Sabtu, 2 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mood Langsung Naik Setelah Makan Manis? Ternyata Ini Penjelasannya

Tata - Saturday, 02 May 2026 | 09:48 AM

Background
Mood Langsung Naik Setelah Makan Manis? Ternyata Ini Penjelasannya

Banyak orang cenderung mencari makanan atau minuman manis saat sedang merasa lelah atau suasana hati menurun. Cokelat, kue, kopi susu, hingga minuman boba sering dianggap sebagai "penolong" instan untuk memperbaiki mood. Kebiasaan ini bukan sekadar preferensi, melainkan berkaitan dengan proses biologis di dalam tubuh, terutama di otak.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rasa manis mampu mengaktifkan sistem reward di otak, yaitu bagian yang berhubungan dengan rasa senang, motivasi, dan keinginan untuk mengulangi suatu perilaku. Inilah alasan mengapa makanan manis terasa memuaskan.

Secara alami, manusia memang memiliki kecenderungan menyukai rasa manis karena menjadi penanda adanya sumber energi cepat, yaitu gula. Ketika lidah mendeteksi rasa manis, otak langsung memberikan respons positif yang memicu perasaan senang, dorongan untuk mengonsumsi kembali, serta mengaitkannya dengan rasa nyaman.

Selain itu, konsumsi gula juga memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam menciptakan rasa bahagia. Menariknya, sinyal ini tidak hanya berasal dari indera perasa, tetapi juga dari sistem pencernaan yang mengenali gula sebagai sumber energi, lalu mengirimkan sinyal ke otak untuk memperkuat efek menyenangkan tersebut.

Otak manusia bahkan memiliki pola aktivitas khusus saat merasakan kesenangan. Ketika mengonsumsi makanan manis, area otak yang berkaitan dengan rasa nikmat akan aktif dan memperkuat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang ingin diulang. Hal ini menjelaskan mengapa makanan manis sering dianggap sebagai mood booster, meskipun efeknya biasanya tidak bertahan lama.



Namun, konsumsi berlebihan dapat berdampak negatif. Sistem reward yang terus terstimulasi bisa membuat tubuh membutuhkan lebih banyak gula untuk mendapatkan efek yang sama. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memicu makan berlebih, kenaikan berat badan, hingga meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes. Oleh karena itu, penting untuk mengonsumsinya secara seimbang.