Rabu, 24 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Sejarah Terasi, Bumbu Khas Indonesia yang Punya Aroma Kuat

Laila - Wednesday, 24 June 2026 | 09:15 PM

Background
Sejarah Terasi, Bumbu Khas Indonesia yang Punya Aroma Kuat

Bau yang Menyatukan Bangsa: Menelusuri Jejak Sejarah Terasi dari Cirebon hingga ke Meja Makan Kita

Bayangkan kamu lagi jalan-jalan di gang sempit siang bolong, terus tiba-tiba hidungmu menangkap aroma tajam yang menusuk kalbu. Bagi sebagian turis asing, bau itu mungkin dianggap sebagai bencana lingkungan atau tanda ada sesuatu yang membusuk. Tapi buat kita, orang Indonesia tulen, aroma itu adalah alarm alami yang bikin air liur mendadak banjir. Ya, itu bau terasi yang lagi dibakar. Baunya boleh dibilang "polusi" buat hidung yang nggak biasa, tapi kalau sudah menyentuh lidah dalam ulekan sambal, rasanya bener-bener nggak ada obat.

Terasi itu unik. Dia adalah bumbu yang punya kasta tertinggi dalam urusan "membangkitkan nafsu makan," tapi sekaligus jadi bahan yang paling sering dikucilkan karena baunya yang kelewat jujur. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran, siapa sih orang jenius (atau orang iseng) yang pertama kali punya ide buat membusukkan udang rebon, menjemurnya, menumbuknya sampai jadi pasta hitam pekat, lalu memakannya? Ternyata, sejarah terasi itu bukan cuma soal urusan dapur, tapi ada hubungannya dengan diplomasi kerajaan dan asal-usul nama sebuah kota besar di Jawa Barat.

Cirebon dan Legenda Cai Rebon

Kalau kita bicara soal asal-usul terasi, koordinat peta kita bakal langsung mengarah ke Cirebon. Legenda lokal menyebutkan kalau terasi sudah eksis sejak zaman Kerajaan Pajajaran, tepatnya sekitar abad ke-15. Tokoh utamanya adalah Pangeran Walangsungsang, putra dari Prabu Siliwangi. Alkisah, sang pangeran yang sedang membangun pemukiman di wilayah pesisir yang sekarang kita kenal sebagai Cirebon, sering banget mencari udang kecil atau rebon di laut.

Nah, saking melimpahnya hasil tangkapan rebon itu, warga setempat mulai memutar otak supaya nggak mubazir. Rebon-rebon itu ditumbuk dan difermentasi. Hasil olahan air sisa perasan rebon itu disebut "Cai Rebon" (Air Rebon). Lama-kelamaan, istilah ini konon menjadi asal-usul nama kota Cirebon. Sedangkan endapan padatnya bertransformasi menjadi apa yang sekarang kita sebut terasi. Jadi, bisa dibilang Cirebon itu adalah "Ibukota Terasi Dunia" versi kearifan lokal kita.

Yang menarik, terasi ini bukan cuma sekadar lauk orang pinggiran. Pada masanya, terasi adalah komoditas elit. Pangeran Walangsungsang kabarnya rutin mengirimkan terasi sebagai upeti kepada Kerajaan Galuh. Raja Galuh waktu itu konon sangat menyukai bumbu hitam beraroma kuat ini. Bayangkan, diplomasi antar kerajaan zaman dulu ternyata ditentukan oleh seonggok pasta udang. Kalau sekarang kita pakai diplomasi meja makan dengan menu fancy, zaman dulu cukup pakai sambal terasi sudah bisa bikin hubungan antar penguasa jadi adem ayem.



Proses Panjang di Balik Aroma "Maut"

Mungkin ada yang mikir, "Ah, paling cuma udang busuk dikasih garam." Wah, kalau kamu ngomong gitu di depan pengrajin terasi di Bangka atau Cirebon, bisa-bisa kamu disuruh pulang jalan kaki. Bikin terasi itu seni, Bung! Prosesnya nggak main-main. Dimulai dari pemilihan rebon segar, pencucian, hingga proses penjemuran di bawah terik matahari yang harus pas suhunya. Kalau kurang matahari, baunya bakal tengik nggak karuan. Kalau kelamaan, teksturnya jadi keras kayak batu kali.

