Mitos atau Fakta: Benarkah Permen Karet Bertahan 7 Tahun di Dalam Tubuh?
Laila - Saturday, 16 May 2026 | 05:45 PM


Mitos atau Fakta: Permen Karet Butuh 7 Tahun Buat Dicerna? Sini, Kita Obrolin Biar Nggak Panik Lagi
Ingat nggak sih, waktu kita masih bocah dan nggak sengaja menelan permen karet, reaksi pertama kita biasanya adalah panik setengah mati? Terus, entah dari mana asalnya, ada teman atau bahkan orang tua yang bilang dengan wajah serius, "Hati-hati lho, permen karet itu baru bisa hancur di dalam perut setelah tujuh tahun!" Waduh, denger itu rasanya kayak baru saja menelan bom waktu yang siap meledak di masa depan. Bayangin saja, kita sudah lulus SD, masuk SMP, bahkan mungkin sudah mulai naksir-naksiran, tapi si permen karet rasa stroberi itu konon masih setia nangkring di usus kita.
Narasi "tujuh tahun" ini sudah jadi legenda urban yang mendarah daging, nggak cuma di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Tapi pertanyaannya, emang iya se-ekstrim itu? Apakah lambung kita selemah itu sampai nggak bisa menaklukkan sebutir permen karet kenyal? Mari kita bedah bareng-bareng biar nggak ada lagi kegalauan massal tiap kali ada yang nggak sengaja menelan benda kenyal ini.
Apa Sih Isinya Permen Karet Itu?
Sebelum kita bahas soal nasibnya di dalam perut, kita harus tahu dulu "lawan" yang dihadapi sistem pencernaan kita. Permen karet zaman sekarang itu isinya campuran dari pemanis, perasa, pengawet, dan yang paling penting: gum base alias basis permen karet. Nah, si basis inilah yang jadi biang kerok mitos tujuh tahun itu. Dulu sekali, basis ini diambil dari getah pohon sawo (chicle). Tapi sekarang, kebanyakan pabrik menggunakan karet sintetis alias polimer yang mirip dengan bahan pembuat ban atau sol sepatu. Serius, nggak bohong.
Karena sifatnya yang elastis dan tahan banting inilah, permen karet nggak bakal hancur meski kamu kunyah berjam-jam sampai rahang pegal. Sifat sintetis ini juga yang bikin enzim-enzim di air liur kita angkat tangan. Mereka cuma bisa melarutkan gula dan perasanya saja, sementara bagian "karetnya" tetap utuh. Dari sinilah logikanya muncul: kalau dikunyah saja nggak hancur, apalagi kalau masuk ke perut?
Perjalanan Si Permen Karet di Dalam Tubuh
Oke, mari kita masuk ke skenario utamanya. Begitu permen karet itu meluncur melewati kerongkongan dan mendarat di lambung, asam lambung kita yang super kuat (asam klorida) langsung menyambutnya. Memang benar, asam lambung nggak bisa menghancurkan polimer karet tersebut. Enzim pencernaan kita juga bakal garuk-garuk kepala karena nggak punya "kunci" buat memecah struktur kimia si permen karet.
Tapi, di sinilah letak salah kaprahnya. Tubuh kita itu pintar, gaes. Pencernaan kita bukan cuma soal cairan asam yang menghancurkan makanan sampai jadi bubur. Ada mekanisme yang namanya gerakan peristaltik. Ini adalah gerakan otot saluran pencernaan yang meremas dan mendorong apa pun yang ada di dalamnya untuk terus maju ke depan. Jadi, meskipun si permen karet nggak bisa dicerna atau diserap nutrisinya, dia nggak bakal diam di situ merenungi nasib selama tujuh tahun.
Anggap saja permen karet itu seperti tamu yang nggak diundang di sebuah pesta. Karena dia nggak bisa "berbaur" dengan tamu-tamu lain (makanan yang bergizi), sistem keamanan tubuh kita bakal menggiring dia keluar lewat pintu belakang. Biasanya, dalam waktu 24 jam sampai beberapa hari, permen karet itu bakal keluar lewat BAB dengan bentuk yang—kurang lebih—masih mirip saat dia tertelan. Jadi, nggak ada tuh cerita usus tersumbat bertahun-tahun gara-gara sebutir permen karet.
