Apa Itu Derealisasi, Ketika Lingkungan Terasa Seperti Tidak Nyata?
Laila - Wednesday, 14 October 2026 | 09:30 AM


Pernahkah Anda merasa lingkungan di sekitar tiba-tiba tampak asing, seolah-olah sedang berada di dalam mimpi? Rumah yang biasa ditempati terasa berbeda, suara orang lain terdengar jauh, atau suasana sekitar tampak seperti sebuah adegan dalam film. Padahal, tidak ada perubahan nyata pada tempat maupun keadaan tersebut.
Pengalaman seperti ini dapat berkaitan dengan derealisasi, yaitu kondisi ketika seseorang merasa lingkungan di sekitarnya tidak nyata atau tampak berbeda dari biasanya. Pengalaman ini bisa berlangsung selama beberapa saat hingga lebih lama, bergantung pada penyebab dan kondisi yang mendasarinya.
Derealisasi dapat terasa menakutkan, terutama bagi orang yang baru pertama kali mengalaminya. Namun, sensasi lingkungan yang terasa tidak nyata tidak otomatis berarti seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan. Banyak orang yang mengalami derealisasi tetap menyadari bahwa perasaan tersebut merupakan pengalaman subjektif, bukan perubahan nyata pada lingkungan.
Apa Itu Derealisasi?
Derealisasi merupakan pengalaman ketika seseorang merasa dunia di sekitarnya seperti tidak nyata, berkabut, jauh, atau asing. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang merasakan lingkungan, termasuk orang-orang, benda, suara, dan suasana di sekitarnya.
Sebagai contoh, seseorang mungkin sedang berjalan di tempat yang sudah dikenalnya, tetapi tiba-tiba merasa seolah-olah tempat tersebut bukan lingkungan yang sebenarnya. Wajah orang yang dikenal bisa terasa asing, sedangkan suara di sekitarnya terdengar seperti berasal dari kejauhan.
Derealisasi berbeda dari depersonalisasi. Pada derealisasi, lingkungan luar terasa tidak nyata. Sementara itu, depersonalisasi membuat seseorang merasa terpisah dari dirinya sendiri, seperti sedang mengamati tubuh, pikiran, atau tindakannya dari luar.
Kedua pengalaman tersebut dapat terjadi secara bersamaan. Jika berlangsung berulang, menimbulkan tekanan yang berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Apa Saja Gejala Derealisasi?
Gejala derealisasi dapat berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya merasakan perubahan persepsi secara singkat, sedangkan sebagian lainnya mengalami perasaan asing yang lebih kuat.
Beberapa pengalaman yang dapat muncul meliputi:
- Lingkungan terasa seperti mimpi. Seseorang merasa keadaan di sekitarnya tidak nyata, seolah-olah sedang berada dalam mimpi atau menonton film.
- Benda dan tempat terasa asing. Ruangan, jalan, rumah, atau benda yang biasanya dikenal dapat terlihat berbeda meskipun sebenarnya tidak mengalami perubahan.
- Suara terasa jauh atau tidak biasa. Percakapan orang lain mungkin terdengar seperti teredam, jauh, atau kurang nyata.
- Persepsi terhadap lingkungan berubah. Sebagian orang merasa jarak, kedalaman, ukuran, atau suasana lingkungan tampak berbeda dari biasanya.
- Muncul kebingungan dan kecemasan. Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang khawatir, takut kehilangan kendali, atau bertanya-tanya mengenai apa yang sedang terjadi.
Gejala-gejala ini tidak selalu menunjukkan gangguan mental tertentu. Pengalaman serupa juga dapat terjadi dalam kondisi sementara, misalnya ketika seseorang mengalami tekanan emosional yang tinggi atau kurang tidur.
Mengapa Derealisasi Bisa Terjadi?
Derealisasi tidak memiliki satu penyebab tunggal. Kondisi ini dapat muncul sebagai respons terhadap stres atau berkaitan dengan gangguan psikologis maupun kondisi medis tertentu.
1. Stres dan Tekanan Emosional
Tekanan yang berat dapat memengaruhi cara seseorang merasakan dan merespons lingkungan. Ketika menghadapi masalah pekerjaan, konflik keluarga, atau situasi yang menimbulkan ketakutan, sebagian orang dapat mengalami perubahan persepsi sementara.
Dalam kondisi tertentu, pengalaman derealisasi diduga berkaitan dengan respons otak terhadap tekanan emosional. Namun, mekanisme yang mendasarinya belum sepenuhnya dipahami.
2. Gangguan Kecemasan dan Serangan Panik
Derealisasi dapat muncul bersamaan dengan kecemasan yang intens atau serangan panik. Ketika tubuh mengalami kecemasan tinggi, seseorang bisa merasakan jantung berdebar, napas cepat, pusing, dan sensasi lingkungan yang terasa tidak nyata.
Pengalaman tersebut terkadang membuat kecemasan semakin meningkat. Seseorang mungkin takut bahwa dirinya akan kehilangan kendali, padahal sensasi tersebut dapat menjadi bagian dari respons terhadap kecemasan.
3. Pengalaman Traumatis
Pengalaman yang sangat menakutkan atau menyakitkan dapat berkaitan dengan munculnya gejala disosiatif, termasuk derealisasi. Pada sebagian orang, pengalaman ini dapat terjadi ketika menghadapi situasi yang mengingatkan pada peristiwa traumatis.
Namun, tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami derealisasi. Respons terhadap pengalaman traumatis berbeda-beda, bergantung pada banyak faktor.
4. Kurang Tidur dan Kelelahan
Kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, dan persepsi seseorang terhadap lingkungan. Ketika tubuh mengalami kelelahan berat, sebagian orang dapat merasa linglung, sulit fokus, atau mengalami sensasi lingkungan yang terasa asing.
Meski demikian, derealisasi yang berulang atau berkepanjangan tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai akibat kurang tidur tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain.
5. Kondisi Medis dan Penggunaan Zat Tertentu
Pengalaman yang menyerupai derealisasi juga dapat berkaitan dengan kondisi neurologis, efek obat tertentu, atau penggunaan zat psikoaktif. Karena itu, pemeriksaan medis dapat diperlukan, terutama jika gejala baru muncul, disertai keluhan fisik lain, atau terjadi tanpa pemicu yang jelas.
Apakah Derealisasi Berbahaya?
Derealisasi tidak selalu menandakan kondisi yang berbahaya. Pada sebagian orang, sensasi tersebut muncul sesaat ketika mengalami stres atau kelelahan dan kemudian menghilang.
Namun, jika pengalaman berlangsung berulang, sulit dikendalikan, atau menimbulkan gangguan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga profesional diperlukan. Derealisasi yang menetap dan menyebabkan tekanan berat dapat menjadi bagian dari gangguan depersonalisasi-derealisasi, tetapi diagnosis tersebut memerlukan evaluasi klinis.
Penting juga untuk memperhatikan gejala yang menyertai. Jika perasaan lingkungan tidak nyata muncul mendadak bersama kebingungan berat, kelemahan pada satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, kejang, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis karena gejala tersebut dapat menandakan keadaan darurat.
Bagaimana Cara Mengatasi Derealisasi?
Cara penanganan derealisasi bergantung pada penyebab, frekuensi, dan tingkat keparahan gejalanya. Jika sensasi muncul ketika sedang cemas, beberapa langkah sederhana dapat membantu seseorang kembali memusatkan perhatian pada keadaan saat ini.
1. Melakukan Teknik Grounding
Teknik grounding membantu seseorang memusatkan perhatian pada lingkungan nyata melalui indra. Misalnya, menyebutkan lima benda yang terlihat, merasakan telapak kaki menyentuh lantai, atau memperhatikan suara yang terdengar di sekitar.
Cara ini dapat membantu mengarahkan perhatian dari sensasi yang mengganggu menuju keadaan saat ini. Namun, hasilnya dapat berbeda pada setiap orang.
2. Mengatur Pernapasan secara Perlahan
Jika derealisasi muncul bersamaan dengan kecemasan, cobalah bernapas secara perlahan dan teratur tanpa memaksakan tarikan napas yang terlalu dalam. Tujuannya adalah membantu tubuh menjadi lebih tenang dan mengurangi ketegangan yang menyertai pengalaman tersebut.
3. Menjaga Pola Tidur dan Mengelola Stres
Tidur yang cukup, aktivitas fisik teratur, dan waktu istirahat yang memadai dapat membantu menjaga kondisi tubuh dan pikiran. Mengurangi konsumsi kafein jika memicu kecemasan serta menghindari zat psikoaktif juga dapat menjadi langkah yang bermanfaat.
4. Berkonsultasi dengan Tenaga Profesional
Jika derealisasi sering terjadi atau mengganggu aktivitas, berkonsultasilah dengan psikolog, psikiater, atau dokter. Tenaga profesional dapat membantu mengevaluasi kemungkinan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Psikoterapi dapat digunakan untuk membantu seseorang memahami pemicu, mengelola kecemasan, dan menghadapi pengalaman yang mengganggu. Penanganan dapat berbeda sesuai kondisi masing-masing individu.
Kesimpulan
Derealisasi merupakan pengalaman ketika lingkungan di sekitar terasa tidak nyata, asing, atau seperti berada dalam mimpi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan stres, kecemasan, pengalaman traumatis, kurang tidur, maupun faktor medis tertentu.
Meskipun dapat muncul sementara, derealisasi yang berulang atau mengganggu kehidupan sehari-hari sebaiknya tidak diabaikan. Mengenali gejala, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mencari bantuan profesional bila diperlukan dapat membantu seseorang memahami dan mengelola pengalaman tersebut.
Next News

