Seni Menunda: Kenapa Kita Suka Jadi "Deadliner" dan Bagaimana Cara Mengatasinya
Tata - Friday, 14 August 2026 | 08:05 PM


Seni Menunda: Kenapa Kita Lebih Suka Jadi 'Deadliner' dan Gimana Cara Tobatnya
Bayangkan skenario ini: Kamu duduk di depan laptop pukul sembilan pagi dengan semangat yang masih hangat-hangat tahi ayam. Di kepalamu, daftar kerjaan sudah tersusun rapi. Tapi, entah kenapa, jarimu justru lebih lincah mengetik alamat situs e-commerce atau malah asyik scrolling video kucing di TikTok yang durasinya nggak sampai satu menit tapi kalau ditonton bisa menghabiskan waktu dua jam. Tiba-tiba saja matahari sudah mau tenggelam, dan progres kerjaanmu masih nol besar. Selamat, kamu baru saja menjadi korban dari penyakit kronis umat manusia modern: prokrastinasi.
Menunda pekerjaan itu seperti kartu kredit; rasanya menyenangkan saat kamu menggunakannya, tapi kamu bakal pusing tujuh keliling saat tagihannya datang di akhir bulan—atau dalam hal ini, saat tenggat waktu alias deadline sudah tinggal menghitung jam. Kita semua pernah di sana. Bilangnya sih "nanti dulu, cari inspirasi," padahal aslinya cuma takut menghadapi tugas yang bikin pening. Fenomena "SKS" atau Sistem Kebut Semalam sudah jadi budaya yang mendarah daging, seolah-olah adrenalin dari rasa panik adalah bahan bakar utama kreativitas kita. Padahal, jujur saja, itu cuma alasan biar kita nggak merasa terlalu bersalah.
Kenapa Sih Kita Hobi Banget Menunda?
Banyak orang mengira menunda itu karena malas. Padahal, menurut para ahli psikologi, menunda pekerjaan itu lebih berkaitan dengan cara kita mengelola emosi daripada cara kita mengelola waktu. Kita menunda karena tugas itu bikin kita merasa cemas, bosan, atau nggak percaya diri. Alih-alih menghadapi perasaan negatif itu, otak kita yang cerdik ini memilih jalan pintas: cari kesenangan instan. Menonton YouTube atau main game jauh lebih menyenangkan bagi dopamin kita daripada menyusun laporan keuangan yang angkanya bikin mata juling.
Ada juga faktor "optimisme buta." Kita sering merasa kalau diri kita di masa depan adalah sosok pahlawan super yang punya energi tak terbatas. "Ah, besok pagi juga selesai," kata kita dengan penuh percaya diri. Padahal, kita yang besok ya sama saja dengan kita yang sekarang: gampang ngantuk dan hobi rebahan. Menunda sebenarnya adalah cara kita mem-bully diri kita sendiri di masa depan.
Trik Menghadapi 'Penyakit' Nanti-Nanti
Kalau kamu sudah bosan hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah karena kerjaan numpuk, mungkin beberapa trik "setengah maksa" ini bisa kamu coba. Nggak perlu terlalu formal ala seminar motivasi, cukup terapkan pelan-pelan biar nggak kaget.
1. Aturan Dua Menit: Paksa Start-nya Dulu
Seringkali yang bikin kita malas itu bukan pekerjaannya, tapi bayangan betapa beratnya memulainya. Triknya sederhana: kalau ada tugas yang bisa dilakukan dalam waktu kurang dari dua menit, lakukan sekarang juga. Kalau tugasnya besar, cukup komitmen buat mengerjakannya selama dua menit saja. Biasanya, setelah dua menit berjalan, "mesin" di otak kita mulai panas dan kita bakal lanjut terus. Masalahnya seringkali cuma di 'klik' pertama itu.
2. Pecah Tugas Jadi Remahan Biskuit
Jangan lihat laporan 50 halaman sebagai satu tugas raksasa. Itu seram. Pecah jadi bagian-bagian kecil yang nggak mengintimidasi. Misalnya, "buka file," lalu "tulis judul," lalu "bikin kerangka bab satu." Dengan begini, otakmu nggak bakal merasa sedang mendaki Gunung Everest, tapi cuma sekadar jalan santai di taman. Checklist yang tercentang banyak itu punya efek kepuasan tersendiri, lho.
3. Teknik Pomodoro (Versi Manusiawi)
Teknik ini legendaris: kerja 25 menit, istirahat 5 menit. Tapi kalau kamu merasa 25 menit kelamaan, sesuaikan saja. Yang penting ada batas jelas kapan kamu harus serius dan kapan kamu boleh "bernapas." Jangan sampai waktu istirahat yang cuma 5 menit malah keterusan jadi satu jam gara-gara keasyikan baca gosip artis di Twitter. Disiplin di sini adalah kunci, tapi jangan kaku-kaku amat sampai lupa minum air putih.
4. Jauhkan "Gangguan Terbesar"
Kita semua tahu siapa pelakunya: Smartphone. Benda kotak ini adalah magnet distraksi paling kuat. Kalau lagi mau fokus, coba taruh HP di ruangan lain atau gunakan fitur 'Do Not Disturb'. Ada juga aplikasi yang bisa mengunci akses ke media sosial selama waktu tertentu. Memang kedengarannya ekstrem, tapi terkadang kita butuh bantuan teknologi untuk melawan teknologi.
5. Berhenti Jadi Perfeksionis yang Lumpuh
Banyak prokrastinator sebenarnya adalah perfeksionis terselubung. Kita takut hasil kerja kita nggak bagus, jadi kita memilih untuk nggak memulainya sama sekali. Ingat pepatah "Done is better than perfect." Kerjakan saja dulu sampai selesai, meskipun hasilnya masih acak-acakan. Kamu selalu bisa memperbaiki tulisan yang buruk, tapi kamu nggak bisa memperbaiki kertas yang kosong melompong.
Berdamai dengan Diri Sendiri
Satu hal yang sering dilupakan orang adalah memaafkan diri sendiri. Kalau hari ini kamu gagal lagi dan malah seharian main game, ya sudah. Jangan habiskan malammu dengan merutuki diri sendiri sampai nggak bisa tidur, karena itu cuma bakal bikin kamu makin stres besok pagi. Akui saja kalau hari ini kamu lagi "off," lalu buat janji baru buat besok.
Menghilangkan kebiasaan menunda itu bukan sprint, tapi maraton. Nggak bakal langsung hilang dalam semalam. Yang penting adalah sadar kapan kamu mulai masuk ke "lubang hitam" distraksi dan punya kemauan buat merangkak keluar dari sana. Lagipula, hidup itu terlalu singkat kalau cuma dihabiskan buat merasa bersalah karena kerjaan yang belum kelar, kan? Yuk, tutup artikel ini, dan mulai cicil kerjaanmu. Satu paragraf saja dulu, sisanya urusan nanti.
Next News