Kenapa Mitos Ini Awet Banget?
Mungkin kamu bertanya, kalau memang cuma butuh beberapa hari buat keluar, kenapa mitos tujuh tahun ini awet banget kayak pengawet makanan? Jawabannya klasik: buat nakut-nakutin anak kecil. Orang tua zaman dulu (dan mungkin sampai sekarang) malas banget kalau harus ngelihat anaknya tersedak atau sembarangan menelan benda yang bukan makanan. Dengan bilang "bakal ada di perut selama 7 tahun," anak-anak bakal berpikir seribu kali buat menelan permen karet itu. Ini adalah salah satu bentuk white lie atau kebohongan putih yang tujuannya demi keselamatan.
Selain itu, memang ada kasus medis langka di mana tumpukan benda yang nggak bisa dicerna (disebut bezoar) menyumbat usus. Tapi biasanya ini terjadi pada anak-anak yang menelan permen karet dalam jumlah sangat banyak sekaligus, atau mereka punya gangguan pencernaan kronis. Kalau cuma satu butir nggak sengaja ketelan pas lagi asik ketawa, ya nggak bakal jadi masalah besar.
Kapan Kamu Harus Benar-Benar Khawatir?
Meskipun kita sudah sepakat kalau tujuh tahun itu cuma hoaks, bukan berarti kamu boleh hobi menelan permen karet ya. Menelan permen karet dalam jumlah banyak secara rutin bisa memicu sembelit atau dalam kasus ekstrem, penyumbatan usus. Gejalanya biasanya sakit perut hebat, muntah-muntah, dan nggak bisa buang angin. Kalau sudah begini, ya jangan tanya netizen, langsung lari ke dokter.
Apalagi buat balita, bahaya terbesarnya bukan soal pencernaan, tapi risiko tersedak. Saluran pernapasan mereka masih kecil banget. Jadi, jauhkan permen karet dari jangkauan anak di bawah umur yang belum paham kalau benda itu cuma buat dikunyah lalu dibuang (jangan lupa dibungkus tisu dulu ya buangnya, biar nggak nempel di sepatu orang!).
Kesimpulan: Santai Saja!
Jadi, buat kamu yang baru saja nggak sengaja menelan permen karet dan sedang panik menghitung mundur tujuh tahun ke depan, tenang saja. Nafas dalam-dalam, minum air putih yang banyak, dan jalani hidupmu seperti biasa. Tubuhmu punya sistem pembuangan yang jauh lebih efisien daripada yang kamu bayangkan. Si permen karet itu cuma lagi "touring" singkat melewati ususmu dan bakal segera check-out dalam waktu dekat.
Mitos tujuh tahun ini resmi kita pensiunkan saja. Sekarang, kita tahu kalau permen karet bukan musuh abadi sistem pencernaan, melainkan cuma tamu keras kepala yang akhirnya bakal diusir juga secara alami. Jadi, tetaplah mengunyah dengan tenang, tapi ingat: dikunyah saja ya, jangan dijadikan camilan pokok yang ditelan bulat-bulat!
Next News

Air Bumi Diduga Berasal dari Asteroid: Jejak Kosmik di Balik Segelas Air Minum
in 5 hours

Mengenal Paru-Paru: Organ Vital yang Bekerja Tanpa Henti dan Penuh Fakta Mengejutkan
in 5 hours

Mengenal Cincin Epsilon, Struktur Cincin Paling Terang di Planet Uranus
in 5 hours

Fakta Menarik tentang Cara Pohon Berkomunikasi Melalui Akar
in 5 hours

Tahukah Kamu? Saus Tomat Pernah Jadi Obat di Tahun 1830-an
in 4 hours

Mengapa Cokelat Berbahaya untuk Anjing? Ini Penjelasan Medisnya
in 4 hours

Mengungkap Misteri Rasa Asin pada Keringat dan Darah Kita
in 4 hours

Cara Potong Bawang Merah Tanpa Air Mata
in 4 hours

Kenapa Mata Wanita Lebih Sering Berkedip? Simak Penjelasannya
in 3 hours

Punya Radar Alami? Ini Alasan Kupu-Kupu Sangat Sulit Ditangkap
in 3 hours





