Rabu, 14 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Kita Lebih Mudah Mengingat Kesalahan daripada Pujian?

icaa - Wednesday, 14 October 2026 | 01:34 PM

Background
Mengapa Kita Lebih Mudah Mengingat Kesalahan daripada Pujian?

Pernahkah seseorang menerima banyak pujian atas hasil kerjanya, tetapi justru terus teringat pada satu kritik dari orang lain? Situasi seperti ini cukup umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun mendapat pengakuan atas hal-hal positif, satu komentar negatif terkadang terasa lebih membekas di pikiran.

Kecenderungan tersebut tidak selalu berarti seseorang terlalu sensitif atau kurang percaya diri. Ada proses psikologis yang dapat menjelaskan mengapa pengalaman tidak menyenangkan sering terasa lebih kuat dibandingkan pengalaman positif.

Salah satu penjelasannya adalah bias negativitas atau negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk memberikan perhatian dan bobot lebih besar pada informasi negatif dibandingkan informasi positif.

1. Otak Cenderung Lebih Memperhatikan Hal Negatif

Otak manusia terus memproses berbagai informasi dari lingkungan. Dalam proses tersebut, pengalaman yang dianggap mengancam, mengecewakan, atau berpotensi menimbulkan masalah dapat memperoleh perhatian lebih besar.

Secara evolusioner, kemampuan mengenali bahaya memiliki manfaat untuk bertahan hidup. Mengingat pengalaman buruk dapat membantu seseorang menghindari situasi serupa pada masa mendatang.



Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kecelakaan saat berkendara mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika berada di jalan. Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran penting karena berkaitan dengan keselamatan.

Dalam kehidupan modern, kecenderungan serupa dapat muncul ketika seseorang melakukan kesalahan di tempat kerja atau menerima kritik dari orang lain. Pikiran mungkin terus mengulang kejadian tersebut sebagai cara memahami apa yang terjadi dan mencegah kesalahan serupa.

Namun, mekanisme yang awalnya berguna untuk mengenali ancaman ini juga dapat membuat pengalaman negatif terasa lebih menonjol daripada pencapaian positif.

2. Kritik Bisa Terasa Lebih Membekas daripada Pujian

Pujian biasanya memberikan perasaan menyenangkan, tetapi kritik dapat memunculkan berbagai pertanyaan tentang kemampuan, penerimaan sosial, atau penilaian orang lain terhadap diri sendiri.

Contohnya, seorang karyawan mendapat apresiasi karena menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan baik. Namun, ketika atasannya menunjukkan satu kesalahan kecil, ia justru terus memikirkan kesalahan tersebut sepanjang hari.



Hal ini dapat terjadi karena kritik dianggap sebagai informasi yang perlu segera ditanggapi. Seseorang mungkin berusaha memahami penyebab kesalahan, memikirkan konsekuensinya, atau mencari cara agar kejadian itu tidak terulang.

Sebaliknya, pujian terkadang diterima begitu saja tanpa dipikirkan lebih lanjut. Akibatnya, komentar negatif terasa lebih kuat dan lebih mudah muncul kembali dalam ingatan.

Meski demikian, tidak semua orang mengalami pola yang sama. Pengaruh kritik dan pujian dapat berbeda bergantung pada pengalaman hidup, kondisi emosional, kepribadian, serta situasi ketika komentar tersebut diterima.

3. Pengalaman Negatif Dapat Memicu Pikiran Berulang

Kesalahan yang dianggap memalukan atau mengecewakan dapat membuat seseorang terus memikirkan kejadian tersebut. Dalam psikologi, kebiasaan memikirkan pengalaman atau masalah secara berulang dikenal sebagai rumination atau perenungan berulang.

Seseorang mungkin mengingat kembali percakapan yang sudah berlalu, membayangkan respons yang seharusnya diberikan, atau menyalahkan diri sendiri karena melakukan kesalahan.



Perenungan terkadang membantu seseorang mengevaluasi tindakannya. Namun, jika berlangsung terus-menerus tanpa menghasilkan solusi, kebiasaan ini dapat meningkatkan stres dan membuat suasana hati memburuk.

Ketika pikiran berulang berfokus pada kesalahan, seseorang juga dapat mengabaikan bukti lain yang menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal dengan baik.

Karena itu, penting membedakan antara mengevaluasi kesalahan untuk belajar dan terus menghukum diri sendiri atas kejadian yang sudah berlalu.

4. Pengalaman Masa Lalu Memengaruhi Cara Kita Menerima Kritik

Cara seseorang merespons kritik juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Orang yang sering menerima celaan, dibanding-bandingkan, atau dituntut untuk selalu sempurna mungkin menjadi lebih waspada terhadap penilaian negatif.

Dalam kondisi tersebut, kritik kecil dapat terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak cukup baik. Padahal, komentar tersebut mungkin hanya merujuk pada satu tindakan atau pekerjaan tertentu, bukan keseluruhan kemampuan maupun nilai dirinya sebagai manusia.



Sebaliknya, seseorang yang terbiasa menerima umpan balik secara sehat mungkin lebih mudah melihat kritik sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pengalaman masa lalu bukan satu-satunya faktor yang menentukan respons seseorang. Dukungan sosial, rasa aman, kondisi psikologis, dan cara menyampaikan kritik juga dapat memengaruhi bagaimana suatu komentar diterima.

5. Cara Mengurangi Kebiasaan Terus Mengingat Kesalahan

Mengingat pengalaman negatif merupakan hal yang wajar. Namun, jika kebiasaan tersebut membuat seseorang sulit menghargai diri sendiri, ada beberapa langkah yang dapat dicoba.

Pertama, pisahkan fakta dari penilaian terhadap diri sendiri. Melakukan satu kesalahan tidak berarti seseorang selalu gagal. Fokuslah pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan memberi label buruk kepada diri sendiri.

Kedua, ingat kembali bukti positif yang sering terabaikan. Jika satu kritik terus terngiang, cobalah mengingat pencapaian, usaha, dan masukan positif yang pernah diterima. Tujuannya bukan mengabaikan kritik, melainkan melihat keadaan secara lebih utuh.



Ketiga, gunakan kritik sebagai bahan evaluasi yang konkret. Tanyakan kepada diri sendiri apa yang bisa dipelajari, tindakan apa yang dapat diperbaiki, dan apakah masalah tersebut masih bisa diselesaikan.

Keempat, batasi waktu untuk merenungkan kesalahan. Setelah mengambil pelajaran yang diperlukan, alihkan perhatian pada aktivitas yang bermanfaat. Berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu mendapatkan sudut pandang yang lebih seimbang.

Terakhir, latih diri untuk menerima pujian tanpa langsung meremehkannya. Mengakui keberhasilan bukan berarti merasa paling hebat, melainkan menghargai usaha dan kemampuan yang memang dimiliki.