Menelusuri Jejak Pantun Sebagai Hiburan Legendaris Indonesia
Liaa - Monday, 18 May 2026 | 08:55 AM


Pantun: Dari Gombalan Receh Sampe Jadi Warisan Dunia yang Enggak Ada Matinya
Pernah nggak sih kalian lagi di kondangan, terus tiba-tiba MC-nya teriak, "Masak air biar matang!" dan secara otomatis satu gedung nyaut, "Cakep!"? Kalau pernah, selamat, kalian baru saja menjadi bagian dari sebuah ritual budaya yang usianya sudah ratusan tahun tapi tetep terasa segar sampai sekarang. Itulah pantun. Sebuah seni merangkai kata yang kalau dipikir-pikir, sebenarnya adalah nenek moyang dari rap battle atau stand-up comedy yang kita kenal hari ini.
Jujur saja, dulu mungkin kita menganggap pantun itu sesuatu yang "tua" banget. Isinya cuma ada di buku teks Bahasa Indonesia yang sampulnya sudah menguning, atau cuma muncul di acara-acara adat yang kaku. Tapi coba lihat sekarang. Dari gombalan maut di TikTok sampai sindiran halus di Twitter (atau X, terserahlah apa namanya), pantun masih jadi senjata utama buat menarik perhatian. Pantun itu fleksibel, dia bisa jadi sangat romantis, sangat lucu, atau bahkan sangat pedas tanpa harus terdengar kasar.
Kenapa Sih Pantun Itu Nagih?
Secara struktur, pantun itu unik. Ada bagian yang namanya sampiran dan ada yang namanya isi. Sampiran itu biasanya dua baris awal yang nggak nyambung-nyambung amat sama maksud aslinya. "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian." Kita semua tahu lanjutannya, kan? Nah, sampiran ini fungsinya kayak setup dalam sebuah komedi. Dia membangun ritme, dia bikin telinga kita siap untuk menerima "pukulan" di dua baris terakhir.
Kekuatan pantun terletak pada rima a-b-a-b yang bikin kalimat jadi enak didengar atau ear-catching. Ada semacam kepuasan batin tersendiri pas kita berhasil menemukan kata yang rimanya pas. "Ikan hiu makan tomat, I love you so much." Receh? Banget. Tapi akui saja, kalimat itu lebih nempel di kepala daripada sekadar bilang "Aku suka kamu" yang standar dan membosankan. Inilah alasan kenapa pantun nggak pernah benar-benar mati; dia punya daya hibur yang instan dan merakyat.
Lebih dari Sekadar Rima, Ini Masalah Etika
Bagi masyarakat Melayu, Betawi, dan banyak suku lain di Nusantara, pantun bukan cuma soal keren-kerenan rima. Pantun adalah cara berkomunikasi yang elegan. Dulu, kalau mau menyindir orang, nggak sopan kalau langsung to the point. Nanti bisa berantem atau sakit hati. Maka, dipakailah pantun. Pesannya sampai, tapi dikemas dalam bentuk seni. Ini adalah bentuk kecerdasan emosional orang zaman dulu yang mungkin mulai hilang di era komentar pedas netizen zaman sekarang.
Ingat tradisi Palang Pintu di pernikahan Betawi? Itu adalah salah satu contoh nyata betapa pantun jadi syarat mutlak dalam interaksi sosial. Sebelum pengantin pria bisa masuk, ada adu pantun yang seru banget. Di sana ada drama, ada tawa, dan ada rasa saling menghormati. Pantun di sini berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang mencairkan suasana. Tanpa pantun, acara nikahan mungkin cuma bakal jadi sesi foto-foto yang garing.
UNESCO dan Pengakuan Dunia
Mungkin banyak yang belum sadar kalau sejak Desember 2020, pantun sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Ini bukan sekadar sertifikat yang dipajang di kantor kementerian, lho. Pengakuan ini membuktikan kalau dunia melihat pantun sebagai tradisi lisan yang punya nilai filosofis tinggi. Kita patut bangga, tapi jangan cuma bangga pas diklaim negara tetangga saja. Kita harus benar-benar melestarikannya dengan cara yang paling organik: ya, dengan tetap berpantun.
