Matcha: Dari Minuman Sakral Biksu Zen hingga Jadi Teman Galau di Kafe
Tata - Friday, 14 August 2026 | 07:40 PM


Matcha: Si Hijau yang Dulu Sakral, Sekarang Jadi Teman Galau di Kafe
Kalau kamu jalan-jalan ke mall atau sekadar scrolling media sosial, rasanya mustahil kalau nggak nemu warna hijau mencolok bin estetik di gelas plastik atau piring pencuci mulut. Ya, apalagi kalau bukan matcha. Minuman yang satu ini sudah naik kasta dari sekadar menu sampingan menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Bahkan, ada semacam "sekte" pecinta matcha yang garis keras banget—yang kalau minumannya nggak ada rasa pahit-pahit "rumput" yang legit, mereka bakal bilang itu cuma susu rasa perisa hijau doang.
Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran kalau bubuk hijau yang bikin harganya lumayan mahal di kedai kopi kekinian itu punya sejarah yang panjang banget? Matcha bukan ujug-ujug ada karena tren minuman kekinian di Instagram. Jauh sebelum jadi bahan campuran kitkat atau mille crepes, matcha adalah minuman para petinggi dan biksu yang penuh dengan filosofi. Mari kita bedah pelan-pelan asal-usulnya, biar pas kamu minum matcha latte nanti, ada sedikit "bobot" sejarah yang kamu seruput.
Bukan dari Jepang? Plot Twist yang Menarik
Banyak yang menyangka kalau matcha itu 100% produk asli Jepang. Ya nggak salah sih, karena Jepang-lah yang membesarkan dan mempopulerkan standarnya ke seluruh dunia. Tapi kalau kita tarik benang merahnya ke belakang, leluhur matcha ini sebenarnya berasal dari daratan Tiongkok, tepatnya pada masa Dinasti Tang (abad ke-7 sampai ke-10).
Zaman dulu, cara orang minum teh itu ribetnya minta ampun. Daun teh nggak cuma diseduh terus dibuang ampasnya kayak kita sekarang. Di masa Dinasti Tang, daun teh diuapkan, lalu dipadatkan jadi bentuk lempengan atau "brick tea". Kalau mau diminum, lempengan itu dipanggang sebentar, ditumbuk sampai jadi bubuk, baru kemudian diseduh dengan air panas dan ditambah sedikit garam. Bayangkan, minum teh pakai garam! Mungkin rasanya lebih mirip sup daripada minuman sore hari.
Nah, kebiasaan mengolah teh jadi bubuk ini makin halus di masa Dinasti Song (abad ke-10 sampai ke-13). Di sinilah teknik "whisking" alias mengocok bubuk teh dengan air panas mulai dikenal. Namun, saat Tiongkok mulai beralih ke cara menyeduh daun teh utuh (sencha style) di masa dinasti-dinasti berikutnya, teknik bubuk ini malah "hijrah" ke Jepang dan menetap permanen di sana.
Biksu Eisai dan Oleh-oleh dari Tiongkok
Sekitar tahun 1191, seorang biksu Zen asal Jepang bernama Eisai pulang dari studinya di Tiongkok. Dia nggak cuma bawa kitab suci, tapi juga bawa bibit pohon teh dan pengetahuan tentang cara mengolah teh bubuk. Eisai menanam bibit itu di kuil di Kyoto, yang sampai sekarang dikenal sebagai daerah penghasil matcha terbaik di dunia: Uji.
Bagi para biksu Zen, matcha bukan cuma minuman penghilang haus. Matcha adalah "alat bantu" meditasi. Karena kandungan kafein dan L-theanine di dalamnya, matcha bisa bikin mereka tetap terjaga (alert) tapi tetap tenang dan fokus. Nggak ada tuh yang namanya "caffeine crash" atau gemeteran kayak kalau kita kebanyakan minum kopi hitam. Inilah kenapa matcha dianggap suci dan sangat eksklusif pada zamannya.
Kenapa Matcha Lebih Mahal dari Teh Biasa?
Mungkin kamu pernah membatin, "Kok cuma bubuk hijau gini harganya lebih mahal daripada teh celup sekotak?" Jawabannya ada pada proses produksinya yang bener-bener butuh kesabaran ekstra. Matcha bukan sembarang daun teh yang digiling. Sekitar tiga sampai empat minggu sebelum panen, tanaman teh ditutup pakai tirai bambu atau kain hitam supaya nggak kena sinar matahari langsung. Istilahnya, tehnya disuruh "puasa" matahari.
Proses shading ini bikin daun teh memproduksi klorofil dan asam amino yang melimpah. Makanya warna matcha hijau neon banget dan ada rasa "umami" atau gurih yang nggak dimiliki teh lain. Setelah dipanen, daunnya diuapkan, dikeringkan, dipisahkan dari batang dan seratnya (jadi bahan yang namanya tencha), baru kemudian digiling pakai batu granit secara manual. Proses penggilingannya pun nggak bisa buru-buru; satu jam penggilingan cuma menghasilkan sekitar 30 gram bubuk matcha halus. Kalau mesinnya muter terlalu cepat, gesekannya bakal bikin panas dan ngerusak rasa tehnya. Kebayang kan effort-nya?
Dari Upacara Sakral ke Gelas Plastik Kekinian
Di Jepang, ada upacara minum teh yang disebut *Chanoyu*. Ini adalah ritual yang sangat formal dan penuh aturan. Gerakannya harus presisi, suasananya harus hening. Namun, seiring berjalannya waktu, matcha mengalami demokratisasi. Dari yang tadinya cuma dikonsumsi kaisar dan biksu, sekarang bisa dinikmati siapa saja, bahkan sambil dengerin musik lo-fi di kafe-kafe Jakarta Selatan.
Fenomena matcha di Indonesia sendiri meledak karena pengaruh budaya pop dan kesadaran akan kesehatan. Matcha dianggap sebagai "superfood" karena antioksidannya yang tinggi. Tapi ya, kadang ironis juga kalau kita pesan matcha tapi campurannya gula cair, kental manis, plus topping boba yang melimpah. Manfaat kesehatannya mungkin agak berkurang, tapi buat kesehatan mental (re: mood booster), ya tetep juara!
Sekarang, matcha sudah punya tempat spesial di hati masyarakat. Ia jadi penyeimbang di antara gempuran kopi susu gula aren yang kadang bikin jantung deg-degan. Ada semacam ketenangan saat kita menyesap matcha latte yang dingin di tengah cuaca panas atau matcha hangat saat hujan. Rasa pahit yang tipis-tipis di lidah itu seolah mengingatkan kalau hidup nggak selalu manis, tapi kalau diolah dengan benar, rasanya bakal tetap nikmat.
Jadi, lain kali kalau kamu memesan matcha, ingatlah perjalanan panjang si bubuk hijau ini. Dari pegunungan di Tiongkok, dibawa menyeberang laut oleh seorang biksu, dijaga ketat dalam tradisi Jepang, sampai akhirnya mendarat di meja kafe tempat kamu lagi nongkrong. Matcha bukan cuma soal tren, ia adalah sejarah yang bisa kamu minum.
Next News

