Senin, 24 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Makanan Fermentasi: Lezat, Kaya Tradisi, tetapi Tetap Perlu Bijak Mengonsumsinya

Tata - Monday, 24 August 2026 | 08:15 PM

Background
Makanan Fermentasi: Lezat, Kaya Tradisi, tetapi Tetap Perlu Bijak Mengonsumsinya

Akrab dengan yang 'Busuk': Sisi Asik dan Risiko di Balik Makanan Fermentasi

Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong di warung atau kafe, terus tiba-tiba nyium aroma asem-asem seger yang khas? Entah itu dari sepiring tempe goreng yang masih anget, semangkuk kimchi yang warnanya merah membara, atau segelas kombucha yang katanya minuman kaum 'skincare dari dalam'. Kalau dipikir-pikir pake logika sederhana, sebenernya makanan fermentasi itu adalah makanan yang sengaja kita biarkan "membusuk" dalam tanda kutip. Tapi anehnya, bukannya bikin keracunan, proses pembusukan yang terkontrol ini malah bikin rasa makanan jadi naik kelas dan punya manfaat kesehatan yang nggak main-main.

Dunia kuliner kita emang ajaib. Kita rela nunggu berhari-hari cuma buat nungguin kedelai ditumbuhi jamur putih biar jadi tempe, atau nungguin kol di dalem toples jadi asem gara-gara bakteri. Tren makanan fermentasi ini emang lagi naik daun lagi, apalagi sejak gelombang K-Pop bawa kimchi ke meja makan orang Indonesia, atau kaum gaya hidup sehat yang hobi banget nge-post foto sourdough bread di Instagram. Tapi, di balik semua tren dan rasa enaknya, ada baiknya kita kenalan lebih deket: apa sih yang sebenernya terjadi di dalem toples itu? Apakah semuanya beneran sehat, atau ada jebakan Batman-nya?

Kenapa Fermentasi Itu Bisa Jadi 'Magic'?

Secara teknis, fermentasi itu adalah proses di mana mikroorganisme kayak bakteri, ragi, atau jamur memecah komponen makanan (kayak gula atau pati) jadi zat lain kayak alkohol atau asam. Nah, asam inilah yang bikin makanan jadi awet secara alami dan punya rasa yang unik. Bayangin aja, tanpa fermentasi, hidup kita mungkin bakal ngebosenin banget. Nggak ada keju, nggak ada yoghurt, nggak ada kecap, dan yang paling sedih, nggak ada tempe penyet.

Manfaat utamanya yang paling diagung-agungkan orang kesehatan adalah soal probiotik. Probiotik ini adalah pasukan bakteri baik yang bakal masuk ke usus kamu dan 'berperang' lawan bakteri jahat. Katanya sih, usus itu adalah otak kedua manusia. Kalau usus kamu happy karena dapet asupan probiotik dari yogurt atau kefir, mood kamu juga biasanya bakal ikutan stabil. Jadi kalau kamu lagi ngerasa gampang uring-uringan, mungkin usus kamu lagi kurang asupan bakteri baik, bukan cuma karena saldo ATM yang menipis.

Selain itu, fermentasi bikin makanan jadi lebih gampang dicerna. Contoh paling gampang ya kedelai. Kalau kamu makan kedelai rebus gitu aja, perut mungkin bakal kerasa kembung karena ada zat anti-nutrisi di dalamnya. Tapi begitu dia jadi tempe, si jamur Rhizopus udah 'masakin' dulu proteinnya buat kamu, jadi perut kamu nggak perlu kerja keras bagai kuda buat nyerap nutrisinya.



Sisi Terang: Dari Pencernaan Sampai Kulit Glowing

Banyak yang bilang kalau rutin makan makanan fermentasi itu rahasia awet muda. Sebenarnya ada benernya juga. Makanan fermentasi kaya akan antioksidan yang bisa lawan radikal bebas. Selain itu, hubungan antara usus dan kulit itu nyata banget, gaes. Kalau pencernaan lancar karena rajin makan kimchi atau acar, racun-racun di tubuh keluar dengan bener, ujung-ujungnya kulit jadi nggak gampang jerawatan dan kelihatan lebih seger.

Terus buat kamu yang lagi diet, makanan fermentasi ini bisa jadi sahabat karib. Bakteri baik di dalamnya ngebantu metabolisme tubuh jadi lebih efisien. Belum lagi rasanya yang tajam dan kuat biasanya bikin kita cepet ngerasa puas pas makan, jadi nggak ada tuh ceritanya kalap nambah nasi tiga piring gara-gara lauknya kurang nendang.

Sisi Gelap: Jangan Sampai 'Kebablasan'

Tapi, jangan langsung telan mentah-mentah semua info bagusnya ya. Ada sisi lain yang perlu kita waspadai. Namanya juga melibatkan bakteri, kalau prosesnya nggak higienis atau dilakukan sembarangan, yang tumbuh bukannya bakteri baik, malah bakteri jahat yang bikin diare. Ini sering terjadi kalau kita coba-coba bikin fermentasi sendiri di rumah tapi nggak ngerti standar kebersihannya.

Satu hal yang sering dilupain adalah kandungan garam. Kimchi, acar, atau sawi asin itu biasanya pake garam dalam jumlah yang lumayan banyak buat proses pengawetannya. Buat kamu yang punya riwayat darah tinggi atau gampang bengkak (water retention), makan makanan fermentasi yang asinnya pol-polan ini harus dikontrol banget. Jangan sampai niatnya mau sehat lewat jalur usus, eh malah tensi naik ke ubun-ubun.

Terus, ada juga kondisi yang namanya intoleransi histamin. Beberapa orang kalau makan makanan fermentasi malah ngerasa pusing, gatal-gatal, atau hidung tersumbat. Itu karena proses fermentasi secara alami menghasilkan histamin. Jadi kalau setelah minum kombucha kamu ngerasa kayak lagi alergi, bisa jadi tubuh kamu emang nggak cocok sama kadar histamin yang tinggi.



Buat yang perutnya sensitif, makan makanan fermentasi terlalu banyak sekaligus itu ibarat masukin bom ke dalam perut. Bakteri-bakteri itu bakal melakukan 'pesta' di usus kamu yang bikin produksi gas jadi berlebihan. Hasilnya? Perut kembung, sering kentut, atau malah mules yang nggak ketulungan. Jadi, kuncinya adalah bertahap. Mulai dari porsi kecil dulu, kasih waktu usus kamu buat kenalan sama penghuni barunya.

Kesimpulan: Keseimbangan Adalah Koentji

Pada akhirnya, makanan fermentasi itu kayak hubungan asmara: kalau porsinya pas bakal bikin bahagia, tapi kalau berlebihan atau caranya salah malah bisa bikin sakit hati (dan sakit perut). Indonesia itu surga makanan fermentasi. Kita punya tempe, oncom, tape singkong, tape ketan, sampai dadih dari Sumatera Barat. Kita nggak perlu mahal-mahal beli produk impor kalau cuma mau dapet manfaat probiotik.

Saran saya, nikmatilah makanan fermentasi sebagai bagian dari variasi menu harian, bukan sebagai obat ajaib yang dimakan sekarung sekaligus. Pastikan kamu beli dari sumber yang terpercaya atau kalau bikin sendiri, pastikan semua alatnya steril sebersih hati kamu pas lagi lebaran. Jangan takut sama bau asemnya, karena di balik aroma yang 'menantang' itu, ada jutaan mikroba yang siap bikin tubuh kamu lebih kuat menghadapi kenyataan hidup yang kadang lebih pahit dari jamu. Jadi, sudahkah kamu makan tempe hari ini?