4 Makanan Penambah Energi Saat Tubuh Lemas, Biar Nggak Jadi "Zombi" di Kantor
in an hour

Mandi Air Dingin Malam Hari: Benarkah Bikin Paru-Paru Basah? Ini Faktanya
in an hour

Filosofi Singkong dan Kopi: Sederhana, Murah, tapi Selalu Bikin Bahagia
in an hour

Kapan Waktu Terbaik Minum Kolagen? Pagi atau Malam, Mana yang Lebih Efektif?
in an hour

Pilates: Bukan Sekadar Olahraga Estetik, Ini Manfaatnya untuk Kekuatan, Postur, dan Tubuh yang Sering Mager
in an hour

Asam Lambung dan GERD: Kenapa Hobi Ngopi, Makan Larut Malam, dan Stres Bisa Bikin Dada Terasa Terbakar?
in an hour

Bukan Cuma Soal Gatal, Kenali Alergi Telur dan Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
in 43 minutes

Rematik Bukan Cuma Penyakit Orang Tua, Kenali Gejalanya Sejak Muda
in 33 minutes

Ganti Gula dengan Madu dan Kurma, Benarkah Lebih Sehat? Ini yang Perlu Kamu Tahu
in 28 minutes

Matcha: Dari Minuman Sakral Biksu Zen hingga Jadi Teman Galau di Kafe
in 13 minutes