4 Makanan Penambah Energi Saat Tubuh Lemas, Biar Nggak Jadi "Zombi" di Kantor
in an hour

Mandi Air Dingin Malam Hari: Benarkah Bikin Paru-Paru Basah? Ini Faktanya
in an hour

Filosofi Singkong dan Kopi: Sederhana, Murah, tapi Selalu Bikin Bahagia
in an hour

Kapan Waktu Terbaik Minum Kolagen? Pagi atau Malam, Mana yang Lebih Efektif?
in an hour

Pilates: Bukan Sekadar Olahraga Estetik, Ini Manfaatnya untuk Kekuatan, Postur, dan Tubuh yang Sering Mager
in an hour

Asam Lambung dan GERD: Kenapa Hobi Ngopi, Makan Larut Malam, dan Stres Bisa Bikin Dada Terasa Terbakar?
in an hour

Bukan Cuma Soal Gatal, Kenali Alergi Telur dan Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
in an hour

Seni Menunda: Kenapa Kita Suka Jadi "Deadliner" dan Bagaimana Cara Mengatasinya
in 43 minutes

Rematik Bukan Cuma Penyakit Orang Tua, Kenali Gejalanya Sejak Muda
in 38 minutes

Ganti Gula dengan Madu dan Kurma, Benarkah Lebih Sehat? Ini yang Perlu Kamu Tahu
in 33 minutes