Setelah dijemur, rebon ditumbuk sampai halus dan dibiarkan mengalami proses fermentasi secara alami. Di sinilah "keajaiban" sains terjadi. Bakteri baik bekerja mengubah protein udang menjadi asam amino yang menghasilkan rasa umami yang sangat dalam. Jadi, sebelum orang Jepang mempopulerkan istilah "Umami" lewat MSG, nenek moyang kita sudah lebih dulu menemukannya di dalam bongkahan terasi. Terasi itu ibarat keju biru (blue cheese) versi kearifan lokal; semakin "bau" dan semakin lama prosesnya, biasanya rasanya makin nendang.

Beda Daerah, Beda Karakter

Satu hal yang perlu kamu tahu, terasi di Indonesia itu nggak monolitik. Tiap daerah punya signature-nya masing-masing. Terasi Cirebon cenderung berwarna cokelat kehitaman dengan aroma yang sangat tajam dan tekstur yang agak kasar. Lain lagi dengan Terasi Bangka. Terasi dari pulau timah ini biasanya punya warna yang lebih kemerahan alami dan aroma yang menurut banyak foodie lebih "bersih" atau "fragrant."

Lalu ada Terasi Lombok yang sering jadi kunci utama kelezatan Plecing Kangkung. Rasanya cenderung lebih asin dan kuat. Belum lagi terasi dari daerah pesisir Jawa Timur seperti Sidoarjo atau Tuban yang punya karakter rasa berbeda lagi. Keragaman ini menunjukkan kalau terasi adalah cerminan dari kekayaan laut kita. Setiap pesisir punya jenis rebon yang beda, kadar garam yang beda, dan cara menjemur yang menyesuaikan cuaca setempat. Ini adalah bukti kalau lidah orang Indonesia itu memang sangat petualang sejak dulu.

Kenapa Kita Begitu Tergila-gila?

Jujur saja, secara logika, terasi itu aneh. Dia adalah produk fermentasi yang aromanya bisa nempel di baju, di rambut, sampai di gorden dapur selama berhari-hari. Tapi kenapa kita nggak bisa lepas dari bumbu ini? Jawabannya ada pada rasa umami tadi. Terasi adalah *flavor enhancer* alami yang nggak ada tandingannya. Dia bisa menyulap sayur asem yang tadinya biasa saja jadi luar biasa, atau bikin kangkung tumis jadi menu paling mewah sejagat raya.



Bagi anak rantau yang kuliah atau kerja di luar negeri, terasi adalah obat rindu paling ampuh. Banyak cerita mahasiswa Indonesia yang hampir didepak dari apartemennya di Eropa gara-gara nekat membakar terasi di dalam ruangan. Bagi hidung orang bule, itu bau bencana kimia. Tapi bagi si mahasiswa, itu adalah bau rumah, bau masakan ibu, dan bau tanah air yang nggak bisa digantikan oleh keju parmesan paling mahal sekalipun.

Terasi juga menjadi simbol kesederhanaan yang naik kelas. Dulu mungkin dianggap makanan rakyat jelata, tapi sekarang, sambal terasi masuk ke hotel berbintang lima dan restoran kelas atas. Dia berhasil menembus sekat-sekat sosial. Mau kamu konglomerat atau kuli bangunan, kalau sudah ketemu sambal terasi, lalapan, dan nasi hangat, pertahanan diri pasti runtuh juga.

Penutup: Menghargai Warisan yang Beraroma

Jadi, lain kali kalau kamu mencium bau terasi yang menyengat, jangan buru-buru tutup hidung dan pasang muka masam. Ingatlah kalau di balik bau itu ada sejarah panjang dari abad ke-15, ada keringat nelayan rebon di pinggir pantai, dan ada kearifan lokal yang sudah bertahan ratusan tahun menghadapi gempuran bumbu-bumbu instan modern.

Terasi adalah bukti kalau Indonesia itu kaya akan rasa. Dia mengajarkan kita kalau sesuatu yang terlihat (atau tercium) kurang menyenangkan di awal, ternyata bisa menyimpan kelezatan luar biasa kalau diolah dengan kesabaran dan cara yang benar. Lagipula, hidup tanpa terasi itu kayak nonton konser musik tanpa vokalis; tetap ada bunyinya, tapi hambar dan nggak punya jiwa. Jadi, yuk, kita ulek sambalnya sekarang!