Rabu, 15 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dulu Satu Atap, Kini Bertetangga: 6 Negara yang Punya Jejak Sejarah dengan Nusantara

Tata - Wednesday, 15 April 2026 | 09:40 AM

Background
Dulu Satu Atap, Kini Bertetangga: 6 Negara yang Punya Jejak Sejarah dengan Nusantara

Dulu Satu Atap, Sekarang Jadi Tetangga: Menilik Nasib 6 Negara yang Pernah Jadi Bagian Nusantara

Pernah nggak sih kalian kepikiran pas lagi lihat peta dunia, terus ngerasa kalau Indonesia itu luas banget? Tapi, tahu nggak, kalau kita tarik garis sejarah ke belakang, wilayah "kekuasaan" atau pengaruh nenek moyang kita itu sebenarnya jauh lebih luas dari Sabang sampai Merauke yang kita kenal sekarang. Ada beberapa negara yang kalau kita balik ke zaman Majapahit, Sriwijaya, atau bahkan awal kemerdekaan, sebenarnya punya keterikatan darah dan tanah dengan kita.

Istilahnya kayak mantan, lah. Dulu pernah satu visi, pernah bareng-bareng dalam satu bingkai "Nusantara," tapi karena dinamika politik, kolonialisme, dan takdir sejarah, mereka akhirnya milih jalan ninja masing-masing buat jadi negara berdaulat. Sekarang, setelah puluhan atau bahkan ratusan tahun pisah, gimana sih kabar mereka? Apakah mereka lebih sukses dari kita, atau malah lagi galau-galau lucu menghadapi ekonomi global?

Yuk, kita bedah satu-satu nasib para "mantan" bagian Indonesia ini dengan gaya santai sambil ngopi.

1. Timor Leste: Si Bungsu yang Memilih Mandiri

Kalau ngomongin negara yang bener-bener pernah jadi bagian resmi Republik Indonesia, Timor Leste adalah jawabannya. Dulu namanya Timor Timur, provinsi ke-27 kita. Setelah referendum yang cukup dramatis dan penuh air mata di tahun 1999, mereka akhirnya resmi lepas di tahun 2002.

Nasibnya sekarang gimana? Jujur saja, perjuangan mereka nggak gampang. Sebagai negara muda, Timor Leste masih berjuang keras buat bangun infrastruktur dan ekonomi. Mereka sangat bergantung sama hasil minyak dan gas di Celah Timor. Meski secara politik mereka sudah stabil dan hubungannya sama Indonesia malah makin akrab (nggak pakai dendam-dendaman lagi), tantangan pengangguran dan kemiskinan masih jadi PR besar buat pemerintah di Dili. Tapi hei, mereka sekarang lagi semangat banget pengen masuk ASEAN, lho!



2. Malaysia: Rival Abadi yang Pernah di Bawah Majapahit

Jangan emosi dulu pas baca ini. Kalau kita merujuk ke Kitab Negarakertagama, wilayah Malaysia (terutama Semenanjung Malaya dan sebagian Kalimantan utara) itu masuk dalam pengaruh kekuasaan Majapahit. Bahkan di era Soekarno, ada ide besar bernama "Melayu Raya" yang pengen nyatuin Indonesia dan Malaysia dalam satu negara besar.

Sekarang? Malaysia tumbuh jadi salah satu macan ekonomi di Asia Tenggara. Nasibnya bisa dibilang cukup makmur dengan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dari kita. Hubungan kita sama mereka itu unik: sering berantem soal klaim budaya atau bola, tapi sebenarnya saling butuh. Malaysia jadi tujuan utama TKI kita mencari nafkah, sementara orang Malaysia hobi banget dengerin lagu-lagu atau nonton film buatan sineas Indonesia.

3. Singapura: Si Kecil Cabe Rawit dari Tanah Temasek

Dulu banget, Singapura dikenal dengan nama Temasek. Di abad ke-14, wilayah ini merupakan daerah bawahan Majapahit. Bahkan, menurut sejarah, nama "Singapura" itu sendiri diberikan oleh Sang Nila Utama yang punya kaitan erat sama kerajaan di Sumatera.

