Sering Pakai Headset? Waspada Risiko Gangguan Pendengaran di Usia Muda
Tata - Friday, 06 March 2026 | 05:05 PM


Menjadi Kaum Mendang-Mending yang Terjebak di Balik Headset: Nyaman Sih, Tapi Kuping Apa Kabar?
Coba deh kalian perhatikan sekeliling pas lagi naik KRL, TransJakarta, atau sekadar nongkrong di coffee shop hits di sudut kota. Pemandangannya hampir seragam: orang-orang sibuk dengan dunianya sendiri, dan ada satu benda wajib yang nempel di telinga. Entah itu headset kabel yang menjuntai estetis, headphone segede gaban yang bikin gaya makin indie, atau TWS (True Wireless Stereo) mungil yang sering hilang sebelah kalau nggak hati-hati.
Headset sekarang bukan lagi sekadar alat buat dengerin musik. Benda ini sudah jadi semacam "benteng pertahanan" dari bisingnya klakson kendaraan, obrolan random orang asing, atau sekadar cara halus buat bilang ke dunia, "Jangan ganggu gue, gue lagi di zona nyaman." Tapi, jujur deh, pernah nggak sih kalian merasa kuping rasanya pengap, panas, atau bahkan ada suara "nging" tipis-tipis pas lagi rebahan malam hari? Kalau iya, mungkin kalian sudah masuk dalam golongan kaum keseringan pakai headset.
Dunia yang Hening (Tapi Bohong)
Kita sering merasa kalau pakai headset itu bikin suasana jadi tenang. Apalagi kalau sudah pakai fitur Active Noise Cancelling (ANC). Wah, serasa pindah ke dimensi lain! Masalahnya, kesenangan ini sering bikin kita lupa daratan. Kita dengerin lagu favorit dengan volume kencang biar makin "nge-feel", atau marathon drakor sampai tiga jam non-stop tanpa melepas alat itu dari kuping.
Secara nggak sadar, kita lagi melakukan "penyiksaan" pelan-pelan ke organ pendengaran kita. Ibarat mesin yang dipaksa kerja rodi tanpa oli, gendang telinga kita juga punya batas lelah. Para ahli kesehatan sering memperingatkan soal aturan 60/60. Artinya, volume maksimal 60 persen dan pakainya jangan lebih dari 60 menit. Tapi ya namanya juga manusia zaman now, dengerin podcast satu jam aja rasanya baru pemanasan. Belum lagi kalau lagi mabar (main bareng) game online yang bisa bikin headset nempel dari Isya sampai Subuh.
Risiko Jadi "Budek" di Usia Muda
Bukan mau menakut-nakuti, tapi fenomena NIHL (Noise-Induced Hearing Loss) itu nyata adanya. Ini bukan tipe gangguan pendengaran yang datang tiba-tiba kayak petir di siang bolong, melainkan pelan dan pasti. Awalnya mungkin kalian cuma merasa suara orang lain terdengar agak mendem, atau sering minta teman mengulang omongannya dengan kalimat legendaris: "Hah? Apaan?".
Selain soal pendengaran, ada juga masalah klasik bernama "earwax buildup" alias penumpukan kotoran telinga. Logikanya sederhana: telinga kita itu punya mekanisme alami buat mengeluarkan kotoran ke luar. Tapi karena kita tutup terus pakai headset, kotoran itu malah terdorong masuk lagi ke dalam. Belum lagi kalau headset-nya jarang dibersihkan. Bayangkan bakteri yang berpesta pora di sana, lalu kita masukkan lagi ke lubang telinga. Nggak heran kalau kadang muncul rasa gatal atau malah infeksi telinga yang bikin meriang.
Efek Sosial: Si Tuli yang Sombong
