Mengapa Gempa di Laut Bisa Memicu Tsunami? Begini Prosesnya
Liaa - Sunday, 30 August 2026 | 06:29 AM


Pernah bertanya-tanya mengapa gempa yang terjadi di laut bisa menyebabkan tsunami? Ketika gempa mengguncang dasar laut, tidak semua kejadian otomatis menghasilkan tsunami. Ada kondisi tertentu yang membuat pergerakan dasar laut dapat mengganggu massa air di atasnya.
Proses tersebut kemudian dapat menghasilkan gelombang yang bergerak sangat jauh hingga mencapai wilayah pesisir.
Gempa Bawah Laut Tidak Selalu Menyebabkan Tsunami
Hal pertama yang perlu diketahui adalah tidak semua gempa di laut memicu tsunami.
Tsunami lebih mungkin terjadi ketika gempa memiliki kekuatan cukup besar, pusat gempa berada di bawah laut atau dekat wilayah laut, serta menyebabkan pergeseran dasar laut secara vertikal.
Jika gempa hanya menyebabkan pergeseran mendatar tanpa mengubah posisi dasar laut secara signifikan, kemungkinan menghasilkan tsunami biasanya lebih kecil.
Bagaimana Proses Tsunami Dimulai?
Bayangkan permukaan dasar laut seperti lantai di bawah sebuah bak air.
Ketika lantai tersebut tiba-tiba terangkat atau turun, air di atasnya ikut terdorong. Dalam kondisi gempa bawah laut, perubahan dasar laut yang mendadak dapat memindahkan kolom air dalam jumlah sangat besar.
Air yang terdorong tersebut kemudian menyebarkan energi ke berbagai arah dalam bentuk gelombang.
Inilah awal terbentuknya tsunami.
Gelombang Bergerak Sangat Cepat di Laut Dalam
Di tengah laut, tsunami bisa terlihat berbeda dari bayangan banyak orang. Gelombangnya dapat memiliki ketinggian yang relatif rendah sehingga sulit dikenali oleh kapal yang berada di laut dalam.
Namun, kecepatannya dapat sangat tinggi dan bergantung pada kedalaman air. Semakin dalam laut, gelombang tsunami dapat bergerak semakin cepat.
Gelombang tersebut kemudian membawa energi dalam jumlah besar menuju wilayah pesisir.
Mengapa Tsunami Bisa Menjadi Lebih Tinggi di Pantai?
Ketika tsunami memasuki perairan yang semakin dangkal, kecepatannya berkurang.
Energi gelombang kemudian menyebabkan air terdorong ke arah daratan dan ketinggian gelombang dapat meningkat. Proses ini dikenal sebagai shoaling.
Bentuk garis pantai, kedalaman laut, teluk, dan kondisi dasar laut juga dapat memengaruhi tinggi serta pola gelombang ketika mencapai daratan.
Karena itu, dampak tsunami dapat berbeda antara satu wilayah pesisir dengan wilayah lainnya.
Tsunami Bisa Terdiri dari Beberapa Gelombang
Tsunami bukan selalu satu gelombang besar yang datang sekali kemudian selesai.
Serangkaian gelombang dapat tiba secara berurutan dengan jarak waktu tertentu. Bahkan, gelombang berikutnya dapat lebih besar atau lebih berbahaya daripada gelombang pertama.
Karena itu, setelah tsunami terjadi, masyarakat tidak boleh langsung kembali ke pantai hanya karena gelombang pertama sudah berlalu.
Apa Hubungannya dengan Zona Subduksi?
Banyak gempa besar yang berpotensi memicu tsunami terjadi di wilayah zona subduksi.
Di zona ini, satu lempeng tektonik bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Tekanan dapat terakumulasi selama waktu yang sangat panjang.
Ketika energi tersebut dilepaskan melalui gempa besar dan dasar laut mengalami perubahan posisi, air laut di atasnya dapat terdorong sehingga memicu tsunami.
Indonesia sendiri berada di kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi sehingga sejumlah wilayah pesisir memiliki risiko gempa dan tsunami.
Bagaimana Mengenali Potensi Tsunami?
Masyarakat pesisir perlu mengetahui tanda-tanda alami yang dapat menjadi peringatan.
Salah satunya adalah gempa kuat atau gempa yang berlangsung cukup lama. Jika sedang berada di wilayah pantai dan merasakan kondisi tersebut, segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sesuai jalur evakuasi.
Perubahan air laut yang tidak biasa, seperti air laut tiba-tiba surut jauh, juga dapat menjadi salah satu tanda tsunami. Namun, jangan menunggu air surut untuk mulai menyelamatkan diri.
Jika ada peringatan tsunami dari lembaga resmi seperti BMKG, segera ikuti arahan evakuasi.
Next News

Mengapa Sudut Kamar Tidur Bisa Berjamur meski Tidak Terkena Air Hujan?
in 6 hours

Meletakkan HP di Dekat Tempat Tidur, Apakah Ada Hal yang Perlu Diperhatikan?
in 6 hours

Meletakkan Cermin di Ruang Tamu Bisa Memberikan Ilusi Ruangan Lebih Luas
in 6 hours

Keramik Kamar Mandi Terasa Licin, Bukan Hanya karena Air
in 5 hours

Mengapa Tubuh Terasa Berat saat Baru Bangun dari Tempat Tidur?
in 5 hours

Mengapa Sebagian Orang Lebih Mudah Bangun Pagi daripada yang Lain?
in 5 hours

Tidur dengan Kamar Terlalu Terang Bisa Memengaruhi Kualitas Istirahat
in 5 hours

Mengapa Gigi Terasa Ngilu saat Mengonsumsi Minuman Dingin?
in 4 hours

Menggunakan Parfum di Kulit dan Pakaian Bisa Menghasilkan Aroma Berbeda
in 4 hours

Mengapa Kulit Bisa Terasa Ketarik setelah Mencuci Wajah?
in 4 hours





