Menyikapi Semangat Puasa Lansia Tanpa Mengabaikan Kesehatan
Tata - Thursday, 12 February 2026 | 08:10 PM


Ramadan, Si Mbah, dan Dilema antara Niat Ibadah dengan Tubuh yang Tak Lagi Prima
Pernah nggak sih kalian ngelihat nenek atau kakek di rumah yang mukanya kelihatan pucat banget pas siang-siang di bulan Ramadan, tapi pas disuruh buka puasa malah ngomel? "Mbah kuat kok, Le. Eman-eman kalau bolong," katanya sambil megangin pinggiran meja buat tumpuan berdiri. Rasanya hati tuh kayak teriris-iris, ya? Di satu sisi kita bangga sama semangat ibadahnya yang nggak ada matinya, tapi di sisi lain kita takut beliau pingsan atau malah masuk rumah sakit gara-gara dehidrasi.
Persoalan puasa buat lansia ini emang sering jadi drama tahunan di banyak keluarga Indonesia. Kita yang masih muda, yang kalau sahur makannya segunung dan kalau buka minumnya es buah seember, kadang lupa kalau orang tua kita punya "mesin" yang sudah beda kapasitasnya. Metabolisme mereka nggak secepat dulu, dan cadangan energi mereka nggak seelastis kita yang kalau lemes dikit bisa langsung "healing" sambil main game.
Nah, biar nggak salah kaprah dan biar si Mbah nggak merasa berdosa terus-terusan karena nggak puasa, yuk kita obrolin pelan-pelan gimana sih sebenarnya aturan mainnya dalam Islam. Karena jujur aja, Islam itu nggak seribet yang dibayangin, kok. Agama ini punya banyak "pintu darurat" yang sah buat dilewati kalau keadaannya memang nggak memungkinkan.
Islam Itu Fleksibel, Bukan Beban
Pertama-tama, kita kudu sepakat dulu kalau Islam itu diturunkan buat jadi rahmat, bukan buat nyiksa penganutnya. Allah SWT sendiri sudah bilang di Al-Baqarah ayat 185 kalau Dia pengen kemudahan buat kita, bukan kesukaran. Jadi, kalau ada kakek atau nenek yang secara medis atau fisik sudah loyo banget—yang kalau puasa malah bikin penyakitnya makin parah—maka memaksakan diri buat puasa itu jatuhnya bukan lagi ibadah, tapi malah bisa jadi bahaya atau makruh.
Dalam khazanah fikih, ada kategori orang yang boleh nggak puasa, dan salah satunya adalah "Al-Shaykh al-Kabir". Istilah kerennya ini buat mereka yang sudah lanjut usia dan nggak kuat lagi menahan lapar dan haus yang ekstrem. Standar "nggak kuat" di sini bukan berarti manja ya, tapi emang kondisi fisik yang kalau dipaksa bisa bikin drop total atau membahayakan nyawa.
Ganti Puasanya Gimana? Pakai Qadha atau Fidyah?
Ini nih pertanyaan sejuta umat. Kalau kita yang muda bolong puasa karena ketiduran atau haid, hukumnya wajib ganti di hari lain (qadha). Tapi buat lansia yang kondisinya sudah menetap—alias kecil kemungkinan buat kembali bugar kayak umur 20-an—aturan mainnya beda. Mereka nggak wajib qadha.
Bayangin aja kalau kakek umur 80 tahun disuruh qadha puasa di bulan Syawal atau bulan lainnya, ya sama aja bohong. Fisiknya tetap sama, tetap rentan. Maka dari itu, solusinya adalah Fidyah. Fidyah itu semacam "denda" atau tebusan dalam bentuk memberi makan orang miskin. Jadi, per hari yang ditinggalkan, si Mbah wajib ngasih makan satu orang miskin.
Sederhananya gini: satu hari bolong puasa sama dengan satu porsi makan yang layak. Kalau sebulan penuh nggak puasa? Ya tinggal dikalikan 30 saja. Simpel, kan? Nggak perlu pusing mikirin kapan harus bayar hutang puasa sambil nahan lapar di hari biasa yang cuacanya lagi panas-panasnya.
Takaran Fidyah: Jangan Pelit-Pelit Amat lah!
Masalah teknis jumlah fidyah ini sering jadi perdebatan di grup WhatsApp keluarga. Ada yang bilang setengah mud, ada yang bilang satu mud. Kalau kita merujuk ke pendapat mayoritas ulama (Jumhur Ulama), satu mud itu setara dengan sekitar 675 gram atau kurang lebih 7 ons makanan pokok (beras kalau di Indonesia). Tapi, ada juga yang lebih suka memberi dalam bentuk makanan siap saji lengkap dengan lauk-pauknya.