Lucunya, keseringan pakai headset nggak cuma berdampak ke fisik, tapi juga ke kehidupan sosial. Pernah nggak kalian dipanggil nyokap berkali-kali buat makan malam, tapi nggak nyahut karena lagi asyik dengerin lagu jedag-jedug? Ujung-ujungnya dicap anak durhaka atau minimal disabet pakai serbet.
Di ruang publik pun sama. Kadang headset bikin kita jadi kurang peka sama lingkungan. Ada orang nanya arah jalan, kita nggak dengar. Ada pengumuman perubahan jalur kereta, kita malah asyik merem dengerin lofi hip-hop. Kita jadi manusia-manusia "gelembung" yang terisolasi di tengah keramaian. Memang sih, kadang kita sengaja pakai headset biar nggak diajak ngobrol sama orang nggak dikenal, tapi kalau keterusan, rasa empati dan kesadaran sekitar kita bisa makin tumpul.
Tips Biar Kuping Nggak Cepat "Pensiun"
Terus gimana dong? Masa kita harus balik ke zaman batu dan nggak boleh pakai headset sama sekali? Ya nggak gitu juga mainnya. Kita kan kaum yang butuh hiburan di tengah kerasnya tekanan hidup. Tapi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan biar hubungan kita sama headset tetap sehat walafiat:
- Kasih Jeda Napas: Setiap satu jam pakai, lepas headset minimal 10 sampai 15 menit. Biarkan telinga kalian kena udara segar dan gendang telinga istirahat sejenak.
- Investasi di Headphone Over-Ear: Kalau ada budget lebih, pilih headphone yang modelnya menutup seluruh telinga daripada yang masuk ke lubang telinga (in-ear). Tekanan suaranya relatif lebih ramah buat gendang telinga.
- Kebersihan adalah Koentji: Rutinlah membersihkan eartips headset kalian pakai alkohol swab atau tisu basah khusus. Jangan biarkan itu benda jadi sarang kuman.
- Sadari Volume: Kalau orang di sebelah kalian bisa dengar apa yang kalian dengerin, itu tandanya volumenya sudah terlalu kencang. Kecilin dikit, nggak bakal ngurangin kegantengan atau kecantikan kalian, kok.
Penutup: Sayangi Diri Sendiri
Pada akhirnya, teknologi ada buat memudahkan kita, bukan buat merusak kita. Memang asyik banget bisa dengerin lagu-lagu galau sambil memandang jendela busway, berasa lagi syuting video klip. Tapi ingat, dunia ini terlalu indah buat didengar kalau nanti di masa tua kita malah harus pakai alat bantu dengar gara-gara ego kita sekarang.
Jadi, mulai sekarang, yuk lebih bijak pakai headset-nya. Jangan sampai karena keasyikan dengerin "suara surga" di playlist Spotify, kita malah kehilangan kemampuan buat dengar suara-suara indah yang nyata di sekitar kita. Kuping itu nggak ada onderdilnya di toko online, kawan. Sayangi dia mumpung masih berfungsi normal!
Next News

5 April, Hari Hati Nurani Sedunia: Mengingatkan Manusia untuk Lebih Berempati
in 6 hours

Trend Renang Bayi, Benarkah Bermanfaat?
in 6 hours

Si Kecil Penjaga Jantung dan Tekanan Darah
in 6 hours

Rahasia di Balik Emoji Love Ungu, Cek Artinya di Sini!
in 6 hours

Jangan Gagal Paham, Ini Makna Emoji Topi Biru di Kolom Komentar
in 6 hours

Rahasia Hilangkan Lelah Jiwa dengan Mandi Air Garam di Rumah
in 5 hours

Mengenal Sosok Bhayangkari
in 5 hours

Negara Paling Banyak Makan Mi Instan di Dunia: Indonesia Peringkat Berapa?
7 hours ago

Sering Jajan Online? Waspadai Bahaya Kanker yang Mengintai Anda
in 3 hours

Kota-Kota di Dunia yang Perlahan Tenggelam: Mengapa Ini Bisa Terjadi?
in 3 hours