Nasibnya sekarang? Duh, nggak usah ditanya. Singapura menjelma jadi salah satu pusat finansial terkuat di dunia. Kecil-kecil cabe rawit, meskipun luas wilayahnya nggak lebih gede dari Jakarta, tapi paspornya sakti banget dan ekonominya stabil luar biasa. Mereka sukses ngebuktiin kalau nggak punya sumber daya alam pun, kalau dikelola dengan disiplin dan otak yang encer, bisa jadi negara maju. Kadang bikin iri, ya?

4. Brunei Darussalam: Saudara Kaya di Utara Kalimantan

Sama kayak Malaysia, Brunei dulunya juga masuk dalam radar pengaruh kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Sebelum Inggris datang campur tangan, pengaruh budaya dan politik dari kerajaan di Jawa dan Sumatera terasa banget di sini. Namun, mereka memilih jalannya sendiri dan tetap menjadi kesultanan yang berdaulat.



Nasib Brunei sekarang bisa dibilang paling "santai". Berkat cadangan minyak dan gas yang melimpah, penduduknya hidup sejahtera dengan subsidi yang bikin kita melongo. Sekolah gratis, kesehatan gratis, dan pajaknya hampir nggak ada. Brunei jadi negara yang tenang, religius, dan nggak banyak gaya, tapi tabungannya nggak habis-habis.

5. Papua Nugini: Saudara Kembar yang Terpisah Garis Lurus

Secara geografis, Papua Nugini itu satu daratan sama kita. Secara budaya, orang-orang di Papua (Indonesia) dan Papua Nugini itu saudara kandung. Dulu, sebelum penjajah membagi wilayah pakai penggaris di peta, mereka adalah satu kesatuan budaya Melanesia yang erat dengan pengaruh kerajaan di Maluku.

Nasibnya sekarang gimana? Papua Nugini punya tantangan yang mirip-mirip sama wilayah timur Indonesia. Alamnya kaya luar biasa, punya tambang emas dan gas, tapi akses infrastrukturnya masih sangat menantang. Menariknya, meskipun mereka negara merdeka sendiri, hubungan perdagangan di perbatasan Skouw (Jayapura) tetap ramai. Mereka sering banget belanja ke wilayah Indonesia karena barang-barang kita dianggap lebih murah dan lengkap.

6. Filipina (Bagian Selatan): Jejak Pengaruh Kesultanan

Wilayah Mindanao dan Kepulauan Sulu di Filipina Selatan dulu punya hubungan yang sangat intim dengan Kesultanan Bolang Mongondow, Gorontalo, hingga Ternate-Tidore. Mereka berbagi budaya, bahasa, dan agama yang serupa dengan masyarakat di wilayah utara Sulawesi dan Maluku.

Sekarang, Filipina Selatan menjadi bagian penting dari negara Filipina yang terus berupaya membangun perdamaian dan otonomi. Secara ekonomi, mereka mulai berkembang pesat, meskipun kadang masih ada isu keamanan. Tapi kalau kalian main ke sana, suasananya nggak bakal kerasa kayak di luar negeri banget, karena wajah dan dialeknya masih "kita banget".



Refleksi Akhir: Beda Nasib, Tetap Bertetangga

Melihat nasib keenam wilayah ini, kita sadar kalau sejarah itu cair banget. Ada yang jadi sangat kaya kayak Singapura, ada yang hidup tenang kayak Brunei, dan ada yang masih berdarah-darah membangun negeri kayak Timor Leste. Indonesia sendiri? Ya kita tetap jadi "kakak besar" di kawasan ini yang terus berbenah.

Mungkin mereka nggak lagi jadi bagian dari administrasi Jakarta, tapi ikatan sejarah dan budaya itu nggak akan pernah bisa dihapus cuma pakai garis batas negara di peta. Pada akhirnya, mau jadi negara mana pun, yang penting adalah gimana kita bisa hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai. Toh, kalau tetangga makmur, kita juga yang tenang, kan?