Jumat, 8 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mitos atau Fakta: Benarkah Air Es Bisa Bikin Berat Badan Naik?

Laila - Friday, 08 May 2026 | 02:25 PM

Background
Mitos atau Fakta: Benarkah Air Es Bisa Bikin Berat Badan Naik?

Mitos Minum Es Bikin Gendut: Antara nasehat Orang Tua dan Kenyataan Pahit yang Sebenarnya

Siapa yang nggak pernah dengar kalimat sakti ini: "Jangan sering-sering minum es, nanti perutmu buncit!" atau "Hayo, minum es terus, pantesan berat badan naik." Biasanya, kalimat ini meluncur mulus dari lisan Ibu atau Nenek saat melihat kita sedang asyik menenggak segelas air dingin di tengah cuaca Indonesia yang lagi panas-panasnya kayak simulasi neraka bocor. Kita yang ditegur biasanya cuma bisa nyengir sambil tetap lanjut minum, meskipun dalam hati ada secercah rasa khawatir, "Eh, bener nggak sih es bisa bikin gemuk?"

Mari kita bedah perkara ini secara santai tapi tetap berbobot. Sebenarnya, secara sains yang paling mendasar, air putih—baik itu suhunya panas, hangat, suam-suam kuku, atau sedingin es batu di Kutub Utara sekalipun—memiliki nilai kalori sebesar nol. Iya, nol besar. Tidak ada kandungan lemak, karbohidrat, apalagi protein di dalam bongkahan es batu murni. Jadi, secara logika, kalau kamu cuma mengunyah es batu tanpa tambahan apa-apa, kamu nggak akan jadi lebar secara ajaib dalam semalam.

Masalahnya Bukan di Esnya, Tapi di "Circle"-nya

Lantas, kenapa mitos ini begitu awet bertahan di tengah masyarakat kita? Jawabannya sebenarnya sederhana, tapi sering kita abaikan karena terlalu enak: Masalahnya bukan terletak pada es batunya, melainkan pada siapa "teman-teman" si es tersebut di dalam gelas. Jarang banget kan orang Indonesia nongkrong di kafe atau di pinggir jalan cuma pesan "es batu satu gelas"? Yang ada adalah es teh manis, es kopi susu gula aren, es cendol, es campur, boba, atau minuman kekinian lainnya yang kadar gulanya bisa bikin dokter gigi geleng-geleng kepala.

Inilah yang sering luput dari perhatian kita. Saat kita memesan segelas es teh manis di warteg, yang masuk ke tubuh kita bukan cuma air dingin yang menyegarkan, tapi juga tumpukan sendok makan gula pasir. Belum lagi kalau kita bicara soal es kopi susu kekinian yang isinya kombinasi maut antara krimer, sirup, dan gula cair. Kalori dari gula-gula inilah yang sebenarnya menumpuk jadi lemak di perut, paha, dan lengan kita. Jadi, menyalahkan es atas kenaikan berat badan itu ibarat menyalahkan piring atas kenaikan berat badan padahal yang kita makan di atas piring itu nasi padang porsi kuli.

Kenapa Minuman Dingin Terasa Lebih "Nagih"?

Ada pengamatan menarik nih. Pernah nggak kamu merasa kalau minum minuman manis dalam kondisi dingin itu jauh lebih nikmat daripada saat suhunya biasa saja? Ternyata, suhu dingin itu bisa sedikit "mematikan" sensitivitas lidah kita terhadap rasa manis yang berlebihan. Coba deh, biarkan es kopi atau es teh manismu mencair dan suhunya jadi biasa saja. Pasti rasanya jadi manis banget sampai bikin enek. Nah, karena sensasi dingin tadi menutupi rasa manis yang ekstrem, kita jadi cenderung minum lebih banyak dan lebih cepat. Tanpa sadar, asupan kalori harian kita sudah melewati batas limit cuma gara-gara kesegaran yang menipu itu.



Selain itu, ada kebiasaan psikologis yang unik. Biasanya, momen kita minum es itu dibarengi dengan makan besar atau ngemil. Jarang ada orang minum es jeruk sambil merenung sendirian tanpa ada gorengan atau seblak di depannya. Di sinilah letak jebakannya. Rasa segar dari es membantu menetralisir rasa pedas atau berminyak dari makanan, yang akhirnya membuat kita merasa "siap" untuk nambah porsi makan lagi. Efek "pembersih lidah" (palate cleanser) dari air es inilah yang secara tidak langsung membuat nafsu makan kita jadi lebih liar.

Katanya Es Bikin Lemak Membeku, Benar Nggak Sih?

Salah satu argumen yang sering dibawa-bawa kaum penganut "es itu jahat" adalah teori bahwa air dingin bisa membekukan lemak dari makanan yang baru saja kita santap di dalam perut. Bayangannya mirip kayak kita menyiram air es ke kuah bakso yang berlemak, lalu lemaknya menggumpal jadi putih-putih. Serem, ya? Tapi tenang, tubuh manusia itu bukan mangkok bakso.

Tubuh kita punya sistem pengatur suhu yang sangat canggih bernama termoregulasi. Begitu air es masuk ke kerongkongan dan sampai ke lambung, suhu air tersebut akan segera disesuaikan dengan suhu tubuh kita yang sekitar 36-37 derajat Celcius. Jadi, lemak yang kita makan nggak akan tiba-tiba jadi bongkahan es di dalam perut cuma gara-gara kita minum es teh. Justru ada teori yang menyebutkan bahwa tubuh sebenarnya membakar sedikit energi (kalori) lebih banyak untuk menghangatkan air es tersebut agar sesuai dengan suhu tubuh, meskipun jumlah pembakarannya sangat kecil dan nggak signifikan buat diet.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Kalau kamu masih ingin menikmati sensasi dingin tanpa harus dihantui rasa bersalah tiap kali timbangan geser ke kanan, ada beberapa tips yang bisa diterapkan oleh kaum mendang-mending seperti kita:

  • Ganti Menu: Mulailah bersahabat dengan es air putih (infused water dingin juga oke). Sensasinya tetap segar, tapi risikonya nol.
  • Request Less Sugar: Kalau memang harus beli minuman kekinian, jangan gengsi buat minta gulanya dikurangi drastis. Lidah itu bisa dilatih, kok. Lama-lama kamu bakal terbiasa dengan rasa yang nggak terlalu manis.
  • Perhatikan Timing: Hindari minum minuman manis dingin di malam hari saat aktivitas fisikmu sudah minimal. Kalori dari gula itu kalau nggak dipakai bakal langsung lari ke cadangan lemak.
  • Sadari Camilan Pendamping: Ingat, musuh utamanya seringkali bukan di gelas, tapi di piring kecil di samping gelasmu yang isinya bakwan atau mendoan.

es batu itu polos dan tidak berdosa dalam urusan berat badanmu yang naik. Yang harusnya kita waspadai adalah gaya hidup konsumtif kita terhadap minuman-minuman manis yang dibalut dengan embel-embel "es segar". Jadi, mulai sekarang kalau ada yang bilang es bikin gendut, kamu bisa jawab dengan santai, "Bukan esnya yang bikin gendut, tapi janji manis dia yang nggak pernah ditepati... eh, maksudnya gula di dalam esnya!"



Tetap terhidrasi, tetap sehat, dan jangan lupa bahagia, karena stres juga bisa memicu nafsu makan yang lebih gila daripada segelas es teh manis di siang bolong.