Toxoplasma dan Kucing: Bagaimana Parasit Ini Bisa Menular ke Manusia?
in 5 hours

Progeria Membuat Tubuh Mengalami Penuaan Dini, Bagaimana Kondisi Ini Terjadi?
in 5 hours

Gangguan Kecemasan Tidak Selalu Terlihat dari Luar, Ini Tanda yang Perlu Dikenali
in 5 hours

Mengenal Fobia Lubang Kecil yang Bisa Memicu Rasa Jijik atau Tidak Nyaman
in 5 hours

Kebiasaan Membayangkan Skenario Terburuk Bisa Menguras Energi Mental
in 5 hours

Virus Nipah Menjadi Perhatian Dunia, Kenali Cara Penularan dan Gejalanya
in 5 hours

Sindrom Alice in Wonderland Membuat Ukuran Benda Terlihat Berubah, Apa Penyebabnya?
in 5 hours

Trauma Masa Kecil Bisa Terbawa hingga Dewasa, Apa Dampaknya bagi Kehidupan?
in 5 hours

Mengapa Pakaian Berwarna Hitam Lebih Cepat Terasa Panas di Bawah Matahari?
7 hours ago

Mengapa Suara Hujan Membuat Sebagian Orang Lebih Mudah Tidur?
7 hours ago