Secara pribadi, saya lebih setuju sama pendapat yang bilang: kasihlah makanan yang setara dengan apa yang biasa kita makan sehari-hari. Kalau kita biasanya makan nasi padang pakai rendang, ya fidyahnya jangan cuma nasi bungkus isi tempe kering sama kerupuk. Esensinya kan berbagi kebahagiaan. Membayar fidyah itu bukan cuma gugur kewajiban, tapi juga cara lansia tetap "beribadah" lewat jalur sosial ketika jalur fisiknya sudah terbatas.
Boleh Nggak Sih Pakai Uang?
Dunia sudah makin digital, apa-apa tinggal transfer. Nah, boleh nggak fidyah diganti uang? Kalau menurut Mazhab Syafii yang umum dianut di Indonesia, fidyah itu musti berupa makanan pokok. Tapi, Mazhab Hanafi punya pandangan yang lebih praktis buat zaman sekarang: boleh pakai uang. Nilainya disesuaikan dengan harga satu porsi makanan yang layak di daerah tersebut.
Sekarang sudah banyak lembaga zakat resmi yang punya kalkulator fidyah. Kita tinggal klik-klik, bayar pakai QRIS, dan beres. Ini ngebantu banget buat kita yang sibuk atau nggak sempat masak besar buat dibagiin ke tetangga yang membutuhkan. Yang penting, niatnya sampai dan manfaatnya kerasa sama orang yang nerima.
Menghadapi Ego "Si Mbah" yang Tetap Pengen Puasa
Ini bagian paling menantang. Kadang, masalahnya bukan di hukum agama, tapi di perasaan si lansia itu sendiri. Banyak orang tua yang ngerasa "nggak berguna" atau "iman berkurang" kalau nggak puasa. Mereka merasa kehilangan identitas sebagai muslim yang taat.
Tugas kita sebagai yang lebih muda bukan cuma ngingetin soal fidyah, tapi juga ngasih validasi ke perasaan mereka. Bilang pelan-pelan kalau Allah itu Maha Tahu. Allah nggak bakal marah cuma karena fisik mereka sudah nggak sekuat dulu. Menjalankan keringanan (rukhsah) dari Allah itu juga bentuk ketaatan, lho.
Coba ajak mereka beribadah di jalur lain. Kalau nggak puasa, mungkin bisa lebih fokus ke tadarus, dzikir, atau dengerin ceramah di YouTube. Intinya, buat mereka tetap merasa terlibat dalam kemeriahan Ramadan tanpa harus menyiksa diri sendiri.
Kesimpulan: Sayangi Fisik, Tenangkan Hati
Jadi, buat teman-teman yang punya orang tua atau kakek-nenek yang sudah sepuh, jangan dipaksa puasa kalau memang sudah nggak memungkinkan. Hukum fidyah hadir sebagai solusi yang elegan banget dari agama kita. Ini adalah cara Allah menghargai usia senja mereka tanpa mengurangi pahala ibadah sedikitpun.
Ramadan itu soal kejujuran antara hamba dan Penciptanya. Kalau memang tubuh sudah mengirim sinyal "minta ampun", ya didengerin. Jangan sampai karena ambisi pengen puasa penuh, malah berakhir di ruang IGD. Bayar fidyah dengan ikhlas, sediakan makanan terbaik buat mereka yang membutuhkan, dan biarkan para lansia kita menikmati masa tuanya dengan tenang tanpa rasa bersalah yang menghantui. Karena pada akhirnya, ketakwaan itu letaknya di hati, bukan cuma di perut yang kosong.
Next News

Kiat Hidup Cerdas di Era Digital
16 hours ago

Mengurangi Makanan Instan: Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan di Tengah Hidup Serba Cepat
4 hours ago

Tren Buku Self-Improvement: Benar-Benar Ingin Berubah atau Sekadar Ikut Tren?
4 hours ago

Tren Jus dan Smoothie Sehat: Gaya Hidup Baru atau Sekadar Ikut FOMO?
4 hours ago

Seni Menikmati Hidup Tanpa Terburu-buru: Ketika Hidup Sederhana Justru Terasa Mewah
5 hours ago

Di Balik Kata "Sibuk": Kenapa Kita Selalu Merasa Kekurangan Waktu?
5 hours ago

Di Balik Mager dan Jajan Sembarangan: Kenapa Kebersihan Bukan Sekadar Soal Penampilan
5 hours ago

Dari Boba ke Beras Kencur: Ketika Jamu Berubah Jadi Lifestyle Anak Muda
5 hours ago

Dapur Tanpa Sampah: Cara Mudah Mengurangi Limbah Rumah Tangga
17 hours ago

12 Maret, Hari Tidur Siang Sedunia
17 hours ago





