Selasa, 21 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Nostalgia Membuat Kita Bahagia?

Liaa - Monday, 06 July 2026 | 10:30 AM

Background
Mengapa Nostalgia Membuat Kita Bahagia?

Kenapa Sih Kita Suka Banget Kangen Masa Lalu?

Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling media sosial, tiba-tiba lewat video pendek yang muterin lagu band indie tahun 2010-an atau cuplikan kartun Minggu pagi yang dulu wajib ditonton sambil makan sereal? Detik itu juga, dada rasanya kayak nyess gitu. Ada perasaan anget, sedikit sedih karena masa itu sudah lewat, tapi entah kenapa bikin bibir senyum-senyum sendiri. Itulah yang kita sebut nostalgia.

Dulu, jujur aja, nostalgia itu punya reputasi buruk. Sekitar abad ke-17, seorang dokter asal Swiss namanya Johannes Hofer menganggap nostalgia sebagai penyakit mental. Katanya, orang yang terlalu sering kangen rumah atau masa lalu itu menderita semacam gangguan saraf. Tapi ya, untungnya zaman makin pinter. Sekarang, para psikolog justru sepakat kalau nostalgia itu adalah salah satu mekanisme pertahanan diri yang paling keren yang dipunya manusia.

Mesin Waktu Paling Murah di Dunia

Nostalgia itu ibarat mesin waktu paling murah yang pernah ada. Kita nggak butuh mobil DeLorean kayak di film Back to the Future, cukup denger intro lagu Peterpan atau nyium bau penghapus karet yang wangi stroberi, kita langsung "teleportasi" ke masa-masa di mana masalah paling berat cuma PR matematika atau gimana caranya dapet pinjem kaset PS2 temen.

Kenapa nostalgia bikin bahagia? Jawabannya sederhana: karena di masa lalu, semuanya terasa lebih pasti. Otak kita punya kecenderungan buat melakukan kurasi memori. Memori-memori yang buruk biasanya pelan-pelan dikikis, sementara yang manis-manis dikasih filter estetik biar makin indah. Fenomena ini namanya rosy retrospection. Kita cenderung inget bagian senengnya doang, sementara rasa pegel nunggu angkot atau dimarahin guru killer biasanya hilang ditelan bumi.

Pas kita nostalgia, otak kita ngelepasin dopamin dan oksitosin. Zat kimia ini bikin kita merasa aman dan dicintai. Di tengah hidup orang dewasa yang ruwet, penuh deadline, cicilan, dan drama kantor, nostalgia itu kayak comfort food buat jiwa kita. Dia kasih pelukan virtual yang bilang, "Eh, lo pernah kok punya hidup yang sesantai dan sebahagia itu."



Nostalgia: Obat Manjur Buat Kesepian

Sadar nggak sih, kalau kita lagi merasa kesepian atau lagi down, tiba-tiba kita jadi pengen dengerin lagu-lagu lama atau nonton film yang udah kita tonton sepuluh kali sebelumnya? Ini bukan tanpa alasan. Nostalgia itu punya fungsi sosial yang kuat banget.

Waktu kita inget masa lalu, kita nggak cuma inget kejadiannya, tapi juga orang-orangnya. Kita inget temen sebangku yang suka minjem pulpen tapi nggak pernah balik, atau cinta monyet zaman SMP yang kalau diinget sekarang malah bikin pengen ngumpet di bawah kasur saking malunya. Ingatan ini bikin kita merasa terhubung lagi sama dunia. Kita ngerasa kalau kita punya akar, punya sejarah, dan pernah jadi bagian dari sesuatu yang penting.

Makanya, nggak heran kalau "reunian" atau sekadar ngobrol di grup WhatsApp alumni itu laku keras. Topiknya ya itu-itu aja, "Inget nggak dulu pas kita..." atau "Eh, si itu sekarang apa kabar ya?". Walaupun ceritanya diulang-ulang sampai ratusan kali, kita tetep ketawa. Nostalgia jadi lem yang merekatkan hubungan kita sama orang lain, biar kita nggak merasa sendirian banget di dunia yang makin individualis ini.

Kenapa Semuanya Serba 'Retro' Sekarang?

Coba perhatiin tren belakangan ini. Industri film lagi hobi banget bikin remake atau sekuel film lama. Industri fashion balik lagi ke gaya tahun 90-an yang gombrang-gombrang itu. Bahkan kamera analog dan piringan hitam jadi barang incaran anak muda lagi. Kenapa?

Para kapitalis di luar sana tahu banget kalau nostalgia itu adalah komoditas yang mahal harganya. Mereka tahu kalau kita, para generasi yang sering disebut "rentan kena mental" ini, haus akan rasa nyaman. Membeli barang yang punya nuansa masa kecil itu kayak membeli potongan kebahagiaan yang sempat hilang. Itulah kenapa jualan barang retro itu nggak bakal ada matinya. Kita nggak cuma beli barangnya, kita beli perasaannya.



Tapi ya, ada sisi uniknya juga. Ternyata nostalgia nggak cuma buat orang tua yang kangen masa mudanya. Anak-anak Gen Z sekarang banyak yang nostalgia sama tahun 90-an, padahal mereka lahir aja belum pas zaman itu. Ini yang disebut anemoia, perasaan kangen sama masa lalu yang sebenernya nggak pernah kita alami sendiri. Mungkin karena mereka ngelihat masa itu lewat foto-foto estetik di Pinterest atau film-film lawas yang kelihatannya lebih santai daripada dunia digital yang serba cepet sekarang.

Boleh Noleh ke Belakang, Tapi Jangan Kelamaan

Nostalgia itu ibarat bumbu masak. Kalau porsinya pas, makanan jadi makin sedap. Tapi kalau kebanyakan, ya malah ngerusak rasa. Terlalu sering terjebak di masa lalu bisa bikin kita lupa kalau hidup itu jalannya ke depan, bukan mundur.

Bahaya kalau kita terus-terusan mikir "Dulu hidup gue lebih baik" sampai akhirnya kita nggak bisa nikmatin apa yang ada di depan mata. Masa lalu itu tempat buat berkunjung, bukan buat tinggal. Kita boleh sesekali dengerin lagu lawas sambil nangis bombay inget mantan, atau senyum-senyum liat album foto lama, tapi setelah itu, tarik napas dalem-dalem dan balik lagi ke realita.

Kesimpulannya, nostalgia bikin kita bahagia karena dia ngasih kita identitas. Dia ngingetin kita kalau kita udah berhasil ngelewatin banyak hal sampai bisa ada di titik sekarang. Jadi, kalau hari ini kamu ngerasa capek banget sama urusan duniawi, nggak ada salahnya kok buat "pulang" sebentar ke masa lalu lewat lagu atau tontonan favorit. Anggap aja itu charging station buat mental kamu sebelum lanjut gas lagi besok pagi.

Lagian, siapa sih yang nggak seneng diingetin kalau dulu kita pernah sehebat itu, meskipun cuma hebat dalam hal main kelereng atau jago main layangan sampai lupa mandi?



Tags