Minggu, 1 November 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Arang Bisa Menghasilkan Panas untuk Memasak? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Tata - Monday, 19 October 2026 | 06:35 PM

Background
Mengapa Arang Bisa Menghasilkan Panas untuk Memasak? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Arang sudah lama digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, mulai dari memanggang ikan, membakar sate, hingga mengolah berbagai makanan tradisional. Meski terlihat sederhana, arang menyimpan energi kimia yang dapat dilepaskan ketika mengalami pembakaran.

Ketika arang dinyalakan dan mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, terjadi reaksi kimia yang menghasilkan panas. Panas inilah yang kemudian digunakan untuk memasak makanan. Proses tersebut melibatkan beberapa faktor, mulai dari kandungan karbon hingga aliran udara di sekitar bara.

1. Kandungan Karbon Menjadi Sumber Panas

Arang umumnya dibuat dengan memanaskan kayu atau bahan organik lainnya pada kondisi yang membatasi pasokan oksigen. Proses ini disebut pengarangan atau karbonisasi.

Selama proses tersebut, sebagian air dan senyawa yang mudah menguap keluar dari bahan asalnya. Material yang tersisa menjadi lebih kaya karbon, meskipun arang juga masih dapat mengandung abu, mineral, dan sejumlah senyawa lainnya.

Karbon berperan penting ketika arang dibakar. Karbon bereaksi dengan oksigen di udara dan melepaskan energi kimia dalam bentuk panas. Energi tersebut membuat bara arang mampu memanaskan alat masak dan makanan di atasnya.



2. Mengapa Arang Harus Dibakar Terlebih Dahulu?

Arang tidak langsung menghasilkan panas memasak dalam jumlah besar hanya karena diletakkan di tempat terbuka. Pembakaran perlu dimulai dengan sumber penyalaan, seperti api dari bahan pemantik yang sesuai.

Ketika arang mulai terbakar, suhu meningkat dan reaksi dengan oksigen berlangsung lebih cepat. Setelah api awal mereda, arang dapat membentuk bara yang tetap panas meskipun tidak lagi terlihat memiliki nyala api besar.

Bara inilah yang sering dimanfaatkan untuk memanggang makanan. Panas dapat berpindah dari arang ke makanan melalui radiasi, aliran udara panas, dan penghantaran panas melalui alat masak yang bersentuhan dengannya.

3. Mengapa Bara Arang Bisa Bertahan Lama?

Arang yang telah membara dapat mempertahankan panas selama bahan bakar dan pasokan oksigen masih mendukung proses pembakaran. Kecepatan arang habis dipengaruhi oleh ukuran potongan, jenis bahan asal, suhu, dan jumlah udara yang masuk.

Potongan arang yang lebih besar dapat membara cukup lama karena bagian dalamnya tidak selalu terbakar secepat permukaan. Namun, ukuran besar bukan satu-satunya faktor penentu. Jenis arang dan kondisi pembakaran juga berpengaruh.



Bara yang stabil membuat panas dapat digunakan untuk memasak secara bertahap, terutama saat memanggang makanan yang membutuhkan waktu lebih lama.

4. Apa Fungsi Oksigen dalam Pembakaran Arang?

Oksigen merupakan unsur penting dalam proses pembakaran. Ketika oksigen tersedia dalam jumlah memadai, karbon pada arang dapat bereaksi dan menghasilkan panas.

Jika aliran udara terlalu sedikit, pembakaran dapat berlangsung kurang sempurna sehingga panas yang dihasilkan berkurang dan lebih banyak karbon monoksida berpotensi terbentuk. Sebaliknya, aliran udara yang lebih besar dapat mempercepat pembakaran sehingga arang lebih cepat habis.

Karena itu, pengaturan ventilasi pada alat pemanggang berpengaruh terhadap kestabilan bara. Namun, pembakaran arang harus selalu dilakukan di tempat terbuka dengan ventilasi memadai, bukan di dalam ruangan tertutup.

5. Mengapa Arang Berbeda dari Kayu Bakar?

Kayu dan arang sama-sama dapat digunakan sebagai bahan bakar, tetapi keduanya memiliki karakteristik berbeda. Kayu masih mengandung banyak air dan senyawa mudah menguap, sedangkan arang umumnya memiliki kadar air lebih rendah dan kandungan karbon yang lebih tinggi.



Ketika kayu dibakar, panas digunakan untuk menguapkan air serta melepaskan dan membakar senyawa volatil. Pada arang, sebagian proses tersebut sudah berlangsung selama pembuatan sehingga pembakaran dapat menghasilkan bara yang relatif stabil.

Meski demikian, kemampuan menghasilkan panas tetap bergantung pada kualitas bahan bakar, kadar air, ukuran, serta kondisi penggunaan. Tidak semua arang menghasilkan panas dengan tingkat yang sama.

6. Apakah Memasak dengan Arang Memiliki Risiko?

Arang dapat menghasilkan karbon monoksida, yaitu gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini berbahaya jika terhirup dalam jumlah tinggi karena dapat menghambat kemampuan darah membawa oksigen.

Oleh karena itu, arang tidak boleh digunakan untuk memasak atau memanaskan ruangan di dalam rumah, garasi, tenda, maupun tempat tertutup lainnya. Penggunaannya harus dilakukan di luar ruangan dengan aliran udara yang baik.

Selain itu, makanan yang terlalu lama terkena api atau panas tinggi hingga hangus dapat membentuk senyawa yang tidak diinginkan. Untuk mengurangi risikonya, hindari membuat makanan terlalu gosong dan atur jarak makanan dari bara.



Kesimpulan

Arang dapat menghasilkan panas untuk memasak karena kandungan karbon di dalamnya bereaksi dengan oksigen saat pembakaran. Reaksi tersebut melepaskan energi kimia dalam bentuk panas yang dapat dimanfaatkan untuk memanggang atau memasak makanan.

Kemampuan arang mempertahankan bara dipengaruhi oleh jenis bahan, ukuran, dan pasokan udara. Walaupun praktis digunakan, pembakaran arang harus dilakukan di luar ruangan karena dapat menghasilkan karbon monoksida yang berbahaya bagi kesehatan.