Mengapa Perasaan Bisa Berubah Menjelang Menstruasi?
Laila - Wednesday, 19 August 2026 | 12:00 AM


Kenapa Sih, Rasanya Pengen Marah-Marah atau Nangis Pas Mau Mens?
Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba merasa dunia kayak mau kiamat cuma gara-gara abang ojek online salah titik jemput? Atau mungkin, kamu mendadak nangis sesenggukan nonton iklan sirup yang sebenarnya biasa aja, padahal biasanya kamu sekeras batu? Kalau iya, selamat datang di klub "Huru-Hara Hormonal" alias fase pre-menstruasi.
Fenomena ini bukan sekadar mitos atau alasan yang dibuat-buat buat malas-malasan. Fenomena ini nyata, valid, dan punya penjelasan ilmiah di baliknya. Tapi, daripada kita bahas pakai bahasa jurnal medis yang bikin pusing, mending kita bedah pelan-pelan kenapa perasaan kita bisa berubah drastis kayak roller coaster di Dufan pas mendekati "hari merah" itu.
Biang Kerok Bernama Hormon
Bayangkan tubuh kita itu sebuah kantor yang sangat sibuk. Nah, hormon adalah manajernya. Menjelang menstruasi, manajer-manajer utama kita—namanya Estrogen dan Progesteron—lagi ngalamin penurunan jabatan alias kadarnya anjlok drastis. Penurunan ini nggak main-main, dampaknya merembet ke mana-mana, terutama ke otak.
Ketika dua hormon ini turun, mereka juga narik temannya yang namanya Serotonin. Buat yang belum tahu, serotonin ini adalah zat kimia di otak yang bertugas bikin kita merasa "chill", bahagia, dan tenang. Jadi, pas serotonin ikutan drop, jangan heran kalau radar sensitivitas kamu mendadak naik 200 persen. Hal-hal kecil yang biasanya bisa kamu abaikan, tiba-tiba terasa kayak beban hidup yang beratnya minta ampun. Di titik ini, "senggol bacok" bukan sekadar kiasan, tapi realita harian.
Bukan Cuma Pikiran, Tapi Fisik Juga Ikut 'Demo'
Kita sering lupa kalau perubahan emosi itu nggak berdiri sendiri. Bayangkan, kamu lagi merasa sedih nggak jelas, eh ditambah lagi perut kram kayak diremas-remas, payudara sensitif, punggung pegal, sampai jerawat yang muncul tiba-tiba tanpa permisi. Gimana nggak emosi, coba?
Kurang tidur juga jadi bumbu penyedap di sini. Banyak perempuan yang susah tidur nyenyak alias insomnia pas mau mens karena suhu tubuh yang sedikit naik atau perut yang nggak nyaman. Pas kita kurang tidur, kontrol emosi kita makin jebol. Jadi, kalau kamu merasa pengen marah-marah, mungkin itu cara tubuh kamu bilang, "Woi, gue capek, gue sakit, tolong ngertiin!"
Stereotip "Lagi PMS Ya?" yang Bikin Makin Sebel
Satu hal yang paling bikin naik darah pas lagi di fase ini adalah pertanyaan retoris dari orang sekitar: "Lagi PMS ya? Pantesan galak." Kalimat ini rasanya kayak nyiram bensin ke api yang lagi berkobar. Bukannya bikin tenang, malah bikin kita merasa perasaan kita ini nggak valid dan cuma dianggap efek hormon belaka.
Padahal, meskipun hormon memang berpengaruh, bukan berarti apa yang kita rasain itu palsu. Kadang, PMS cuma jadi "pengeras suara" buat masalah-masalah yang selama ini kita pendam. Masalah yang biasanya kita maklumi, pas PMS jadi nggak tertahankan lagi. Jadi, PMS itu bukan alasan buat jadi jahat, tapi memang kondisi biologis yang bikin kapasitas kita buat sabar itu lagi di level paling rendah.
Gimana Caranya Biar Nggak "Gila" Sendiri?
Terus, kita harus gimana? Apa kita pasrah aja jadi tawanan hormon sebulan sekali? Tentu nggak. Ada beberapa cara biar badai emosi ini nggak sampai menghancurkan hubungan pertemanan atau bikin kerjaan berantakan:
- Validasi Perasaan Sendiri: Kalau pengen nangis, ya nangis aja. Kalau lagi ngerasa kesel, akuin aja. Jangan dilawan, tapi jangan juga dituruti semua impulsnya buat ngamuk ke orang.
- Kurangi Kafein dan Garem: Ini tips klise tapi beneran ngaruh. Kafein bisa bikin kamu makin cemas dan deg-degan, sementara garem bikin badan makin bengkak (bloating) yang bikin mood makin berantakan.
- Makan Cokelat Item: Cokelat bisa ngebantu naikin kadar serotonin secara instan. Plus, rasanya enak, dan kita butuh sesuatu yang enak di tengah penderitaan ini, kan?
- Kasih Tahu Orang Terdekat: Nggak perlu malu buat bilang ke pasangan atau sahabat, "Eh, gue lagi di fase sensitif nih, kalau gue agak aneh tolong maklumin ya." Komunikasi itu kunci biar nggak terjadi salah paham.
Menutup Fase dengan Penerimaan
Pada akhirnya, fase berubahnya perasaan menjelang menstruasi ini adalah bagian alami dari siklus reproduksi manusia. Kita bukan "gila" atau "drama queen". Kita cuma manusia yang tubuhnya lagi bekerja keras buat melakukan proses biologis yang luar biasa rumit.
Jadi, buat kamu yang sekarang lagi ngerasain pengen marah tanpa sebab atau nangis sambil makan mie instan di pojokan kamar, peluk diri sendiri virtual dari saya. Tenang, ini semua bakal lewat begitu darah mens mulai keluar. Kamu hebat sudah bisa bertahan di tengah badai hormonal ini setiap bulannya. Nggak apa-apa kalau hari ini kamu nggak produktif atau pengen rebahan seharian. Tubuhmu lagi butuh istirahat, dan perasaanmu berhak buat didengarkan.
Intinya, pahami siklusmu, kenali polanya, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri. Karena besok atau lusa, pelangi bakal muncul lagi, dan kamu bakal balik jadi dirimu yang ceria (atau setidaknya, yang nggak pengen nangis cuma gara-gara liat kucing lewat).
Next News

Murid Ngantuk di Kelas? Kenali Penyebab dan Cara Guru Mengatasinya dengan Bijak
in 4 hours

Cara Mengatasi Ulat pada Tanaman Berbuah Tanpa Merusak Ekosistem Kebun
in 4 hours

Bolehkah Makan Acar Saat Maag? Kenali Pengaruhnya pada Lambung
in 3 hours

Makanan Fermentasi: Lezat, Kaya Tradisi, tetapi Tetap Perlu Bijak Mengonsumsinya
in 3 hours

Daun Binahong: Tanaman Herbal yang Kaya Senyawa dan Masih Terus Diteliti
in 3 hours

Srikaya, Buah Lokal Manis yang Kaya Nutrisi dan Punya Banyak Manfaat
in 3 hours

Cara Mencukur Kumis dengan Benar agar Rapi dan Kulit Tetap Nyaman
in 3 hours

Telur Ayam, Bebek, atau Puyuh: Mana yang Paling Baik untuk Kesehatan?
in 3 hours

Berkebun di Rumah: Hobi Sederhana yang Mendekatkan Kita dengan Alam
5 hours ago

Cara Menemukan Hobi yang Benar-Benar Sesuai dengan Minat
5 hours ago





