Sabtu, 27 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Pelangi Memiliki Tujuh Warna?

Laila - Saturday, 27 June 2026 | 11:20 AM

Background
Mengapa Pelangi Memiliki Tujuh Warna?

Misteri di Balik Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U: Kenapa Pelangi Harus Tujuh Warna Sih?

Pernah nggak sih lo lagi asyik nongkrong di teras sehabis hujan, bau tanah basah alias petrichor lagi kencang-kencangnya, terus tiba-tiba di langit muncul lengkungan warna-warni yang cakep banget? Ya, itulah pelangi. Biasanya, refleks pertama kita adalah ngambil HP, foto, terus upload ke Instagram Story pakai lagu indie yang vibes-nya senja banget. Tapi, pernah nggak lo kepikiran, kenapa sih dari dulu kita dicekokin kalau pelangi itu warnanya ada tujuh? Kenapa nggak lima, sepuluh, atau bahkan cuma satu warna kayak perasaan lo ke gebetan yang nggak kunjung peka?

Dari zaman kita masih ingusan di TK, kita udah hapal luar kepala singkatan legendaris: Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U (Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu). Seolah-olah itu adalah hukum alam yang nggak bisa diganggu gugat. Tapi kalau lo perhatiin bener-bener pas pelangi muncul, garis pemisahnya tuh nggak pernah tegas. Semuanya kayak nyampur gitu aja, kayak gradasi filter di aplikasi edit foto. Nah, biar lo ada bahan obrolan pas lagi deep talk sama temen, yuk kita bongkar kenapa angka tujuh ini jadi angka keramat buat pelangi.

Ulah Isaac Newton yang Agak 'Cocoklogi'

Percaya atau nggak, biang kerok dari angka tujuh ini adalah Sir Isaac Newton. Iya, orang jenius yang sama yang kepalanya kejatuhan apel itu. Sekitar tahun 1660-an, Newton lagi asyik mainan prisma di kamarnya yang gelap. Dia nemuin kalau cahaya matahari yang warnanya putih itu, pas lewat prisma, ternyata pecah jadi spektrum warna. Awalnya, Newton cuma ngeliat ada lima warna utama yang jelas banget: merah, kuning, hijau, biru, sama ungu.

Terus kenapa jadi tujuh? Di sinilah sisi unik Newton muncul. Ternyata, selain ilmuwan, dia itu orangnya agak obsesif sama yang namanya harmoni semesta. Newton percaya kalau alam semesta ini punya pola yang saling berhubungan. Dia ngeliat ada kemiripan antara spektrum warna sama tangga nada musik (do-re-mi-fa-sol-la-si) yang jumlahnya tujuh. Belum lagi urusan fase bulan dan hari dalam seminggu yang juga jumlahnya tujuh.

Akhirnya, biar pas dan 'estetik' secara filosofis, Newton nambahin warna Jingga (orange) dan Nila (indigo) ke dalam daftarnya. Jadi, angka tujuh itu sebenarnya lebih ke arah pilihan artistik dan filosofis daripada murni hasil observasi mata yang objektif. Jujur aja, kalau lo disuruh nyari warna Nila atau Indigo di pelangi asli tanpa bantuan alat, pasti mata lo bakal siwer sendiri kan?



Gimana Sih Pelangi Itu Terbentuk? (Versi Singkat Biar Nggak Pusing)

Secara sains, pelangi itu terjadi karena fenomena yang namanya pembiasan (refraksi), pemantulan (refleksi), dan penguraian (dispersi). Bayangin butiran air hujan itu kayak cermin sekaligus prisma kecil. Pas cahaya matahari masuk ke dalam butiran air, cahayanya dibelokkan, terus mantul di bagian belakang butiran air, dan keluar lagi sambil pecah jadi berbagai panjang gelombang.

Setiap warna punya panjang gelombang yang beda-beda. Warna merah itu yang paling panjang, makanya dia letaknya paling atas karena beloknya paling dikit. Sedangkan warna ungu itu panjang gelombangnya paling pendek, makanya dia beloknya paling tajam dan ada di posisi paling bawah. Proses ini terjadi di jutaan tetesan air secara barengan, makanya kita ngeliatnya jadi satu lengkungan raksasa di langit. Syaratnya cuma dua: harus ada matahari di belakang lo, dan harus ada hujan atau uap air di depan lo.

Sebenarnya Warnanya Ada Jutaan, Lho!

Nah, ini fakta yang mungkin bikin lo kaget. Secara teknis, warna pelangi itu nggak cuma tujuh. Pelangi itu sebenarnya adalah spektrum kontinu. Artinya, ada gradasi halus yang nggak putus-putus. Antara merah dan jingga, ada ribuan nuansa warna yang mata kita susah bedain namanya satu-satu.

Bisa dibilang, pelangi punya jutaan warna. Tapi karena otak manusia itu sukanya mengelompokkan sesuatu supaya gampang diingat, kita bikinlah kategori-kategori warna itu. Kalau lo nanya orang dari budaya yang berbeda, mungkin mereka bakal bilang jumlah warna pelangi itu beda lagi. Ada beberapa kebudayaan kuno yang cuma menyebutkan tiga atau empat warna utama di pelangi. Jadi, "tujuh warna" itu sebenarnya adalah konstruksi budaya dan sejarah yang kita warisi dari zaman Newton.

Kenapa Kita Masih Percaya Sama Angka Tujuh?

Mungkin karena angka tujuh itu terasa "pas". Secara psikologis, manusia itu suka sama pola. Mejikuhibiniu udah jadi bagian dari masa kecil kita, jadi lagu, jadi materi ujian, bahkan jadi simbol harapan di banyak tempat. Ada semacam kenyamanan saat kita bisa menamai sesuatu yang abstrak kayak cahaya.



Lagi pula, bayangin kalau kita harus nyebutin semua warna pelangi satu-satu pas lagi ngajarin anak kecil. Bisa-bisa mereka malah ketiduran duluan sebelum dengerin warna ke-seratus. Jadi, meskipun secara sains itu adalah gradasi tanpa batas, kita sepakat buat tetep pakai versi tujuh warna demi kepraktisan dan menghargai sejarah si Om Newton.

Kesimpulan: Nikmatin Aja Langitnya

Mau warnanya tujuh, sejuta, atau cuma satu pun, pelangi tetep aja jadi fenomena alam paling magis yang bisa kita tonton gratis. Di tengah hidup yang makin sibuk dan layar gadget yang makin mendominasi, ngeliat pelangi itu kayak dapet "pelukan" kecil dari alam.

Jadi, lain kali kalau lo liat pelangi, lo nggak perlu ribet-ribet nyari mana warna Nilanya. Cukup nikmatin aja momennya. Karena pada akhirnya, yang bikin pelangi itu indah bukan cuma soal berapa banyak warna yang ada di dalamnya, tapi gimana fenomena itu bisa bikin kita berhenti sejenak, narik napas dalem, dan ngerasa bersyukur masih bisa ngeliat keindahan sesederhana itu di dunia yang makin berisik ini.

Lagian, kalau pelangi cuma satu warna, namanya bukan pelangi lagi dong, tapi lampu neon jalanan. Tetep semangat cari pelangi lo masing-masing, ya!