Menariknya, pengajuan ke UNESCO ini dilakukan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia. Ini membuktikan kalau pantun punya kekuatan untuk menyatukan. Di tengah riuh rendahnya persaingan di media sosial, pantun menjadi pengingat bahwa kita punya akar budaya yang sama. Budaya yang mengedepankan kesantunan, kecerdikan, dan tentu saja, selera humor yang tinggi.
Pantun di Era Gen Z: Dari Jarjit Sampai Konten Kreator
Kalau kalian tanya anak kecil zaman sekarang tahu pantun dari mana, jawabannya pasti bukan dari buku sekolah. Mereka tahu pantun dari Jarjit Singh, karakter di kartun Upin & Ipin yang hobi bilang "Dua tiga kura-kura." Meski kadang gantung dan nggak nyambung, karakter ini sukses bikin pantun tetap relevan di mata anak-anak. Pantun jadi dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan materi hafalan yang membosankan.
Di ranah media sosial, pantun mengalami evolusi lagi. Sekarang ada tren pantun kilat yang cuma dua baris. Singkat, padat, dan langsung "kena". Para konten kreator sering pakai pantun buat engagement. Misalnya, "Jalan-jalan ke Bekasi, jangan lupa beli terasi. Kalau postingan ini lewat di beranda, jangan lupa kasih apresiasi." Pola-pola seperti ini bikin interaksi terasa lebih personal dan nggak kaku. Kita jadi merasa lebih dekat satu sama lain melalui rima-rima sederhana tersebut.
Tetap Keren Tanpa Harus Formal
Jadi, apakah kita harus jadi ahli bahasa buat bisa berpantun? Ya nggak juga. Kunci dari pantun adalah spontanitas dan keberanian buat mencoba. Jangan takut kalau rimanya agak meleset sedikit, yang penting "nyawa" dari pantun itu ada. Pantun itu tentang kejujuran yang dibungkus dengan kreativitas. Dia adalah cara kita merayakan kekayaan bahasa Indonesia dengan cara yang paling santai.
Sebagai penutup, rasanya nggak afdol kalau artikel tentang pantun tapi nggak ditutup dengan pantun juga. Jadi, begini kira-kira:
Beli durian di pasar Minggu,
Jangan lupa bawa tali plastik.
Budaya pantun tak akan layu,
Asal kita tetap jadi bangsa yang asyik.
Gimana? Cakep nggak? Kalau belum cakep, ya setidaknya kita sudah mencoba menjaga warisan dunia ini supaya nggak hilang ditelan zaman. Yuk, mulai hari ini, coba selipkan satu atau dua pantun di obrolan tongkrongan atau di caption Instagram kamu. Selain bikin suasana makin seru, kamu juga sudah berkontribusi menjaga identitas bangsa. Gaskeun!
Next News

Self-Awareness pada Simpanse, Fakta Ilmiah yang Menarik
in 7 hours

Fakta Unik: Ulat Ternyata Punya Ribuan Otot di Tubuhnya
in 7 hours

Sidik Jari Koala Sangat Mirip dengan Sidik Jari Manusia
in 6 hours

Keindahan Planet Saturnus
in 6 hours

Lebih dari Sekadar Daun, Simak Cara Tumbuhan Saling Berinteraksi
in 6 hours

Menjelajahi Yanartas, Tempat Api Abadi yang Melegenda di Turki
in 5 hours

Sering penasaran nggak sih dengan kejadian sepele tapi bikin mikir, 'kok bisa ya?'
in 5 hours

"Jangan Ikutin Kata Otak" Padahal Kita Berpikir dengan Otak, Maksudnya Apa?
in 4 hours

Kenapa Kepala Langsung Benjol Saat Terbentur, Padahal Kulitnya Tipis?
in 4 hours

Benarkah Jika Tangan Kanan Diamputasi Kita Bisa Meninggal karena Urat Nadi Terputus?
in 4 hours





