Rabu, 1 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sensasi Unik Makan Oyster Mentah Benarkah Seenak Itu

Tata - Sunday, 29 March 2026 | 07:20 PM

Background
Sensasi Unik Makan Oyster Mentah Benarkah Seenak Itu

Makan Oyster: Ritual 'Slurp' yang Antara Mewah, Amis, dan Uji Nyali Perut

Beberapa tahun belakangan ini, ada satu tren kuliner yang rasanya makin menjamur di kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta. Kalau dulu kita cuma bisa nemu menu ini di restoran hotel bintang lima atau tempat fine dining yang harganya bikin dompet menangis, sekarang oyster atau tiram mentah sudah bisa kita temui di bar-bar hits tengah kota, bahkan di beberapa kedai pinggir jalan yang konsepnya kekinian. Fenomena ini bikin kita bertanya-tanya: apa sih enaknya nelan benda licin, dingin, dan amis yang bentuknya lebih mirip—maaf—dahak raksasa ini?

Kalau lo buka media sosial, lo pasti pernah lihat teman atau influencer yang dengan gaya elegannya memegang cangkang tiram, memeras lemon di atasnya, lalu melakukan gerakan 'slurp' yang ikonik. Di balik visual yang estetik itu, makan oyster sebenarnya adalah sebuah pengalaman sensorik yang cukup ekstrem. Buat sebagian orang, oyster adalah lambang kemewahan dan kesegaran laut yang hakiki. Tapi buat sebagian lagi, ini adalah bentuk penyiksaan diri yang dibayar mahal.

Antara Tekstur "Lendir" dan Aroma Lautan

Mari kita bicara jujur soal teksturnya. Oyster mentah itu unik, atau kalau mau jujur, aneh. Saat pertama kali menyentuh lidah, lo bakal merasakan sensasi licin dan kenyal. Begitu digigit, ada cairan asin yang meledak di dalam mulut. Inilah yang oleh para penikmatnya disebut sebagai 'the taste of the ocean'. Rasanya asin, segar, dan ada sedikit rasa manis di akhir (aftertaste) kalau oysternya benar-benar berkualitas tinggi.

Tapi, bagi para pemula, tantangan terbesarnya bukan di rasa, melainkan di mental. Bayangkan lo harus menelan sesuatu yang nggak perlu banyak dikunyah, dingin, dan punya aroma laut yang sangat kuat. Tanpa bantuan perasan lemon atau sedikit tetesan saus Tabasco, makan oyster bisa jadi pengalaman yang bikin mual. Lemon itu kunci, kawan. Asam dari lemon berfungsi untuk 'memasak' protein secara kimiawi dalam waktu singkat dan menetralkan aroma amis yang terlalu menusuk. Tanpa lemon, lo cuma kayak lagi nelan air laut dalam bentuk gel.

Gaya Hidup atau Sekadar FOMO?

Nggak bisa dipungkiri, popularitas oyster naik kencang karena faktor 'keren-kerenan'. Di tongkrongan anak muda Jakarta Selatan misalnya, makan oyster sudah jadi bagian dari gaya hidup. Ada semacam gengsi tersendiri saat kita duduk di oyster bar, memesan satu lusin tiram dari berbagai daerah (entah itu lokal dari Lombok atau impor dari Perancis), sambil menyesap segelas wine putih atau cocktail.



Apakah ini murni soal rasa? Mungkin hanya 40 persen. Sisanya adalah soal pengalaman dan, tentu saja, konten. Ada kepuasan tersendiri saat lo berhasil menaklukkan makanan yang dianggap 'sulit' ini. Makan oyster itu butuh keberanian. Ini bukan kayak makan ayam goreng yang semua orang pasti suka. Makan oyster itu seolah-olah menyatakan ke dunia kalau lo punya selera yang sophisticated dan cukup berani untuk mengambil risiko kesehatan demi sebuah pengalaman kuliner.

Risiko Dibalik Cangkang: Siap-siap Uji Nyali Perut

Ngomongin soal risiko, ini bagian yang paling krusial. Oyster adalah penyaring air laut alami. Mereka bisa menyerap apa saja yang ada di air, termasuk bakteri dan virus. Itulah kenapa syarat mutlak makan oyster adalah: harus segar. Banget. Segar di sini artinya oysternya harus masih hidup sampai saat cangkangnya dibuka di depan mata lo.

Banyak cerita horor soal orang yang kena muntaber atau keracunan makanan hebat setelah pesta oyster. Kalau lo apes dan dapat oyster yang sudah nggak segar atau berasal dari perairan yang tercemar, siap-siap saja jadwal lo seminggu ke depan bakal habis di dalam kamar mandi. Inilah yang bikin makan oyster terasa seperti main Russian Roulette dengan sistem pencernaan sendiri. Makanya, kalau mau makan oyster, jangan pelit. Cari tempat yang memang punya reputasi bagus dalam menjaga rantai pasokan seafood mereka. Lebih baik bayar mahal sedikit daripada bayar tagihan rumah sakit, kan?

Mitos Afrodisiak: Benar atau Cuma Sugesti?

Kita nggak bisa membahas oyster tanpa menyinggung reputasinya sebagai makanan peningkat gairah seksual atau afrodisiak. Mitos ini sudah ada sejak zaman Romawi kuno, dan kabarnya Casanova, sang penakluk wanita yang legendaris itu, sarapan dengan 50 butir oyster setiap pagi supaya tetap 'on'.

Secara sains, oyster memang tinggi akan kandungan zinc yang bagus untuk hormon. Tapi, apakah setelah makan tiga butir oyster lo bakal langsung merasa jadi superhero di ranjang? Ya nggak juga. Efeknya nggak seinstan itu. Kebanyakan itu cuma sugesti karena suasana tempat makannya yang romantis dan mewah. Tapi ya sudahlah, kalau mitos itu bikin lo merasa lebih percaya diri, nikmati saja sensasinya.



Kesimpulan: Layak Dicoba atau Skip Saja?

Jadi, apakah makan oyster itu worth it? Jawabannya kembali ke diri masing-masing. Kalau lo adalah tipe orang yang suka mengeksplorasi rasa dan nggak keberatan dengan tekstur yang sedikit 'menantang', lo harus coba setidaknya sekali seumur hidup. Cari oyster lokal dari Indonesia yang sekarang kualitasnya makin bagus, harganya juga lebih masuk akal dibanding yang harus diterbangkan dari luar negeri.

Tapi kalau dari awal lo sudah merasa geli atau punya perut yang sensitif banget, mending skip aja. Nggak perlu paksa diri cuma demi konten Instagram atau biar dianggap gaul. Kuliner itu soal kebahagiaan, bukan soal memaksakan diri menelan sesuatu yang bikin lo pengen muntah.

Pada akhirnya, makan oyster adalah sebuah ritual. Ritual menikmati kesederhanaan dari alam yang hanya butuh sedikit perasan lemon untuk menjadi hidangan kelas atas. Entah lo menganggapnya sebagai kemewahan atau sekadar tren yang aneh, satu yang pasti: pengalaman pertama makan oyster pasti nggak akan pernah lo lupakan. Entah karena ketagihan, atau karena kapok tujuh turunan.