Sabtu, 24 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Pegunungan Tinggi Lebih Sering Diselimuti Salju? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Tata - Saturday, 24 October 2026 | 09:40 AM

Background
Mengapa Pegunungan Tinggi Lebih Sering Diselimuti Salju? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pegunungan tinggi sering terlihat diselimuti salju, terutama di wilayah yang memiliki iklim dingin. Pemandangan puncak gunung berwarna putih ini bukan sekadar akibat cuaca ekstrem, melainkan berkaitan erat dengan perubahan suhu udara, ketinggian tempat, dan proses terbentuknya salju di atmosfer.

Salah satu penyebab utamanya adalah suhu udara yang semakin rendah ketika ketinggian bertambah. Secara umum, suhu di troposfer, yaitu lapisan atmosfer tempat sebagian besar fenomena cuaca berlangsung, menurun rata-rata sekitar 6,5 derajat Celsius setiap kenaikan ketinggian satu kilometer. Angka tersebut merupakan rata-rata, sehingga perubahan suhu sebenarnya dapat berbeda-beda tergantung kondisi atmosfer.

Ketika udara berada pada suhu yang cukup rendah, uap air di atmosfer dapat membentuk kristal es melalui proses pembentukan awan. Jika kristal-kristal tersebut tumbuh dan bergabung, kemudian jatuh ke permukaan dalam kondisi yang mendukung, presipitasi dapat berbentuk salju.

Selain itu, pegunungan juga memengaruhi pergerakan udara. Ketika angin membawa udara lembap menuju lereng gunung, udara tersebut terdorong naik mengikuti bentuk permukaan. Selama naik, udara mengembang dan mendingin. Proses ini dapat menyebabkan uap air mengembun, membentuk awan, dan menghasilkan hujan atau salju apabila suhu atmosfer cukup dingin.

Faktor lain yang membuat salju bertahan lebih lama di pegunungan tinggi adalah rendahnya suhu permukaan. Salju yang menumpuk tidak cepat mencair ketika suhu tetap berada di sekitar atau di bawah titik beku. Sebaliknya, pada daerah yang lebih rendah dan hangat, salju lebih mudah berubah menjadi air, sehingga lapisan putih tersebut tidak bertahan lama.



Namun, tidak semua pegunungan tinggi selalu tertutup salju. Ketersediaan uap air, pola angin, paparan sinar matahari, dan musim turut menentukan apakah salju akan turun serta bertahan di suatu wilayah. Pegunungan yang tinggi tetapi berada di daerah sangat kering, misalnya, belum tentu menerima banyak salju.

Sebaliknya, beberapa gunung di wilayah tropis juga dapat memiliki salju di bagian puncaknya apabila mencapai ketinggian yang cukup dan memiliki kondisi lingkungan yang mendukung. Contohnya adalah kawasan Pegunungan Jayawijaya di Papua, meskipun lapisan es dan saljunya mengalami tekanan akibat perubahan iklim.

Dengan demikian, pegunungan tinggi lebih sering diselimuti salju karena suhu udara yang rendah mendukung pembentukan dan mempertahankan salju. Meski demikian, ketinggian bukan satu-satunya faktor penentu. Kelembapan, pola cuaca, dan kondisi iklim setempat juga berperan penting dalam menciptakan hamparan salju di puncak gunung.