banget) dimasak sampai menjadi karamel yang berbusa. Dalam kondisi panas membara itulah, bola-bola ketan tadi dimasukkan dan diaduk cepat. Kalau telat sedetik saja, gulanya bakal mengeras tidak rata. Kalau terlalu cepat, gulanya belum menempel sempurna. Ini adalah seni mengatur waktu yang diturunkan secara lisan dari ibu ke anak, dari nenek ke cucu di dapur-dapur rumah panggung Sipirok.

Lebih dari Sekadar Camilan: Simbol Kebersamaan

Di balik rasanya yang manis legit, panggelong punya filosofi yang cukup mendalam dalam tatanan sosial masyarakat Sipirok dan sekitarnya. Kue ini sering hadir dalam momen-momen kumpul keluarga. Tekstur ketannya yang lengket sering diasosiasikan dengan harapan agar hubungan kekeluargaan tetap erat dan tidak mudah terpecah belah.

Selain itu, panggelong adalah teman setia bagi kopi Sipirok yang sudah mendunia. Bayangkan saja, duduk di beranda rumah saat sore hari, hujan rintik-rintik turun, lalu ada sepiring panggelong hangat dan segelas kopi hitam pahit. Rasa manis dari gula aren panggelong akan menyeimbangkan rasa asam-pahit kopi Arabika Sipirok yang bold. Ini adalah sebuah "pairing" kuliner lokal yang menurut saya jauh lebih mewah daripada kombinasi kopi dan croissant di cafe-cafe hits Jakarta.

Nasib Panggelong di Tengah Gempuran Kuliner Kekinian

Jujur saja, di era sekarang, panggelong menghadapi tantangan besar. Anak muda sekarang mungkin lebih kenal dengan mochi ala Jepang atau donat glaze warna-warni yang estetik buat masuk Instagram Story. Panggelong seringkali hanya dianggap "makanan orang tua" atau oleh-oleh yang dibeli kalau kebetulan lewat pasar saja.



Padahal, panggelong punya potensi "artisan food" yang besar. Sekarang mulai banyak perantau asal Tapanuli yang merindukan jajanan ini, sehingga panggelong mulai masuk ke ranah pengiriman online lintas kota. Meski rasanya mungkin sedikit berkurang karena tidak dimakan langsung setelah matang, setidaknya ini menjadi napas baru bagi para pembuat panggelong tradisional untuk tetap berproduksi.

Mengonsumsi panggelong hari ini bukan cuma soal memanjakan lidah, tapi juga soal menjaga narasi sejarah kuliner kita agar tidak hilang ditelan zaman. Setiap gigitan panggelong adalah bentuk apresiasi kita terhadap ketekunan para ibu di Sipirok yang masih setia mengaduk kuali gula panas demi mempertahankan resep warisan leluhur.

Penutup: Sebuah Ajakan untuk Mencoba

Kalau kalian punya kesempatan main ke Tapanuli Selatan, atau sekadar lewat di jalur lintas Sumatera, jangan lupa mampir ke Sipirok. Carilah warung atau pedagang pasar yang menjajakan panggelong. Jangan protes kalau jari kalian jadi lengket kena gula merahnya, karena itulah seninya.

Panggelong bukan sekadar makanan manis; ia adalah saksi bisu sejarah, simbol keramahtamahan, dan bukti bahwa kesederhanaan bahan lokal bisa menghasilkan cita rasa yang tak lekang oleh waktu. Jadi, masih mau pilih donat mall terus? Sesekali, kembalilah ke akar dengan menikmati legitnya sejarah dalam sepotong panggelong khas Sipirok.